Senin, 25 Mei 2026, pukul : 23:55 WIB
Surabaya
--°C

Pengikisan Sejarah: Strategi Terencana Menghapus Jejak dan Peran Anak Bangsa (Bag-1)

Ia juga berasal dari kalangan keturunan Arab, yang dengan jiwa nasionalisme tinggi menyerahkan tempat itu yang dibelinya melalui lelang agar bisa dimiliki oleh negara sebagai kenangan tempat yang sangat bersejarah.

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Serangan terhadap Islam yang terus berlangsung hingga hari ini bukanlah rangkaian peristiwa kebetulan atau sekadar luapan kebencian individu semata.

Jika diamati dengan teliti, segala bentuk cemoohan, tuduhan, pemutarbalikan fakta, hingga upaya mengubah makna ajaran, semuanya berjalan dalam satu irama yang sama, berkelanjutan, dan memiliki arah tujuan yang jelas.

Ini adalah sebuah program besar yang dikondisikan, juga direncanakan secara sistematis, dan dilancarkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam dan segala instrumen yang dibawanya.

Sasaran utamanya ditujukan langsung kepada kita, umat Islam, terlebih lagi di tanah air ini di mana kita berada sebagai kelompok mayoritas dan telah menjadi kekuatan utama yang menentukan arah kehidupan bermasyarakat.

Bagi mereka yang tak menyukai keberadaan agama, atau mereka yang menganut paham tertentu yang menganggap agama sebagai penghalang kemajuan, Islam selalu menjadi sasaran serangan yang paling utama dan paling keras.

Alasannya sangat sederhana: karena Islam adalah kekuatan yang paling kokoh, paling utuh, dan paling luas pengaruhnya di tengah masyarakat.

Selama Islam masih kuat, selama itu pula nilai-nilai yang mereka inginkan akan sulit masuk dan berkuasa. Maka, sebelum menyasar hal lain, Islamlah yang harus dipukul, digoyahkan, dan dikikis habis kekuatannya.

Di balik semua upaya ini, ada satu kenyataan yang seringkali luput dari perhatian: bahwa golongan keturunan Arab menjadi sasaran serangan paling utama dan paling keras, dianggap sebagai alat instrumen utama bagi para pemusuh, sebab keturunan Arab ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan identitas Islam di tanah air.

Kehadiran mereka, warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan pemahaman agama yang mereka bawa, dianggap sebagai penjaga keaslian ajaran dan akar sejarah Islam itu sendiri.

Lebih dari itu, sejarah juga telah membuktikan bahwa sumbangsih mereka bagi kemerdekaan, pembentukan negara, dan kesejahteraan bangsa ini sangatlah besar dan tak ternilai harganya.

Karena itulah, bagi mereka yang ingin melemahkan Islam dan memutus akar sejarah bangsa, langkah yang ditempuh adalah merendahkan peran keturunan Arab, menjelekkan citra mereka, atau yang paling parah: meminggirkan dan menghapus jejak jasa-jasa besar mereka dalam membangun negeri ini.

BACA JUGA  Kertajati dan “Industri” Pertahanan AS: Mengancam Kedaulatan RI?

Hitungan mereka ini sangatlah sederhana yaitu jika jasa dan peran besar ini bisa dikaburkan, maka perlahan namun pasti kekuatan dan keaslian Islam di tengah masyarakat pun akan ikut luntur.

Belakangan ini pula muncul stigma negatif yang disematkan kepada mereka dengan julukan imigran Yaman. Padahal, stigma ini sama sekali tidak logis dan bertentangan dengan fakta sejarah.

Mengingat jauh sebelum merdeka tepatnya pada tanggal 4-5 Oktober 1934, para keturunan Arab telah melakukan sumpah setia yang bunyinya menegaskan: tanah air satu-satunya bagi mereka adalah Indonesia.

Oleh karenanya, mereka bukanlah imigran, kakek-kakek merekalah yang memang duluan datang sebagai pendatang (imigran), sedangkan mereka dan generasi yang selanjutnya telah menjadi bagian seutuhnya dari bangsa ini.

Namun, upaya pengikisan ini tidak berhenti pada ajaran dan pemahaman semata. Ada satu strategi lain yang dilakukan dengan sangat halus tapi dampaknya sangat mendalam, yaitu pengaburan sejarah dan penghilangan jejak jasa.

Sejarah adalah ingatan kolektif suatu bangsa. Selama umat masih ingat bahwa nenek moyangnya pernah menjadi pelopor, pembangun peradaban, dan peletak dasar kemajuan negeri ini, selama itu pula rasa percaya diri dan harga diri mereka akan tetap tinggi.

Karena itulah, dalam rencana besar melemahkan Islam, sejarah menjadi sasaran empuk yang harus diubah, disamarkan, atau ditulis ulang sedemikian rupa hingga kebenarannya sulit ditemukan.

Di banyak catatan sejarah, buku pelajaran, maupun narasi umum yang beredar luas hari ini, kita bisa menyaksikan bagaimana nama-nama besar tokoh Islam dan keturunan Arab yang berjasa bagi kemajuan bangsa perlahan mulai hilang atau diputarbalikkan ceritanya.

Salah satu contoh paling nyata dan menyakitkan hati adalah peristiwa mengenai rancangan lambang negara kita, Garuda Pancasila.

Ada pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah ahli sejarah yang menyatakan dengan tegas bahwa perancang dan pencipta gagasan dari awal bentuk lambang burung Garuda yang kita kenal sekarang ini adalah Sultan Abdul Hamid Al-Kadrie  II, pemimpin Kesultanan Pontianak dan juga tokoh keturunan Arab yang sangat dihormati.

Dialah yang merancang, memikirkan, dan memberikan bentuk awal lambang kebesaran negara ini.

Namun, apa yang dibicarakan dan diajarkan kepada masyarakat luas hari ini sangat jauh berbeda. Nama Sultan Hamid Al-Kadrie perlahan-lahan dihilangkan dari catatan, diganti dengan jasa seorang pelukis yang sesungguhnya hanya menerima dan menyalin rancangan yang sudah dibuat oleh Sultan Hamid itu.

BACA JUGA  Tokoh Nasional Anies Baswedan dan Gerakan Rakyat Tak Terbendung: ‘Hurain Aja Bro, Man Jadda Wajada’

Pertanyaan besar yang terlintas di benak kita adalah: bagaimana mungkin seorang tokoh besar, seorang pemikir, dan seorang perancang asli yang telah meletakkan dasar gagasan, jasanya bisa dihapus begitu saja?

Bagaimana mungkin perannya diserahkan kepada orang lain yang tugasnya hanya sekadar menyalin gambar yang sudah ada?

Ini bukan sekadar kesalahan pemahaman sejarah biasa, melainkan sebuah upaya rekayasa terencana untuk menghapus jejak bahwa tokoh-tokoh Islam yaitu tokoh dari kalangan keturunan Arab, dan pemimpin-pemimpin beragama Islam adalah bagian tak terpisahkan dari peletak dasar kemerdekaan dan identitas negara ini.

Masih banyak lagi jejak-jejak besar yang sengaja dikaburkan, dan bahkan hampir dihapus sama sekali dari ingatan bangsa ini.

Kita jarang sekali mendengar pengakuan luas dari negara maupun narasi sejarah umum mengenai peran besar seorang tokoh keturunan Arab bernama Sultan Syarief Kasim II.

Ia dikenal luas telah menyumbangkan harta kekayaan yang jumlahnya tak ternilai harganya bagi kepentingan dan kelangsungan negara pada masa-masa sulit pada  awal kemerdekaan, namun namanya nyaris tak terdengar lagi di telinga kita hari ini.

Begitu pula dengan momen paling bersejarah, saat dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan. Kita jarang sekali diingatkan atau mendengar disebutkan bahwa rumah yang dihibahkan dan digunakan sebagai tempat bersejarah pembacaan teks tersebut, adalah sumbangan dari NV Marba atas nama Faradj Martak.

Ia juga berasal dari kalangan keturunan Arab, yang dengan jiwa nasionalisme tinggi menyerahkan tempat itu yang dibelinya melalui lelang agar bisa dimiliki oleh negara sebagai kenangan tempat yang sangat bersejarah.

Betapa menyedihkan, bahwa di saat kita merayakan hari kemerdekaan, kita lupa atau tidak pernah diberitahu siapa sesungguhnya yang menghibahkan tempat bersejarah itu kepada negara, dan betapa besar peran serta golongan ini dalam menopang berdirinya republik Indonesia, baik lewat pemikiran, kebijakan, harta benda, maupun tempat dan fasilitas.

Tujuannya sangat jelas dan halus: sehingga masyarakat keturunan Arab, dan juga khususnya umat Islam hari ini, merasa bahwa mereka, atau tokoh-tokoh leluhur mereka, tidak pernah memiliki peran besar dalam sejarah bangsa ini. (Bersambung Bag-2)

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.