SURABAYA – KEMPALAN: Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berkomitmen mendorong kemajuan bangsa dengan menyatukan penguatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) serta Iman dan Takwa (Imtak). Langkah nyata ini diwujudkan melalui penguatan kolaborasi strategis antara ICMI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan berbagai perguruan tinggi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum MPP ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., saat diwawancarai oleh kempalan.com di sela-sela agenda Musyawarah Wilayah (Muswil) dan Seminar Nasional ICMI yang berlangsung di Plaza Airlangga, Universitas Airlangga, Surabaya, pada Sabtu (4/7).
“Kekuatan Iptek dan Imtak adalah dua kombinasi yang akan menjadi penuntun peradaban kita ke depan. Peradaban tidak hanya dibangun berbasis teknologi dan infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kekuatan jiwa, hati, integritas, karakter, serta nilai-nilai non-material lainnya,” ujar Prof. Arif Satria.
Belajar dari Iran, Tiongkok, dan Korea Selatan
Menanggapi tantangan global dan ketertinggalan teknologi Indonesia dari beberapa negara luar, Arif menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari keberhasilan negara-negara seperti Iran, Tiongkok, dan Korea Selatan. Iran dinilai sukses mandiri secara teknologi dan ekonomi meski diembargo, karena kuatnya sinergi antara ulama dan cendekiawan setempat. Sementara Tiongkok dan Korea Selatan, yang puluhan tahun lalu posisinya sejajar atau di bawah Indonesia, kini telah melompat jauh ke depan.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, penguatan ekosistem riset nasional menjadi kunci utama. Arif menyebutkan bahwa lembaga seperti BRIN tidak bisa berjalan sendiri dan harus menggandeng kampus serta elemen masyarakat.
“ICMI mengambil peran untuk mengorkestrasi berbagai kalangan—mulai dari BRIN, kampus, hingga organisasi civil society. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi ini,” lanjutnya.
Dorong Anggaran Riset Naik Jadi 1 Persen
Saat disinggung mengenai porsi anggaran riset nasional yang saat ini terhitung jauh lebih kecil dibanding program nasional lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Arif memaparkan bahwa alokasi dana riset Indonesia saat ini masih minim, yakni berada di kisaran 0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski begitu, ia menegaskan adanya target dan perjuangan agar anggaran riset minimal bisa menyentuh angka ideal sebesar 1%. Namun, ia mengingatkan bahwa besaran dana bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan, melainkan kejelasan peta jalan (roadmap) riset itu sendiri.
“BRIN sudah menyusun arah riset nasional. Agenda kami di Surabaya hari ini salah satunya adalah mengenalkan arah riset ini ke kampus-kampus di Surabaya agar bisa dijadikan acuan bersama bagi perguruan tinggi maupun BRIN,” jelas Arif.
Melalui program kemitraan seperti BRIN Goes to Society, hasil-akhir riset dan inovasi terbaru akan langsung disosialisasikan ke masyarakat bawah. Dalam hal ini, ICMI mengambil peran strategis sebagai agen yang mendorong proses diseminasi teknologi di lapangan. Sebagai contoh konkret, kerja sama ini telah menelurkan program ketahanan pangan di Indramayu serta pembentukan brigade pangan di berbagai daerah di Indonesia.(Izzat)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi