Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 04:22 WIB
Surabaya
--°C

Rasionalitas Konsumen di Antara Kekuatan Daya Beli dan Kekuatan Ajakan   

Bambang Budiarto

KEMPALAN: Stanislaus Tidjab, lebih populer sebagai S. Tidjab, sampai akhir hayatnya di Maret 2019 dalam usia 72 tahun, telah menciptakan banyak “sejarah” dalam serial sandiwara radio. Salah satu tokoh besar yang pernah dilahirkan dalam “sejarah”nya adalah Arya Dwipangga, sang pendekat syair berdarah. Sosok jahat yang siap mencabut nyawa siapapun dengan kekuatan magis baris-baris syair-nya.

Belum separoh usia perjalanan hidupnya, sang pendekar syair berdarah ini ternyata telah kembali ke jalan yang benar. Susunan baris syairnya tidak lagi menjadi alat pembunuh, namun menjadi indah untuk mengisi suasana. Begitulah nasib susunan kata-kata, susunan syair, atau susunan mantra ketika sudah tidak mempunyai kekuatan. Menjadi deretan kalimat yang seolah sekedar menjadi sebuah hiburan pengisi suasana.

Dalam kehidupan senyatanya sering dijumpai situasi yang demikian. Barisan kalimat yang sudah disusun rapi sebagai sebuah nasehat, ajakan, himbauan, ataupun larangan, kadang kala terabaikan. Yang terkini, adalah ajakan Wakil Presiden Ma’ruf Amin kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berhijrah dari ketergantungan produk impor dan membangun kemandirian bangsa dengan mengembangkan produk dalam negeri.

Ajakan bernuansa untuk lebih mencintai produk lokal yang disampaikan dalam Festival 1 Muharram 1443 H  di awal Agustus 2021  ini sejatinya bukanlah yang pertama. Presiden jokowi beberapa bulan sebelumnya, di Maret 2021 pada saat membuka Rakernas Kemendag 2021 juga menyampaikan hal serupa.

Ajakan untuk menggaungkan benci produk asing dan cinta produk lokal.  Sebenarnya sejauh mana kekuatan sebuah ajakan untuk sampai  pada terealisasinya sebuah konsumsi. Pada beberapa kesempatan yang lainpun, diantara sejumlah jajaran kabinet di pemerintahan juga sering mengkampanyekan dan/atau membuat ajakan sejenis. Deretan kalimat-kalimat ajakan tersebut sepertinya tinggal sebuah ajakan, tidak mempunyai kekuatan apapun.

Perilaku konsumsi beberapa kelompok masyarakat-pun belum berubah. Daya beli yang berlebih dalam beberapa kelompok masyarakat dan selera, sepertinya masih lebih berpengaruh lebih memiliki daya pikat dibanding ajakan-ajakan sesaat tersebut. Ini adalah realitas ekonomi, rasionalitas konsumen tak mudah untuk ditekan dengan bentuk-bentuk ajakan, digeser dengan iming-iming penguatan ekonomi.

Rasionalitas konsumen memiliki pondasi yang kuat. Semangat hijrah yang menginspirasi menuju Indonesia maju dan bermartabat meninggalkan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan seperti yang digelorakan pak wapres, tampaknya tidak cukup mampu untuk meruntuhkan rasionalitas konsumen. Setiap warga negara adalah juga seorang konsumen, dan dengan kemampuannya, dengan daya belinya yang berlebih, rasionalitas konsumen akan menjadi push factor kearah produk terbaik dan berkualitas.

Menermati hal tersebut, berbagai deretan kalimat indah ajakan-ajakan cinta bangga dan berkonsumsi produk lokal ini, rasanya hanya akan berakhir sebagai sebuah ajakan, tidak lebih. Mencermati hal yang demikian sepertinya perlu untuk dibuat deretan kalimat yang tidak sekAdar ajakan, namun deretan kalimat yang mempunyai kekuatan lebih untuk menjadikan setiap warga negara tidak sekedar cinta produk lokal, tapi sudah sampai pada tataran membutuhkan produk lokal. Barangkali perlu pendekar sekelas Arya Dwipangga, agar baris-baris kalimat ajakan terebut menjadi lebih memiliki daya. Salam.  (Bambang Budiarto – Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Dosen Ubaya,   Redaktur Tamu Kempalan.com)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.