Kamis, 30 April 2026, pukul : 00:27 WIB
Surabaya
--°C

Soft Landing

Amartya Sen berjasa dalam membangun paradigma baru dalam Pemikiran Ekonomi modern. Ia banyak mengkritik pemahaman lama bahwa pembangunan nasional merupakan agenda yang materialistik. Buah pemikirannya hingga saat ini masih hangat untuk dikaji dan menambah khazanah kekayaan intelektual dalam bidang ilmu sosial.

Sen mengkritik sistem ekonomi kapitalisme yang menciptakan keserakahan, menciptakan jurang yang lebar antara kaum kaya dan kaum miskin. Memang kapitalisme sudah menunjukkan kemampuannya yang bermanfaat dalam menggerakkan ekonomi negara-negara berkembang. Kapitalisme menggairahkan perdagangan dan industri di dalam suatu negara. Tetapi, sisi gelap kapitalisme yang tidak terkontrol akan melahirkan jurang kaya-miskin yang lebar dan kekeringan spiritual dan budaya yang membuat manusia miskin secara psikologis.

BACA JUGA: Oki dan KDRT

Karena itu, kapitalisme harus dapat dikendalikan dengan mengadopsi nilai-nilai ketimuran yang lebih berkekeluargaan. Nilai-nilai timur itu bisa muncul dari Islam, konfusianisme China, dan sintoiesme Jepang. Kapitalisme bisa menjadi motor kemakmuran ekonomi dan etika ketimuran bisa menjadi sumber kesejahteraan jiwa.

Dalam pembangunan, Sen menjadikan manusia sebagai pusat dari kebijakan pembangunan sehingga, pembangunan disebut sebagai ‘’pembangunan manusia’’ atau human development. Di Indonesia hal itu diwujudkan dalam bentuk portofolio menteri koordinator pembangunan manusia yang dijabat oleh Muhadjir Effendy. Kementerian inilah yang seharusnya merumuskan pembangunan manusia secara utuh, sesuai dengan jargon yang dulu terkenal di zaman Orde Baru, pembangunan manusia seutuhnya.

Pembangunan haruslah membebaskan masyarakat dari keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan. Sen mengganggap kebebasan sebagai sesuatu yang esensial bagi martabat manusia.  Kemampuan untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap bernilai menjadi tolok ukur kualitas kehidupan seorang manusia. Manusia harus dibangun kemampuannya untuk menjadi lebih manusiawi. Tugas pembangunan adalah membangun manusia yang lebih manusiawi.

Sen memberikan pondasi yang baik dalam welfare economics dan mengingatkan akan pentingnya mengembalikan dimensi etis dalam pembangunan. Pengingkaran terhadap hak asasi akan menjadi kendala bagi pembangunan manusia, karena jaminan akan hak asasi manusia dapat mengurangi risiko bencana sosial ekonomi yang biasa disebut sebagai crashed landing.

Pilihan sudah tersedia di depan mata. Sejarah juga sudah mengajarkan dan menunjukkan bukti-buktinya. Pilihan sepenuhnya ada di tangan rezim yang berkuasa, apakah menginginkan pendaratan yang mulus, soft landing, atau sebaliknya crashed landing. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.