Menu

Mode Gelap

kempalanmanca · 28 Okt 2021 23:48 WIB ·

PDB AS Turun Drastis pada Kuarter Ketiga Tahun 2021


					Ilustrasi Dinamika Ekonomi AS-John Hopkins University Perbesar

Ilustrasi Dinamika Ekonomi AS-John Hopkins University

WASHINGTON D.C-KEMPALAN: Ekonomi AS sedang mengalami kemandekan pada kuarter ketiga tahun 2021. Melansir dari Aljazeera, hal tersebut dapat terjadi dikarenakan adanya pandemi COVID-19, rantai pasok yang terkendala, inflasi yang semakin tinggi hingga moneter dari The Fed yang mengalami hambaran sehingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di AS.

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan perhitungan ekonomi dengan menambah dan menghitung semua seluruh unit usaha yang ada dalam suatu negara. Perhitungan PDB seringkali digunakan sebagai tolak ukur perekonomian negara untuk menganalisa kemajuan pertumbuhan ekonomi serta sebagai pembanding ekonomi antar negara.

Untuk PDB AS pada kuarter ketiga tahun 2021, pertumbuhan hanya sebesar 2%. Data tersebut disebutkan langsung oleh Departemen Perdagangan AS pada Kamis (28/10). Hal tersebut kemudian menunjukkan penurunan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan kuarter kedua tahun 2021 yang naik 6,7%. Banyak analis ekonomi yang mengeluarkan pendapatnya mengenai mengapa hal tersebut dapat terjadi.

“Secara ringkas, hal ini merupakan salah satu hal yang menyedihkan dari AS karena pada kuarter sebelumnya, kami mengalami kenaikan 6,7% dari perkiraan 3,5%. Kami terlalu optimistik pada kuarter selanjutnya, namun ternyata hal tersebut tidak sesuai dengan rencana” ucap ekonomis dari Capital Economics yaitu Paul Ashworth.

Penurunan yang sangat tajam tersebut terjadi karena pengeluaran konsumen yang menurun drastis. Konsumsi perseorangan pada kuarter ketiga hanya 1,6% dan jika dibandingkan pada kuarter sebelumnya yang mencapai 12%.

Pandemi COVID-19 juga dikatakan sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Rantai pasok yang terganggu oleh COVID-19 kemudian menyebabkan harga barang semakin mahal yang kemudian berimbas kepada konsumen. Oleh karena itu, setidaknya pemerintah harus bisa memberikan stimulus untuk dapat stimulasi pembelian oleh konsumen.

(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Pfizer Sebut Vaksin Booster Efektif Lawan Varian Omicron

9 Desember 2021 - 01:37 WIB

Pfizer-IDXChannel

Jenderal Tinggi India, Istri dan 11 Orang Lainnya Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter

9 Desember 2021 - 01:06 WIB

Jenderal Bipin Rawat-CNN

Olaf Scholz Resmi menjadi Kanselir Jerman, Janji untuk “Mulai dari Awal”

9 Desember 2021 - 00:48 WIB

Olaf Scholz-DW

Australia Gabung AS untuk Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

9 Desember 2021 - 00:35 WIB

Scott Morrison-CNN

Biden Ancam Putin dengan Sanksi “Kuat” jika Serang Ukraina

9 Desember 2021 - 00:13 WIB

Biden-DW

India dan Rusia Teken Kerja Sama Perdagangan dan Senjata

8 Desember 2021 - 00:31 WIB

Narendra Modi-BBC
Trending di kempalanmanca