Ketidakmampuan UE dalam mengatasi krisis tersebut menyebabkan timbulnya eurosceptisism yang semakin meluas dan diikuti dengan perkembangan populisme atas kekecewaan masyarakat, sehingga argumentasi terhadap kegagalan atau ketidakberlanjutan UE muncul sebagai konsekuensinya. Faktor lain yang menjadi justifikasi terhadap argumentasi UE sebagai institusi yang gagal atau menuju pada kegagalan dapat dilihat melalui legitimasi UE yang semakin menurun seiring berjalannya waktu.

Hal ini disebabkan oleh karena mulai tumbuhnya sikap apatisme dari Lembaga Uni Eropa sehingga berakibat pada terciptanya sentiment bahwa UE dianggap sebagai institusi yang tidak demokratis sesuai dengan nilai dan norma UE. Pasca krisis eurozone, UE semakin menerapkan peraturan dan kebijakan yang bersifat restriktif terhadap banyak hal, sehingga kemudian negara yang tergabung dan hendak bergabung dalam UE harus patuh atas berbagai regulasi dan otoritas yang telah dimandatkan UE (Bakare & Sherazi, 2019).
Argumentasi terakhir merujuk pada pandangan bahwa pasca Brexit, UE dianggap menuju pada proses evolusi dan transformasi. Penulis juga sepaham dengan pandangan ini karena melihat bahwa peristiwa Brexit merupakan fenomena pertama kali yang dialami oleh UE. Oleh karena itu, UE saat ini sedang berada pada masa transisi karena melalui peristiwa Brexit, maka UE dapat melakukan evaluasi terhadap sistem kerja yang selama ini dijalankan.
NEXT: Perlu dipahami juga bahwa fenomena Brexit…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi