Senin, 25 Mei 2026, pukul : 23:46 WIB
Surabaya
--°C

Harapan Baru di Tengah Krisis, Omar Yaghi Mengubah Udara Menjadi Air Kehidupan

SURABAYA-KEMPALAN: Di banyak tempat di dunia, air bersih masih lebih mahal daripada bensin. Anak-anak berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mengisi jeriken. Di wilayah gurun, pulau terpencil, hingga daerah bencana, setetes air bisa menjadi batas antara hidup dan putus asa.

Namun seorang ilmuwan bernama Omar M. Yaghi mencoba membalik kenyataan itu dengan cara yang nyaris terdengar seperti fiksi ilmiah: menarik air minum langsung dari udara.

Pada 2025, Yaghi meraih Hadiah Nobel Kimia bersama Richard Robson dan Susumu Kitagawa atas pengembangan Metal-Organic Frameworks (MOFs), material berpori ultra-ringan yang mampu menangkap molekul gas dan air dalam skala luar biasa kecil. Menerima total hadiah uang sebesar 11 juta SEK, sekitar $ 1,2 juta atau Rp 19 miliar.

Kini, teknologi itu berkembang menjadi perangkat atmosferik yang diklaim mampu menghasilkan hingga 1.000 liter air bersih per hari hanya dari udara dan energi matahari.

Anak Pengungsi yang Haus Air

Kisah Omar Yaghi bukan sekadar cerita laboratorium.

Ia lahir di Amman, Yordania, dari keluarga pengungsi Palestina. Masa kecilnya diwarnai keterbatasan air bersih. Dalam berbagai wawancara, Yaghi mengingat bagaimana keluarganya harus hidup dengan suplai air yang sangat terbatas.

Pengalaman tersebut diam-diam membentuk obsesinya pada satu pertanyaan sederhana, bisakah manusia mengambil air langsung dari udara?

Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan masa kecil itu membawanya menjadi salah satu kimiawan paling berpengaruh di dunia.

Hari ini, Yaghi adalah profesor di chemistry.berkeley.edu dan dikenal sebagai “bapak reticular chemistry”, cabang ilmu yang memungkinkan ilmuwan bisa merancang struktur molekul seperti menyusun lego atomik. Banh.

Spons Molekuler yang Menyedot Air dari Langit

BACA JUGA  Labschool Unesa Kirim Delegasi ke NTCUST Taiwan, Cetak Jagoan AI dan Robotik Masa Depan

Teknologi utama yang dikembangkan Yaghi bernama MOFs (Metal-Organic Frameworks). Bentuknya seperti kristal berongga dengan luas permukaan internal yang luar biasa besar. Satu gram MOF bahkan bisa memiliki luas permukaan setara lapangan sepak bola.

Material ini bekerja seperti spons molekuler.

Pada malam hari, MOF menyerap uap air dari udara – bahkan pada kelembaban rendah sekitar 20 persen. Ketika siang tiba dan sinar matahari memanaskan perangkat, air yang tersimpan dilepaskan lalu dikondensasikan menjadi air minum bersih.

Yang membuat penemuan ini begitu revolusioner adalah kesederhanaannya: tidak membutuhkan jaringan listrik, tidak perlu bendungan, tidak perlu pipa raksasa, dan bisa ditempatkan di mana saja.

Perangkat generasi terbaru yang dikembangkan melalui perusahaan Yaghi, atoco.com, berukuran sekitar kontainer 20 kaki dan dirancang untuk daerah rawan kekeringan, pulau terpencil, hingga kawasan bencana.

Eksperimen Yaghi bukan sekadar teori di jurnal ilmiah.

Prototipe awal perangkat pemanen air ini telah diuji di lingkungan ekstrem seperti Death Valley dan Gurun Mojave di Amerika Serikat. Hasilnya telah menunjukkan teknologi tersebut tetap mampu menghasilkan air meski berada dalam kondisi udara sangat kering.

Dalam pengembangan berikutnya, Atoco bahkan mengusung konsep personalized water – gagasan bahwa setiap komunitas atau rumah suatu hari bisa memroduksi airnya sendiri sebagaimana panel surya menghasilkan listrik.

BACA JUGA  Labschool Unesa Kirim Delegasi ke NTCUST Taiwan, Cetak Jagoan AI dan Robotik Masa Depan

Jika berhasil diproduksi massal, teknologi ini berpotensi mengubah geopolitik air dunia.

Harapan Baru di Tengah Krisis

Karier ilmiah Omar Yaghi dipenuhi terobosan besar.

Selain MOFs, ia juga mengembangkan: COFs (Covalent Organic Frameworks), ZIFs (Zeolitic Imidazolate Frameworks), serta berbagai material kristalin berpori untuk penyimpanan gas, penangkapan karbon, dan energi bersih.

Karya-karyanya telah dikutip ratusan ribu kali dalam publikasi ilmiah dan menjadi fondasi penting bagi: teknologi hidrogen, penangkapan karbon, penyaringan polutan, hingga penyimpanan energi masa depan.

MOFs sendiri kini dianggap sebagai salah satu penemuan material paling penting dalam kimia modern.

Nobel Kimia 2025 diberikan karena material ini dinilai membuka “arsitektur molekul baru” yang bisa membantu menyelesaikan tantangan besar umat manusia.

PBB memperkirakan miliaran manusia akan menghadapi tekanan air bersih akibat perubahan iklim dalam beberapa dekade mendatang.

Di tengah ancaman terseut, penemuan Yaghi menghadirkan sesuatu yang langka dalam dunia modern: harapan.

Bahwa teknologi tidak harus selalu melahirkan ketergantungan baru. Bahwa sains masih bisa bekerja demi kemanusiaan. Dan bahwa seorang anak pengungsi yang dulu hidup dalam kekurangan air ternyata mampu menghadirkan kemungkinan baru bagi dunia.

Mungkin suatu hari nanti, ketika sumur-sumur mengering dan sungai tak lagi cukup, manusia akan menengadah ke langit – bukan hanya mencari hujan tapi memanen kehidupan langsung dari udara.

Rokimdakas

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.