SURABAYA – KEMPALAN : Kisah kemiskinan seringkali dijadikan sebuah konten karena kerap menuai views dan menjadi trending di YouTube. Padahal dalam kajian studi media, konten tersebut sudah masuk kategori poverty porn dan masuk dalam konteks eksploitasi.
Menurut pakar kajian studi media asal Universitas Airlangga, Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D, konten itu dapat membuat jurang antara si miskin dan si kaya semakin lebar akibat alienasi terhadap orang di bawah garis kemiskinan. “Untuk itu konten kreator harus kreatif, tidak mengeksploitasi kemiskinan orang lain. Orang miskin dikomodifikasi sudah tidak kreatif menurut saya,” jelas Prof. Dra. Rachmah Ida, Senin (25/10).
Dia menjelaskan konten yang mengeksploitasi kemiskinan sudah dikategorikan sebagai bentuk dari poverty porn. Fokusnya adalah menunjukan penderitaan kemiskinan.
Dosen Ilmu Komunikasi UNAIR tersebut menjelaskan, masyarakat kemungkinan lebih memilih menonton tayangan yang relate dengan mereka, daripada tayangan berupa pertengkaran dan tayangan politik yang tak kunjung usai. Selain itu, Indonesia dulu pernah menayangkan tontonan serupa sehingga konten poverty porn bukan merupakan hal baru di era digital ini. Tajuk ini sudah muncul sejak tahun 80-an, utamanya digunakan oleh lembaga penggalangan donasi karena tema kemiskinan menimbulkan rasa iba.
“Meskipun tujuannya untuk menggalang dana, tapi tidak harus dengan menunjukan penderitaan orang miskin. Poverty porn bisa disebut melanggar etika, dan dalam kajian media dikategorikan dalam konteks eksploitasi,” jelas guru besar media pertama di Indonesia tersebut.
Ia juga menjelaskan mengenai kegemaran masyarakat Indonesia membahas konten yang dinikmati, menjadi salah satu faktor dalam menyebarkan konten yang ditonton. “Di Indonesia, kita suka setelah nonton cerita ke tetangga, sehingga tayangan yang kita tonton kemudian menjadi source of talk atau sumber pembicaraan,” sebutnya sambil menekankan pentingnya konsumen media agar mampu melihat bahwa yang dilakukan konten kreator kadang kurang bijaksana.
Ida menyampaikan bahwa konten yang kreatif seharusnya menciptakan empowerment, dan dapat menunjukan dampaknya dalam keberlangsungan hidup. “Harus memiliki sense of crisis, juga bisa mempunyai tidak hanya simpati namun juga empati. Bagi penikmat media, konten ini juga seharusnya tidak dijadikan orientasi, namun sebagai pembelajaran, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain,” tutupnya. (nani mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi