Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 16 Apr 2022 13:07 WIB ·

Face Recognition


					SALAH: pengeroyokan Ade Armando, polisi memakai teknologi face recognition untuk mengidentifikasi pelaku (Foto: Jonathan Devin/kumparan) Perbesar

SALAH: pengeroyokan Ade Armando, polisi memakai teknologi face recognition untuk mengidentifikasi pelaku (Foto: Jonathan Devin/kumparan)

KEMPALAN: Sebuah mesin teknologi canggih pengenalan wajah (face recognition) dipasang di Tokyo untuk memantau penjahat jalanan. Dalam tempo sehari pelaku kejahatan bisa ditangkap. Mesin yang sama dipasang di New York. Dalam tempo dua hari pelaku kejahatan bisa ditangkap. Mesin itu kemudian dipasang di Jakarta, dalam tempo seminggu mesinnya hilang.

Itu joke mengenai tingkat kriminalitas di berbagai negara di dunia. Jakarta sebagai kota besar termasuk kota yang punya problem kriminalitas tersendiri. Pemakaian teknologi canggih bisa membantu polisi mengatasi kejahatan. Tapi, ketergantungan terhadap teknologi bisa menimbulkan masalah tersendiri. Di Indonesia, alih-alih malingnya tertangkap justru mesinnya yang digondol maling.

Beberapa waktu belakangan ini penggunaan teknologi untuk mengatasi kriminilatas di Indonesia tengah menjadi sorotan. Polisi Indonesia sudah punya teknologi canggih pengenalan wajah yang bisa mengidentifikasi seseorang yang dicurigai sebagai pelaku kriminalitas.

Dengan melakukan snanning terhadap wajah pelaku, mesin kemudian bisa memberikan data-data mengenai pelaku kejahatan lengkap termasuk nama dan alamat. Di banyak negara maju teknologi ini sudah banyak dipakai. Di China, misalnya, teknologi ini dipasang di perempatan jalan-jalan di kota besar sehingga bisa memantau pergerakan orang dengan cermat.

BACA JUGA: Harvey

Di Indonesia teknologi ini menjadi masalah ketika diterapkan oleh polisi untuk mengidentifikasi pelaku pengeroyokan terhadap Ade Armando pada demonstrasi mahasiswa 11 April lalu. Dengan teknologi pengenalan wajah itu polisi bisa mengindentifikasi sejumlah pelaku.

Tapi, tidak semuanya akurat. Seorang laki-laki yang tinggal di Lampung diidentifikasi sebagai salah satu pelaku pengeroyokan. Ternyata identifikasi mesin itu salah. Lelaki itu seharian berada di rumahnya di Lampung dan tidak berada di Jakarta.

Data dan informasi yang seharusnya konfidential ini telanjur menyebar ke media sosial. Ketua Cyber Indonesia Husin Shihab menyebar informasi itu melalui media sosial lengkap dengan foto dan data. Tindakan yang sembrono ini dikecam oleh netizen lain sampai muncul trending topic tagar tangkap Husin Shihab.

BACA JUGA: Jebakan Utang

Ketika data yang seharusnya rahasia bisa jatuh ke orang yang tidak punya otoritas seperti Husin Shihab tentu menimbulkan pertanyaan, bagaimana polisi menjaga kerahasiaan data yang menyangkut privasi dan kerahasiaan warga negara. Isu itulah yang banyak dipertanyakan publik.

Kecanggihan teknologi digital memungkinkan pengumpulan data dengan sangat cepat dan akurat. Data pribadi itu bisa mengungkap apa saja mengenai seseorang mulai dari pekerjaan, keluarga, sampai hal-hal detail seperti hobi dan kecenderungan politik. Data semacam ini dikumpulkan menjadi satu menjadi big data yang bisa diperdagangkan dengan harga yang mahal.

Teknologi pengenalan wajah menjadi kamera pengintai yang mengawasi pergerakan masyarakat setiap hari. Pengintaian ini bisa membatasi kebebasan warga karena semua gerak-geriknya direkam dan diawasi selama 24 jam.

Negara yang paling banyak mengoperasikan teknologi pengawasan ini adalah China. Di semua perempatan jalan di kota-kota China terpasang kamera pengintai yang bekerja 24 jam. Sekarang ini tercatat ada 400 juta lebih kamera pengintai yang dipasang di China. Dengan kamera pengintai itu China akan bisa mengawasi pergerakan penduduknya yang berjumlah 1,4 miliar orang.

Sebagai negara yang otoriter China bebas saja melakukan pengintaian terhadap warganya sendiri. Teknologi ini sama dengan ‘’Big Brother’’ yang digambarkan oleh George Orwell dalam novel ‘’Nineteen Eighty Four’’ yang menggambarkan situasi di negara otoriter yang pergerakan warganya diawasi si Bung Besar selama 24 jam.

Artikel ini telah dibaca 170 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Upacara Baijiu

17 Mei 2022 - 08:00 WIB

Jokowi, Biden, dan Elon

16 Mei 2022 - 16:11 WIB

一百二十

16 Mei 2022 - 08:00 WIB

Shireen

15 Mei 2022 - 10:17 WIB

Stereo Adharta

15 Mei 2022 - 08:00 WIB

Lockdown Sapi

14 Mei 2022 - 17:05 WIB

Trending di Kempalpagi