Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 06:23 WIB
Surabaya
--°C

Masinton dan Brutus

Dalam terminologi politik, sebutan Brutus disematkan kepada siapa saja yang melakukan pengkhianatan terhadap pemimpinnya. Dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare digambarkan pemberontakan oleh orang sekitar istana yang akhirnya mengkhianati Caesar sang pemimpin tertinggi.

Pada 44 Sebelum Masehi  Julius Caesar terbunuh oleh pengkhianatan orang-orang terdekatnya. Caesar tidak menyangka sahabat-sahabatnya ikut dalam komplotan konspirasi para senator dan menikamnya dari belakang.

BACA JUGA: Jebakan Utang

Komplotan itu melibatkan Marcus Junius Brutus yang juga sahabat dekat dan orang kepercayaan Caesar. Beberapa senator dan legislator Romawi yang menamakan diri sebagai kelompok liberatores, atau para pembebas, juga tergabung dalam konspirasi untuk membunuh Caesar.

Konspirasi itu muncul dari kekhawatiran para senator terhadap kekuasan Julius Caesar yang semakin besar. Nyaris tidak ada oposisi yang bisa menghalangi Caesar. Kemenangan demi kemenangan di berbagai front peperangan membuat Caesar semakin digdaya dan kemudian mengangkat diri sebagai kaisar seumur hidup.

Brutus–yang sebelumnya pernah dimaafkan Julius Caesar karena memberontak bersama Pompey, musuh Caesar–dibujuk oleh para senator untuk ikut dalam plot untuk menyingkirkan Caesar. Brutus pun setuju untuk ikut dalam perencanaan kudeta.

Senat kemudian membuat undangan kepada Caesar untuk hadir dalam rapat besar. Kematian Julius Caesar ditentukan ketika ia menerima undangan Senat. Istri Julius Caesar, Calpurnia, melarang Caesar untuk menghadiri undangan itu karena mencium aroma pemberontakan. Tapi, Caesar memutuskan menghadiri undangan Senat.

BACA JUGA: The Front Runner

Brutus bersama anggota Senat yang sudah menyiapkan plot, menikam Julius Caesar puluhan kali di tengah sidang. Kemudian jasad Caesar dibakar supaya rakyat tidak bisa mengenali jenazahnya. Kekuasaan Caesar yang seolah tanpa tanding berakhir dengan tragis di tangan orang-orang kepercayaannya sendiri.

Sejak itu Brutus dijadikan simbol untuk para pengkhianat politik dan konspirator yang berupaya menggulingkan teman atau pemimpin sendiri. Kisah pengkhianatan Brutus sering disejajarkan dengan pengkhianatan Judas Iskariot terhadap Nabi Isa atau Yesus. Para pengkhianat akhirnya bernasib buruk. Brutus dan Judas sama-sama mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.

Drama ala Caesar terjadi Indonesia pada masa Reformasi 1998. Presiden Soeharto adalah ‘’The Real Caesar’’. Soeharto bukan presiden, dia adalah raja, dia adalah kaisar. Semua kekuasaan ada di tangannya. Ia bisa menjadikan dirinya sebagai presiden seumur hidup kalau dia mau.

Tapi, kemudian situasi berbalik. Kekecewaan rakyat tidak tampak di permukaan, karena para pembantunya menyembunyikan semuanya dengan rapi. Soeharto merasa dirinya adalah emperor yang mengenakan busana kebesaran terbaik dan termegah, padahal sebenarnya sang emperor tengah telanjang.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.