Sulit mengharapkan munculnya wacana intelektual dari komposisi elite partai seperti itu. PSI mencoba merekrut kader dari luar seperti Faldo Maldini yang dibajak dari PAN. Faldo yang punya latar belakang aktivisme dan intelektualitas yang baik mungkin terkaget-kaget begitu masuk ke PSI.
Tidak perlu waktu lama bagi Faldo untuk merasa kesepian dan terisolasi di lingkungan PSI. Ia pun lebih banyak muncul dengan atribut sebagai jubir sekretariat negara ketimbang sebagai kader PSI.
BACA JUGA: Masinton dan Brutus
Dalam kondisi seperti ini bisa dipahami mengapa Tsmara Amany merasa butuh atmosfer lain untuk bisa lebih mengekspresikan gagasan-gagasannya. Sebagai anak muda milenial yang punya kapasitas intelektual besar Tsamara tidak menemukan lahan yang cukup subur untuk berkembang di PSI.
Tsmara yang menikah dengan Ismail Fajrie Alatas, seorang profesor studi Islam di New York University, ingin lebih mengembangkan kapasitas intelektualnya untuk memperdalam isu-isu kesetaraan gender. Dan Tsmara tidak melihat PSI bisa menampung kapasitas intelektualnya itu.
Ia memutuskan mundur dari PSI. Sebuah keputusan yang seharusnya disikapi dengan biasa-biasa saja. PSI pun mencoba ‘’play down’’ dengan menganggap pengunduran itu sesuatu yang biasa. Tapi, ternyata tidak sesederhana itu. Beberapa hari berselang isu itu menggelinding menjadi liar.
BACA JUGA: Face Recognition
Tsmara dibully karena dianggap berkhianat, dan kemudian dihubung-hubungkan dengan kemungkinan akan menyeberang ke Anies Baswedan. Seperti biasa, rundungan kalap ala buzzer bermunculan, sampai-sampai muncul postingan fasis ala Nazi Hitler.
Tsamara tentu sudah paham betul karakter para buzzer mata gelap itu. Tapi, mungkin baru sekarang dia merasakan bahwa mereka ternyata benar-benar jahiliyah.
Alih-alih menyesal Tsmara pasti bersyukur sudah mengambil keputusan yang tepat mundur dari PSI. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi