Persoalan mendasar, kata Doni Monardo adalah perubahan perilaku. Peraturan Presiden tentu tidak bisa memiliki durasi selama-lamanya. Sebaliknya jika sampai masa berlaku Perpres selesai, rasanya tidak elok jika meminta presiden memperpanjang. Sebab, itu bisa diartikan program belum berhasil.
“Maka tiga tahun ke depan harus kita maksimalkan untuk program perubahan perilaku,” ujar Doni Monardo. Ia juga tidak ingin tentara terus-menerus mengurusi Sungai Citarum. Tujuh tahun sudah cukup. Selanjutnya, peran tentara harus menjadi contoh, sehingga bisa diikuti oleh masyarakat.
Kalau toh ke depan tentara Siliwangi masih terlibat, perannya lebih kecil. Misalnya, hanya sebatas menjadi konsultan di bawah kendali Satgas. Pada saat itu, diharapkan masyarakat sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga Sungai Citarum. Tugas prajurit Siliwangi ke depan adalah bagaimana mengubah perilaku masyarakat.
Terakhir, Doni Monardo menyinggung masukan dari seorang pembicara, mengenai perlunya Satgas Citarum Harum memiliki seragam khusus. Dengan demikian, masyarakat ke depan bukan patuh karena baju loreng prajurit Siliwangi, melainkan benar-benar karena kesadaran.
Atas usulan tersebut, Doni Monardo setuju. Kiranya Satgas Citarum Harum perlu memikirkan ide kostum yang sesuai, yang dikenakan oleh para prajurit Siliwangi maupun masyarakat sipil. Besar harapan Doni Monardo sebagai penggagas Citarum Harum, ke depan Citarum akan kembali ke fungsinya sebagai sumber kehidupan manusia dan sumber peradaban bangsa. (Egy Massadiah dan Roso Daras)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi