Kamis, 4 Juni 2026, pukul : 00:42 WIB
Surabaya
--°C

Uni Eropa Pasca Brexit: Sebuah Kegagalan, Proses Menuju Kegagalan ataukah Evolusi dan Transformasi?

Ilustrasi Uni Eropa dan Brexit-UKandEU
Samuel Elisa (Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional)
Samuel Elisa (Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga)

Keluarnya negara Inggris dari institusi Uni Eropa (selanjutnya disingkat UE) pada 31 Januari 2020 menjadi sebuah fenomena yang pertama kalinya dialami oleh UE terkait dengan keluarnya keanggotaan dari UE. Fenomena ini menjadi semakin populer dalam dunia internasional dan secara khusus dalam studi Hubungan Internasional yang dikenal dengan nama Brexit. Secara singkat keputusan Inggris untuk meninggalkan UE disebabkan oleh karena beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, integrasi UE mensyaratkan adanya penyerahan sebagian kedaulatan kepada UE sebagai institusi supranasional, sehingga menguras kedaulatan nasional Inggris.

Kedua, kontribusi Inggris yang besar dalam berbagai aspek yang secara khusus terkait keuangan, tidak mendapatkan timbal balik yang seimbang. Terakhir, terkait dengan kebijakan kebebasan arus migrasi kemudian menjadi permasahan besar ketika Inggris menjadi kawasan penerima imigran terbesar se-Eropa (Gross & Douglass, 2016).

BACA JUGA  Gelombang Pembangkangan di Kubu Trump dan Tanda-Tanda Krisis Internal Republik

Pasca fenomena Brexit, kemudian terdapat beberapa argumentasi terkait dengan status UE dewasa ini. Pertama, UE sebagai sebuah regionalism supranasional termaju di dunia telah dianggap sebagai institusi yang gagal. Argumentasi ini diawali dari kegagalan UE dalam mengatasi krisis di kawasan Eropa yang terjadi dari mulai tahun 2009-2012 sebagai akibat dari adanya krisis dunia tahun 2008 yang merambat keseluruh negara di dunia.

Krisis Eropa umumnya terjadi dengan begitu parah pada negara-negara eurozone yang menetap mata uang euro sebagai mata uang bersama Eropa. Hal ini menyebabkan terjadinya devaluasi terhadap mata uang di masing-masing negara Eropa serta menghambat kapabilitas masing-masing negara untuk mencetak mata uangnya sendiri yang seharusnya dapat menjadi solusi untuk mengatasi krisis walaupun mata uang tersebut nantinya akan mengalami penurunan nilai di pasar internasional. Akibatnya negara-negara UE harus meminjam dana IMF dengan jumlah yang sangat besar dan bahkan UE mendapatkan bantuan keuangan dari China yang merupakan negara “Timur” (Bakare & Sherazi, 2019).

BACA JUGA  Biennale Menolak Luka Geopolitik

NEXT: Ketidakmampuan UE…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.