Minggu, 19 April 2026, pukul : 13:55 WIB
Surabaya
--°C

Pandemi Ekonomi vs Pandemi Covid-19

KEMPALAN: Untuk kesekian kalinya hari ini muncul kembali rekor baru konfirmasi positif kasus Covid-19. Update data per 30 Januari 2021 adalah 14.518 dan total positif seluruh Indonesia menjadi sebesar 1.066.313.

Jabar dengan 4.601 mencatatkan diri sebagai yang tertinggi hari ini disusul DKI, Jateng, Jatim dan lain-lain sampai pada posisi juru kunci ditempati Maluku Utara dengan 16 kasus. Senin 2 Maret 2020 adalah pertama kalinya pemerintah mengumumkan munculnya kasus positif corona yang dialami oleh dua perempuan berusia 31 dan 64 tahun yang saat itu disampaikan langsung ke publik oleh Presiden Jokowi.

Sehari setelahnya presiden menunjuk Achmad Yurianto yang Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan sebagai juru bicara pemerintah untuk Covid-19. Jadilah sejak saat itu masyarakat menjadi begitu akrab dengan gaya khas penyampaian informasi tanpa ekspresi Achmad Yurianto yang setiap hari muncul di media televisi.

Banyak pihak memperbincangkan, mendiskusikan, dan memperdebatkan dalam memaknai angka-angka konfirmasi positif Covid-19 ini. Ketika tembus di angka 5.000, saat tembus di angka 10.000, kemudian pada saat memasuki angka 100.000, dan yang terkini ketika memasuki angka 1.000.000

Tinjauan dari berbagai aspek dilakukan dan diprediksi juga kemungkinan-kemungkinan terbaik dan terburuknya yang akan terjadi. Begitulah pandemi yang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri juga telah mengumumkannya per 9 Maret 2020. Selaras makna harfiahnya, pandemi dipahami sebagai epidemi penyakit yang menyebar luas ke berbagai wilayah menembus batas-batas negara di seluruh dunia. Kata pandemi terkesan ngeri menakutkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan keganasan penyakit, tetapi berkaitan dengan penyebaran dari penyakit yang luas tersebut. Itulah yang terjadi saat ini: pandemi Covid-19.

Masalah yang lebih serius ternyata mulai muncul seiring dengan munculnya pandemi Covid-19. Februari-Maret 2020 adalah awal diberlakukannya begitu banyak hal baru, mulai dari WFH, SFH, PSBB, sampai PPKM. Dari sanalah lingkaran keruwetan ini dimulai.

Ketika pandemi Covid-19 coba diatasi dengan beberapa tindakan dan kebijakan yang sudah cukup cermat ternyata muncul pandemi ekonomi yang oleh masyarakat dianggap lebih menakutkan dibanding pandemi Covid-19. Fakta ini tak dapat dihindari  sebab memang hampir semua permasalahan di dunia ini bersinggungan dengan masalah ekonomi, pun demikian dengan pandemi Covid-19.

Data statistik juga memperkuatnya: menunjukkan adanya beberapa indikator makro ekonomi yang babak belur karena Covid-19; mulai nilai transaksi, ketenagakerjaan, sampai angka pertumbuhan ekonomi dan lain-lain. Masyarakat harus mencukupi kebutuhan hidup dan bertahan hidup di tengah banyak keterbatasan. Situasi sulit masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi  memunculkan “perlawanan” terhadap pembatasan-pembatasan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Tentu saja hal yang demikian semakin menyulitkan semua pihak: pemerintah, satgas covid, pelaku usaha, juga masyarakat itu sendiri. Sekali lagi, hampir semua hal atau masalah di dunia ini muaranya adalah ekonomi, pun demikian dengan pandemi Covid-19.

Mencermati situasi yang demikian, pada akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan: manakah yang lebih menakutkan, pandemi Covid-19 atau pandemi ekonomi? Masing-masing kita tentu mempunyai jawaban dan alasan sendiri-sendiri. Silahkan… (Bambang Budiarto adalah pengamat ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.