Bagian lain yang menarik dari karya Kevin W. Fogg ini adalah tentang Magi Islami, yakni “sihir” yang memiliki unsur Islam. Salah satu yang dicontohkan oleh penulis adalah bagaimana seseorang bisa “kerasukan” dan memahami cara berkelahi pasukan Gurkha usai diberi bisikan oleh guru spiritualnya, hal tersebut berkaitan dengan kedatangan pasukan Inggris yang di dalamnya juga ada tentara Gurkha. Kejadian tersebut dikutip dari kesaksian politisi Masyumi, Abu Hanifah yang nampaknya terkejut dengan hal itu.
Selain sisi “kerasukan”, Fogg juga menggarisbawahi tentang praktik penggunaan jimat dalam pertempuran. Biasanya dalam bentuk kain putih yang berisikan tulisan Islam, jimat-jimat tersebut diyakini dapat melindungi diri dari serangan musuh atau mendapatkan “kekebalan”. Jimat semacam itu membuat umat Islam yang berjuang menjadi semakin berani menantang maut, bahkan daripada kelompok lain yang ada pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Namun, pembahasan mengenai Islam di masa Revolusi Indonesia kurang afdol jika tidak menyentuh “Pemberontakan Darul Islam” atau yang sebetulnya disebut oleh pemimpinnya, S. M. Kartosuwiryo, sebagai “Negara Islam Indonesia”. Kelompok ini, menurut Direktur Muda Carolina Asia Center, menjadi menarik bukan karena nama atau visinya, namun karena pola pergerakan dan pemimpinnya.
Dikisahkan bahwa di Jawa Barat, lasykar Islam maupun tentara resmi Indonesia kerapkali bentrokan, namun A. H. Nasution sendiri mengakui bahwa para lasykar tersebut lebih terlatih dan lebih bersemangat ketimbang tentara resmi. Bahkan muncul kecemburuan sosial dari kesatuan tentara terhadap para lasykar karena nampaknya para lasykar itu lebih mendapat dukungan dari masyakarat ketimbang kesatuan resmi TNI.
Menariknya, dalam buku ini, Darul Islam dilihat sebagai salah satu ujung spektrum Revolusi Indonesia dan bukan sebagai gerakan revolusioner. Hal ini tercermin dari perkataan penulis: “Sampai dengan 1948, gerakan itu tidak melampaui batas aktivitas revolusioner Indonesia dan harus dipandang sebagai bagian dari tujuan Islam dalam perjuangan.”
Buku ini menyediakan semua elemen yang perlu dipahami mengenai “semangat ke-Islam-an” pada masa Revolusi Indonesia serta memberi gambaran bagaimana jasa besar umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 (bahkan orang Darul Islam sekalipun masih menggunakan nama “Indonesia” dalam nama kelompoknya), sebuah kisah yang selama ini tersapu oleh zaman atas nama “pluralisme”.
Pada bagian awal buku ini sedikit membingungkan karena penerjemahan yang lumayan kaku, namun semakin masuk ke dalam bab-bab berikutnya, penarasiannya akan semakin mengalir dan sangat mudah dipahami karena sejarah pada umumnya dituliskan layaknya cerita. Adapun buku ini ditulis oleh Kevin W. Fogg, alumni Universitas Yale yang sekarang menjadi Direktur Muda Carolina Asia Center di Universitas Carolina Utara di Chapel Hill, salah satu Indonesianis generasi baru. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi