Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 05:42 WIB
Surabaya
--°C

Kemerdekaan Tak Melulu Milik Nasionalis Sekuler, Kelompok Kiri, dan Tentara

Judul buku: Spirit Islam pada Masa Revolusi Indonesia

Penulis: Kevin W. Fogg

Peresensi: Reza Hikam

Penerbit: Noura

Tebal buku: 435 halaman

Tahun terbit: November 2020

ISBN: 9786232421868

KEMPALAN: Islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan dua hal yang saling berkelindan satu sama lain. Kerapkali jika kita melihat gambaran tentang para pejuang kemerdekaan, nampaknya hanya kelompok nasionalis sekuler, jika tidak, para tentara saja yang diperlihatkan, tanpa nuansa Islam dan terlihat layaknya umat Islam tidak ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan.

Semangat umat Islam yang jor-joran dalam mempertahankan kemerdekaan pun jarang dikaji secara mendalam oleh akademisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Penggunaan istilah revolusi sendiri kerapkali dilekatkan pada kelompok yang tidak menggunakan agama sebagai landasan gerak mereka, meskipun banyak juga mereka yang memekikkan takbir benar-benar terjun ke medan perang.

Namun, sebelum masuk ke dalam main dish, pasti ada appetizer terlebih dahulu. Dalam karyanya ini, Kevin mengawali dengan jenis-jenis masyarakat di Indonesia melalui pemisahan yang dibentuk oleh antropolog Clifford Geertz, yakni Santri, Abangan, dan Priyayi serta memberikan pemaknaan maupun penekanan pada dua jenis yang pertama. Pembahasan Kebin sendiri nantinya akan berfokus lagi pada kelompok yang pertama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

BACA JUGA  Seluruh POSSI Daerah Desak Selam Masuk POPDA Jatim 2026

Usai mengikuti pola Geertz, Santri sendiri dikategorikan menjadi dua jenis pada masa itu, yakni tradisionalis dan reformis. Selain itu, umat Islam juga dikategorikan dalam dua kelompok lain, yakni elit politik dan akar rumput, yang mana keduanya menempuh dua jalur perjuangan yang berbeda serta logika mempertahankan kemerdekaan yang juga berbeda.

Pembahasan berkutat di seputar bagaimana seorang agamawan (ulama) Islam membakar semangat para pejuang dan taktik apa saja yang dipakai untuk menjelaskan perang kemerdekaan sebagai jihad fisabilillah atau perang sabil. Salah satu tokoh yang diulas di awal adalah M. Arsjad Thalib Lubis yang menulis buku berjudul Toentoenan Perang Sabil. Buku ini berisikan fatwa-fatwa tentang perang kemerdekaan serta panduan bagaimana melaksanakan perang sabil. Selain itu, diulas juga tentang Resolusi Jihad yang legendaris.

BACA JUGA  Sport Science UNESA Fondasi Atlet Voli Masa Depan Banyuwangi

Usai itu, diceritakan pula mengenai pengalaman dua perempuan yang terlibat dalam perang sabil di medan perang. Pada masa itu, banyak juga lasykar yang berisikan perempuan dengan istilah lasykar muslimat. Para lasykar ini punya hubungan dengan Partai Masyumi di pusat dan tidak jarang, menurut penulis, bahwa lasykar-lasykar tersebut mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat ketimbang anggota TNI, yang justru menimbulkan kecemburuan sosial.

Dikisahkan juga mengenai kesatuan Hizbullah yang notabene sangat terlibat dalam kemerdekaan Indonesia, salah satunya ketika peperangan 10 November di Surabaya yang mana markas Hizbulla juga menjadi sasaran dari pasukan Sekutu. Para anggota lasykar ini bahkan berani melakukan misi-misi yang belum tentu berani dilakukan oleh anggota milisi lainnya.

Bahkan usai kemerdekaan dikumandangkan, banyak lasykar-lasykar yang melakukan penggulingan terhadap tatanan birokrasi lama yang dianggap berpihak kepada penjajah. Revolusi sosial yang tersebar di berbagai sudut negara baru itu lebih dikarenakan kepada dendam masa lalu yang terkumpul dan meledak ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Bagian lain yang…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.