Sabtu, 18 April 2026, pukul : 06:59 WIB
Surabaya
--°C

Selow, Itu Hanya Shock Variable dalam Makro Ekonomi

Bambang Budiarto

Oleh: Bambang Budiarto

KEMPALAN: “Ojo Kagetan”, salah satu dari sekian banyak filosofi budaya Jawa yang ternyata masih dipegah teguh oleh para leluhur yang sebenarnya sangat tepat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam situasi ekonomi seperti saat sekarang ini.

Pemikiran yang diyakini sebagai salah satu peninggalan Sunan Kalijaga ini mengajarkan makna ketenangan dalam pengambilan keputusan dan ketenangan dalam menghadapi perubahan keadaan. Tidak perlu kaget dan terkaget-kaget yang berlebihan yang bisa saja melahirkan stres berkepanjangan, yang pada gilirannya dan pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Permasalahan ekonomi yang diyakini sebagai permasalahan umum umat manusia di dunia ini, sejatinya sangat sering memunculkan kekagetan-kekagetan. Kaget itu hanya sesaat, oleh karenanya tidak perlu disikapi secara berlebihan, sebab dalam waktu yang tidak lama, nantinya akan kembali ke posisi semula.

Yang demikian sungguh sangat berbeda dengan situasi yang bukan merupakan sebuah kekagetan, namun sebuah perubahan yang berakibat agregat dan berkepanjangan seperti pandemi Covid-19. Pandemi ini bukanlah sebuah kekagetan. Contoh riil untuk ini, dalam hitungan satu dua bulan terakhir yang merupakan bentuk kekagetan adalah penurunan harga emas dan penurunan harga batu bara. Emas sebagai sebuah logam mulia sering dijadikan sebagai alat ukur; pengukur nilai, pengukur kekayaan, bahkan pengukur status sosial.

Masyarakat terlanjur mengasumsikan bahwa harga emas tidak akan pernah turun seperti halnya harga tanah yang juga terus melaju. Namun fakta berkata lain, pada sebuah situasi tertentu ternyata harga emas mengalami penurunan. Yang demikian hanyalah kekagetan, sebab setelahnya harga emas pasti akan kembali terbang tinggi. Trend harga emas sebagai logam mulia memang positif. Ber-gradien positif. Sekalipun turun, percayalah dalam waktu yang tidak lama akan kembali bergerak naik.

Fakta yang demikian tidaklah jauh berbeda dengan batu bara, yang di pertengahan Oktober 2021 ini sempat menggemparkan media. Harga batu bara turun. Komoditi yang memiliki kelimpahan di tanah air dan sangat dibutuhkan oleh adidaya ekonomi seperti China, tentunya batu bara memiliki sejarah meyakinkan atas kenaikan harga nya.

Jika kemudian tiba-tiba harganya turun, percayalah yang demikian tidak akan lama, pasti akan naik lagi. Dan, fakta membuktikan, batu bara kembali ke posisi semula. Ini hanya sebuah kekagetan. Selow saja.

Dalam tataran makro ekonomi dikenal yang namanya shock variable. Shock atau goncangan, sekali lagi hanya sebuah goncangan, tentu akan kembali ke posisi semula. Jika muncul shock variable  pastinya akan membuat perekonomian menjadi tidak stabil dan bergejolak.

Dipahami akan berakibat sistem keuangan tidak mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien dalam kegiatan akonomi produktif yang berbeda-beda. Tampilnya shock variable tidak akan berakibat lumpuhnya ekonomi, tidak akan membuat hilangnya kepercayaan masyarakat. Shock variable lebih sebagai sebuah pengingat, bahwa dalam perjalanan dan pembangunan ekonomi sangat dimungkinkan terjadinya hal-hal diluar yang sudah dipikirkan sejak awal.

Contoh riil nya adalah bentuk-bentuk penurunan harga emas dan harga batu bara beberapa waktu lalu. Yang demikian adalah sebuah shock variable yang sedang ingin menunjukkan eksistensinya namun tak jarang menimbulkan kekagetan. Pertanyaannya sekarang adalah, adakah shock variable yang berkepanjangan dan akhirnya berkaibat pada terganggunya dengan serius perekenomian suatu negara? Mari kita cari jejak digital yang demikian. Salam

(Bambang Budiarto–Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.