
KEMPALAN: Orang hebat itu adalah orang yang menjadi pemenang, tapi yang jauh lebih hebat adalah orang yang dapat menerima kemenangan orang lain. Sungguh malang memang nasib pendekar yang terkalahkan. Namun, disitulah publik akan menyaksikan kehebatannya yang lain, mampu berbesar hati mengakui kekalahan. Perjalanan kadang memang menyakitkan, tak selalu berakhir dengan kemenangan. Indonesia-pun setelah bertahun-tahun babak belur dalam penjajahan akhirnya menang juga. Merdeka.
Agustus adalah bulan kemenangan bagi seluruh bangsa Indonesia, bulan kemerdekaan, bulan dimana sebuah kebebasan diproklamirkan. Di Agustus 2021 ini pulalah, bertubi-tubi kepada kita seluruh rakyat Indonesia sejak akhir Juli disodori data-data kemenangan ekonomi.
Sejatinya tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan sebagai kemenangan ekonomi, setelah berbulan-bulan berlelah-lelah berjuang melawan fakta keterpurukan beberapa indikator makro ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan nasional turun dari 10,19 persen di 2020, menjadi 10,14 persen di 2021.
Berbagai program perlindungan sosial di 2020 yang mencapai Rp 220 triliun akan dinaikkan yang diharapkan dapat berfungsi sebagai instrumen penahan kenaikan kemiskinan. Penurunan ini dapat dimaknai sebagai terciptanya kesempatan kerja.
Pulihnya konsumsi masyarakat, geliat investasi, ekspor yang melonjak, dan kegiatan konsumsi pemerintah yang meningkat, seperti disebut oleh Kemenkeu telah menciptakan kesempatan kerja untuk 1 juta orang dan menyerap pengangguran terbuka. Pemulihan ekonomi menciptakan kesempatan kerja baru sehingga tingkat penganguran terbuka dapat diturunkan kembali. Tentu ini adalah berita gembira dan bolehlah disebut sebagai data kemenangan ekonomi.
Belanja pemerintah sebagai penopang pemulihan ekonomi nasional telah mampu mengangkat konsumsi rumah tangga yang tertekan akibat penurunan signifikan mobilitas masyarakat. Investasi dan ekspor yang awalnya sulit, juga kontraksi ekonomi yang menyasar pada mitra dagang utama Indonesia, lambat laun dapat diatasi.
Kemenangan yang telah pula diproklamirkan adalah bahwa Indonesia resmi keluar dari zona resesi setelah pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 mencapai 7,07% YoY, tumbuh 3,31% QtQ. Capaian ini adalah sinyal positif perbaikan perekonomian yang tercermin dari beberapa indikator makro ekonomi.
Mulai dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada level optimis dengan skor 107,4 pada Juni 2021, kemudian aktivitas manufaktur telah ada di zona ekspansi. Termasuk konsumsi listrik bagi industri dan bisnis yang tumbuh positif masing-masing 26,1 persen (yoy) dan 14,5 persen (yoy) pada bulan Juli 2021.
Stimulus yang digelontorkan KPC-PEN pun ternyata juga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kuartal II ini. Catatan BPS yang lain, seluruh sektor ekonomi telah tumbuh positif pada kuartal II-2021, tidak terkecuali sektor akomodasi, makanan, dan minuman, serta sektor transportasi yang tumbuh tinggi masing-masing sebesar 21,58 persen (yoy) dan 25,10 persen (yoy).
Publik pun bertanya, kabar gembira “kemenangan ekonomi” ini sejatinya untuk siapa, untuk masyarakat banyak ataukah adu gengsi catatan prestasi antara para pengambil kebijakan. Idealnya, sebuah kemenangan tentu akan disambut suka cita oleh seluruh warga, tak ubahnya kemenangan Messi dkk atau Donarumma dkk atau si ratu emas Greysia Polli – Apriyani Rahayu.
Semua menyambut gembira dan semua merasakan euforia-nya. Kemenangan kita diatas kertas catatan atas capaian lebih indikator ekonomi ini ternyata lebih meriah disuarakan oleh pengambil keputusan. Lebih cantik sebenarnya yang menyuarakan kemenangan ekonomi ini adalah masyarakat. masyarakat merasakan manfaat kemenangan dan kemudian masyarakat menyuarakan kemenangan. Ini yang luar biasa. Saat sekarang sepertinya masih ada yang tertahan, pemerintah menyampaikan berita gembiranya, sementara masyarakat masih bertanya-tanya.
Kemiskinan turun, pengangguran turun, lolos resesi, hampir seluruh sektor pulih, namun pada saat yang bersamaan masyarakat dan pelaku usaha masih dalam pembatasan-pembatasan. Capaian-capaian positif indikator ekonomi dan euforia kemenangan ekonomi ternyata masih beradu posisi dengan rintihan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha akibat pandemi.
Sungguh, masyarakat merasakan begitu tidak mudahnya memahami dan mengambil makna dari capaian-capaian positif indikator makro ekonmi ini sebagai sebuah kemenangan ekonomi. Salam. (Bambang Budiarto – Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Dosen Ubaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi