BEIJING-KEMPALAN: Tiongkok telah memberikan draft revisinya kepada pihak COP26 dalam janjinya untuk mengurangi emisi karbon dioksida yang dihasilkan sebelum tahun 2030. Banyak kritik yang dilontarkan kepada Tiongkok karena negara tersebut menghasilkan 27% emisi global dan gagal untuk menguranginya.
Dalam draft revisi tersebut, Tiongkok berjanji bahwa emisi karbon dioksida yang dihasilkan akan berpuncak pada tahun 2030, dan setelah itu akan menuju ke netral karbon atau nol emisi karbon paling lambat pada tahun 2060. Revisi tersebut akan dibacakan langsung pada pertemuan terbesar yang mengurusi lingkungan yaitu COP26 yang dikabarkan akan didatangi oleh perwakilan dari 200 negara.
“Presiden Xi Jinping mengatakan bahwa dalam menanggapi permasalahan perubahan ilklim, tindakan Tiongkok tersebut bukan karena permintaan atau desakan dari eksternal melainkan dari inisiatif Tiongkok sendiri. Hal tersebut dilakukan oleh Tiongkok untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memenuhi kewajibannya untuk membangun komunitas internasional yang ramah untuk masa depan” isi salah satu paragraf dalam laporan yang diberikan kepada pihak COP26 pada Kamis (28/10).
“Tiongkok akan mengimplementasikan strategi nasional proaktif untuk menghadapi perubahan iklim” isi tambahnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, ditulisan bahw Tiongkok akan berupaya untuk mengurasi emisi karbon dioksida lebih dari 65% dari tahun tingkatan pada tahun 2005. Selain itu, Tiongkok akan meningkatkan penggunaan bahan bakar non fosil sebesar 25% dan menginstal serta menambah kapasitas penggunaan tenaga solar dan angin lebih untuk menghasilkan lebih dari 1,2 Miliar Kilowatts pada tahun 2030.
Sebagai tambahan, Tiongkok akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air di sungai Yangtze, sungai Mekong dan sungai Kuning serta menggunakan tenaga terbaru nuklir seperti penggunaan reaktor nuklir versi mini.
Pada bulan lalu, Tiongkok mengumumkan bahwa pihaknya akan menghentikan pendanaan terkait pembangunan dengan menggunakan tenaga batu bara. Hal tersebut dipandang oleh aktivis sebagai “game-changer” karena Tiongkok menjadi penghasil emisi terbesar di dunia. Aktivis sejauh ini positif terhadap rencana Tiongkok dengan mengatakan bahwa Tiongkok memberikan ambisi yang baik.
(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi