Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 21 Apr 2022 14:43 WIB ·

Bapak Tiga Periode


					Bapak Tiga Periode Perbesar

KEMPALAN: RAJA-raja Jawa di masa lalu suka membuat gelar untuk dirinya sendiri, dengan tujuan menciptakan legitimasi kekuasaan di mata rakyat. Gelar itu bisa panjang dan menggabungkan beberapa julukan untuk memperkuat kekuasaan dan legitimasinya.

Sultan Yogyakarta sejak Perjanjian Giyanti 1775–yang memecah Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta–mempunya gelar berderet ‘’Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama Kalipatullah’’.

Sedangkan raja Surakarta mempunyai gelar sedikit lebih pendek, yaitu ‘’Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Paku Buwono Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama’’.

Gelar panjang itu untuk memberi legitimasi bahwa kekuasaan seorang raja Jawa sangat luas, mencakup kekuasaan dari langit dan kekuasaan religius untuk menjaga agama Islam. Raja Jawa mempunyai silsilah keturunan dari Nabi Muhammad Saw (sayidin). Raja juga seorang panglima tertinggi angkatan bersenjata (senapati ing alaga), dan hamba Allah yang menjadi wakilnya di bumi (kalipatullah).

Gelar itu berderet-deret dan bergengsi. Kenyataannya Kerajaan Mataram sudah tercabik-cabik oleh konflik dan kemudian meminta bantuan Belanda untuk melakukan intervensi. Setelah konflik selesai Belanda memecah Mataram menjadi dua.

BACA JUGA: Cak Imin

Legitimasi feodalistis itu masih terbawa sampai sekarang. Para pemimpin nasional suka memberikan gelar kepada dirinya sendiri untuk memperkuat legitimasinya. Hal itu terlihat pada berbagai gelar dan julukan yang diberikan kepada para presiden Indonesia.

Sebagai pemimpin modern seorang presiden mendapatkan legitimasi kekuasaan dari rakyat melalui mekanisme demokrasi pemilihan umum. Tetapi, para pemimpin tampaknya masih membutuhkan legitimasi tradisional sebagaimana yang didapat para raja yang mendapatkan kekuasaannya berdasarkan wangsit dari langit.

Akun Instagram Sekretariat Negara pada Ahad (17/4) mengeluarkan gelar atau julukan untuk enam presiden yang sudah memimpin Indonesia.  Bung Karno mendapat julukan Bapak Proklamator. Pak Harto mendapat julukan Bapak Pembangunan. B.J Habibie dijuluki Bapak Teknologi. Gus Dur mendapat julukan Bapak Pluralisme. Megawati Soekarnoputri mendapat julukan Ibu Penegak Konstitusi, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat julukan Bapak Perdamaian.

Unggahan itu menyebutkan alasan mengapa para presiden mendapat julukan itu. Bung Karno dijuluki sebagai Bapak Proklamator karena perannya membacakan proklamasi 17 Agustus 1945 bersama Bung Hatta.

Artikel ini telah dibaca 560 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Cacar Monyet

21 Mei 2022 - 17:24 WIB

Reputasi Segalanya

21 Mei 2022 - 08:00 WIB

Laut Bercerita

20 Mei 2022 - 16:15 WIB

Monas Lokal

20 Mei 2022 - 08:00 WIB

Tesla dan Esemka

19 Mei 2022 - 17:15 WIB

PKB Daun Salam

19 Mei 2022 - 08:00 WIB

Trending di Kempalpagi