Sabtu, 18 April 2026, pukul : 10:29 WIB
Surabaya
--°C

Keadaban Anies dan Bunga-bunga Tersenyum Kembali

KEMPALAN: Negeri ini, akhir-akhir ini, ibarat kumpulan bunga di taman yang layu tak lagi tersiram air hujan. Hujan serasa enggan mengucur menyapa. Jangankan mengucur deras, rintik pun tak sudi menyiraminya. Air di permukaan bumi pun mengering, tak mampu menolong bunga-bunga untuk tersungging senyum. Bunga-bunga serasa berduka. Mati tak hendak, pun hidup serasa enggan.

Itulah gambaran melihat negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa. Penghuni negeri penuh keramahan. Sungging senyum penghuninya jadi pemandangan keseharian. Tapi itu dulu. Saat ini, negeri serasa muram durja. Penghuninya jadi berkebalikan tak lagi ramah. Senyum menjadi sulit ditemui.

Penghuni negeri tak lagi hidup satu dalam harmoni. Terpecah saling mengumpat tak seharusnya. Pembelahan masyarakat terasa, itu menyesakkan-menyebalkan. Suasana saling serang hadir tak sepantasnya. Pola tampak seperti ada yang mencipta menjadi suasana saban hari.

Pola dibuat menjadi dua kutub saling berlawanan. Jika tidak pendukung rezim, maka itu kelompok oposan yang aktif mengkritisi rezim. Maka, perlu dimunculkan olok-olok dengan sebutan binatang guna menandai dua kutub terbelah. Pilihan jatuh pada cebong dan kadal gurun (kadrun). Cebong diasosiasikan pendukung rezim. Sedang kadrun (kadal gurun) diasosiasikan pada kelompok pengkritik rezim. Serang menyerang, khususnya dilakukan kalangan cebong–yang dalam perjalanan waktu perlu memakai jasa buzzerRp–mengumpat dengan narasi jahat, kotor, bahkan rasis menjijikkan terus diumbar. Tidak lagi ada kehangatan anak bangsa dihadirkan.

Terkhusus media sosial menyajikan suasana pembelahan itu terang benderang. Seolah difasilitasi, diberi tempat bersemi. Suasana menjadi jauh dari hangat, tak saling merangkul tapi memukul. Narasi jahat terus dilesakkan. Pertarungan cebong versus kadrun terus dimunculkan tanpa berkesudahan. Bagai bara api yang terus ditiup-tiup agar tak padam, justru dibuat lestari membesar.

Cebong menjadi tidak sekadar membela Presiden Jokowi khususnya, atau menangkis serangan tidak benar yang dialamatkan padanya. Tapi lebih dari itu, menyerang siapa saja yang dianggap sebagai pesaingnya. Tak perlulah bertanya siapa pesaing Jokowi itu, takut justru bisa menjatuhkan marwahnya. Bagaimana bisa seorang setingkat Presiden punya pesaing. Lagian apa masih mau bersaing untuk pilpres 2024, tidak juga kan? Konstitusi melarang ia maju lagi. Cukup 2 periode saja.

Lalu mengapa tugas cebong mesti dipertahankan, menghantam “pesaing” yang semestinya tidak dijadikan pesaing. Maka menilik peristiwa lampau jadi keharusan guna menemukan persoalan sebenarnya. Dari Pilkada DKI Jakarta semuanya bermula. Tumbangnya petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat dan terpilihnya Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno, tidak bisa diterima sebagai kekalahan. Dampaknya menyeret sampai saat ini. Anies menjadi bulan-bulanan narasi jahat. Tak kenal move on untuk menyudahi.

Kehadiran cebong dan buzzerRp sulit bisa dilihat perbedaannya. Sudah bergumul menjadi satu, layaknya suami istri. Tidak persis tahu mana si suami dan mana si istri. Tapi yang jelas itu seperti jadi piaraan saja, yang mesti diupah. Jangan lagi tanyakan siapa pengupahnya. Semua dibuat serba tertutup. Bisa jadi yang diupah pun tak tahu siapa pengupahnya. Hanya muncul nama misterius, yang disebut sebagai Kakak Pembina. Ini pun tak perlu juga ditanyakan, siapa sebenarnya yang disebut sebagai Kakak Pembina itu. Tapi pastinya itu ada. Pada waktunya, entah kapan, semua akan terkuak terang benderang.

Menjadi Bangsa Tersenyum…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.