Iriana Joko Widodo, The First Lady

waktu baca 5 menit
Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo (*)

KEMPALAN: Di balik pria yang sukses selalu ada wanita hebat. Ia adalah istri yang menjadi pendamping dalam perjuangan suka dan duka, sampai akhirnya laki-laki itu mencapai puncak karir tertinggi. Iriana Joko Widodo ialah tipologi wanita hebat di balik sukses laki-laki bernama Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.

Kita percaya terhadap kebenaran idiom itu, dan karena itu kita percaya bahwa Iriana ialah wanita hebat. Kalau dia bukan wanita hebat, Joko Widodo mungkin tidak akan bisa menapaki karir politik yang meteorik dan cemerlang. Iriana membuktikan kehebatannya menjadi pendamping Joko Widodo sejak menjadi pengusaha mebel, menjadi walikota Solo, menjadi gubernur DKI dua tahun, dan kemudian sejak 2014 sampai sekarang menjadi presiden Republik Indonesia.

Sejak 2014 Iriana resmi menyandang status sebagai ‘’ibu negara’’. Sebutan ini merupakan gelar tidak resmi yang digunakan di beberapa negara untuk pasangan kepala negara di sebuah pemerintah yang berbentuk presidensial. Gelar ini tidak dipakai untuk pendamping kepala negara monarki, atau kepala pemerintahan seperti perdana menteri.

Di Amerika ibu negara disebut sebagai ‘’first lady’’, atau wanita pertama. Keluarga presiden disebut sebagai ‘’the first family’’. Hal ini sebagai penghormatan kepada presiden dan keluarganya yang ditempatkan sebagai keluarga tertinggi dalam struktur sosial-politik negara.

Ibu negara atau the first lady tidak mempunya kewenangan politik apapun. Perannya lebih banyak di bidang sosial dan kemasyarakatan. Tetapi sangat banyak ibu negara yang mempunyai peran politik informal penting. Banyak di antara ibu negara itu yang terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan politik penting oleh suaminya.

Semula, orang menduga Iriana Joko Widodo termasuk kategori ibu negara yang tidak memainkan peran politik atau mempunyai pengaruh politik terhadap suaminya. Ia lebih memainkan peran ibu negara tradisional, yang tidak banyak melakukan aktivitas sosial-kemasyarakatan yang menonjol. Tetapi, belakangan terungkap bahwa ternyata Iriana berada di balik skenario politik besar untuk menjadikan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Iriana wanita sederhana yang lahir dari keluarga sederhana. Namanya pun sederhana dan terdiri dari satu kata saja. Hal itu menjadi indikator kesederhanaan keluarganya. Karena itu sikapnya pun sangat bersahaja. Ia memerankan peran sebagai ‘’kanca wingking’’, teman di belakang, seperti umumnya perempuan Jawa yang sederhana.

Tetapi, di balik kebersahaannya itu tersimpan ambisi politik yang dahsyat. Iriana bisa disebut sebagai mastermind di balik rekayasa politik terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia pasca-reformasi. Iriana diduga menjadi sutradara yang mengatur lakon semua prahara politik yang terjadi sekarang ini.

Para presiden Indonesia mempunyai pendamping istri dengan peran yang bervariasi dalam kehidupan sosial dan politik. Bung Karno mempunyai banyak istri sehingga tidak ada yang layak disebut sebagai ‘’first lady’’. Karena ada beberapa istri mungkin sebutannya ‘’second lady’’, ‘’third lady’’, dan seterusnya.

Di antara banyak istri itu Fatmawati tercatat sebagai ibu negara yang membuat sejarah, karena perannya menjahit dengan tangan bendera merah putih yang dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Selebihnya, peran Fatmawati adalah istri setia yang akhirnya harus rela dimadu.

Presiden Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang otoriter. Meski demikian, Pak Harto mungkin masuk kategori anggota ISTI alias ikatan suami takut istri. Ny. Tien Soeharto dikenal sebagai first lady yang mempunyai pengaruh politik besar dalam keputusan-keputusan strategis suaminya. Latar belakang Bu Tien sebagai perempuan ningrat keturunan keraton Solo lebih tinggi ketimbang Pak Harto yang anak petani desa. 

B.J Habibie terkenal sebagai presiden jenius dengan IQ selevel Albert Einstein. Habibie didampingi oleh first lady Hasri Ainun Besari, yang tidak memainkan peran politik, tetapi mempunyai kisah cinta yang sangat menyentuh. Roman Habibie dengan Ainun dijadikan sebagai film layar lebar ‘’Habibie-Ainun’’ yang cukup sukses.

Gus Dur presiden eksentrik, mempunyai pendamping Ny Sinta Nuriah yang sama-sama anak kiai dengan Gus Dur. Ny. Sinta Nuriah terkenal sebagai bu nyai yang juga menjadi aktivis feminisme. Bu Sinta sangat cocok mendamping Gus Dur yang sama-sama berlatar belakang aktivis.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY didampingi oleh Kristiani Herrawati atau yang lebih dikenal sebagai Ny. Ani Yudhoyono yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ny. Ani dikenal mempunyai peran penting dalam keputusan-keputusan politik yang diambil oleh SBY. Bu Ani ialah anak kandung Brigjen Sarwo Edie Wibowo yang terkenal dalam aksi pemberantasan PKI pada 1965. Dengan latar belakang militer itu Ani memainkan peran ibu negara yang sangat aktif selama SBY menjadi presiden.

Ny Tien Soeharto dan Ani Yudhoyono disebut-sebut sebagai the first lady yang punya pengaruh politik besar terhadap suaminya. Tetapi, kedua first lady itu tidak pernah diketahui terlibat dalam skenario politik lancung sebagaimana yang dilakukan oleh Iriana. Karena itu. bisa dibilang bahwa Iriana mempunyai peran politik yang jauh lebih penting ketimbang para pendahulunya.

Selama ini publik mempunyai persepsi bahwa Jokowi ialah orang baik. Persepsi ini mungkin sengaja dibentuk melalui rekayasa media untuk menciptakan impresi bahwa Jokowi can do no wrong. Jokowi tidak pernah salah. Yang menjadi tumpuan tudingan kesalahan adalah orang-orang di sekitar Jokowi. 

Yang sering ketiban awu anget ialah Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Ia seolah-olah sengaja didapuk memainkan peran the bad cop, untuk melindungi Jokowi yang selalu memainkan lakon sebagai the good cop. Setiap kali ada kebijakan kontroversial yang memicu pro dan kontra selalu ada LBP di baliknya. LBP seolah-olah selalu siap memainkan peran tangan kotor untuk menjaga supaya tangan Jokowi tetap bersih.

Mitos Jokowi orang baik dan tangannya bersih ternyata tetap bertahan sampai sekarang. Karut marut politik nasional yang terjadi belakangan ini seolah-olah didesain sebagai bukan kesalahan Jokowi. Kali ini, yang menjadi bemper dan berperan sebagai bad cop ialah Iriana Joko Widodo, The First Lady.

Dhimam Abror Djuraid, founder kempalan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *