KEMPALAN: Pandemi Covid-19 yang telah melewati setahun lebih perjalanannya, sungguh sudah membuktikan kepada kita semua bahwa runtuhnya pergerakan ekonomi ini nyata. Semua sektor semua bidang yang menjadi sendi-sendi juga pilar dan penopang ekonomi melemah. Bencana ekonomi ini datang dan nyata dirasakan oleh semuanya.
Baik oleh pemerintah, dunia usaha, juga masyarakat. Penjualan menurun, omset menurun, pendapatan menurun, pertumbuhan ekonomi pun sudah terjun. Pendek kata semua indikator penyakit makro sudah muncul semua.
Namun fakta derita ekonomi itu tidak terjadi pada industri pembayaran digital kita. Bank Indonesia memiliki catatan nilai transaksi uang elektronik kita yang mencapai Rp 20,7 triliun pada Januari 2021. Jumlah tersebut meningkat 30,7% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 15,9 triliun.
Sungguh, transaksi uang elektronik tercatat tidak mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. Nilainya justru naik, artinya uang jenis ini semakin diminati masyarakat untuk bertransaksi. Ambil contoh, aplikasi dompet digital DANA yang mencatatkan peningkatan jumlah transaksi dan jumlah pengguna. Peningkatan sepanjang 2020 lebih dari 100%. Sampai akhir 2020 tercatat 50 juta pengguna, jumlah ini naik 10 juta pengguna jika dibandingkan tahun sebelumnya. Termasuk juga adanya angka-angka kenaikan jumlah merchant yang bekerja sama dengan DANA juga meningkat sampai akhir 2020.
Lebih dari 1.000 toko online sudah terkoneksi dengan aplikasi DANA, besaran ini tiga kali lipat jika dibandingkan pertengahan 2020. Pendek kata, digital payment, alat pembayaran jenis ini sudah terbang cukup tinggi. Perkembangan digital payment sungguh luar biasa, seakan tidak lagi sekadar menjadi alat pembayaran namun juga sudah menjadi gaya hidup. Menjadi salah satu indikator modernisasi. Perkembangannya sangat pesat, dengan transaksi yang makin banyak dan beragam, masing-masing pengelola juga terus memperbaiki dan meningkatkan qualitynya supaya menjadi makin baik juga.
Saat sekarang keragaman penggunanya adalah untuk spent money, untuk transfer uang, pembayaran billing dan terutama pembelanjaan online yang semakin meningkat saja di masa pandemi ini. Mencermati hal yang demikian, didukung kesadaran masyarakat untuk melakukan pembayaran digital yang semakin tinggi, penetrasi pembayaran digital sepertinya belum akan berhenti bahkan cenderung untuk semakin naik, utamanya untuk jenis pembayaran belanja online.
Memahami situasi dan perilaku konsumen dalam berbelanja online yang sepertinya lebih mempertimbangkan kepraktisan, kecepatan, kemudahan, dan layanan, nampaknya ada pergeseran konsep dasar. Kalau dulu pertama kali belajar ekonomi disodori pola C=a+b.Y, bahwa besaran pendapatan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berkonsumsi.
Di era digital payment ini sepertinya harga lebih berpengaruh daripada pendapatan. Tidak setuju? Tahan nafas, siapkan argumen, bisa didiskusikan lebih lanjut. Aku sih ‘yes’…Salam Sehat Indonesia. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi