Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 13:32 WIB
Surabaya
--°C

Pengikisan Sejarah: Strategi Terencana Menghapus Jejak dan Peran Anak Bangsa (Bag-2)

Menuju Indonesia yang makmur, adil, dan sejahtera, di mana setiap jejak sejarah dihargai, setiap jasa leluhur diakui, dan setiap unsur bangsa hidup berdampingan dalam damai.

KEMPALAN: Ketika jejak jasa tersebut dikaburkan, maka rasa bangga akan identitas pun luntur.

Ketika umat tidak lagi tahu bahwa leluhurnya adalah tokoh peletak dasar negara, penyumbang harta demi negara, dan penyedia tempat bagi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan, maka mereka akan merasa dirinya selalu berada di bawah, selalu berhutang budi, dan mudah diatur karena mereka telah kehilangan suatu tonggak sejarah yang menjadi pondasi harga diri mereka.

Satu strategi lain yang sangat gencar dilakukan belakangan ini yaitu pembenturan antara Islam dengan budaya lokal. Ini adalah cara yang sangat licik dan halus untuk memisahkan umat dari akarnya, sekaligus memutuskan hubungan agama dengan kehidupan masyarakat.

Mereka sengaja menciptakan narasi seolah-olah Islam itu asing, Islam itu baru datang, dan Islam itu bertentangan dengan kearifan lokal, adat istiadat, atau seni budaya bangsa ini.

Diucapkanlah kalimat-kalimat yang terdengar indah di permukaan namun beracun di dalamnya, seperti misalnya perbandingan yang tidak perlu bahwa suara alunan gamelan terasa lebih merdu dan menyejukkan dibandingkan suara lantunan azan panggilan ibadah bagi umat Islam.

Kalimat seperti ini sengaja dilontarkan bukan karena mencintai seni budaya lokal, tapi untuk menanamkan benih rasa tidak suka, rasa asing, dan rasa bertentangan di dalam hati masyarakat.

Padahal jika kita menengok kembali lembaran sejarah yang sesungguhnya, tidak pernah ada benturan seperti itu.

Sejak ratusan tahun yang lalu, saat Islam masuk dengan damai dan tumbuh di tengah masyarakat nusantara, ia hidup berdampingan, menyatu, dan (untuk) memperkaya budaya yang ada.

Seni, musik, sastra, dan adat istiadat berkembang di bawah naungan Islam, bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran, namun tetap lestari dan menjadi kebanggaan bersama. Islam dan budaya tumbuh bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi, bukan dua kekuatan yang saling memusuhi.

Maka, narasi pertentangan yang beredar keras hari ini hanyalah rekayasa semata, buatan mereka yang ingin merenggangkan ikatan itu, agar masyarakat terbelah, agar Islam merasa tidak memiliki tempat, dan agar budaya terlepas dari nilai-nilai agama yang menjaganya tetap luhur.

Tujuan akhir dari seluruh program pengikisan ini sangat jelas sekali dan spesifik: menghancurkan kualitas Islam.

Perlu dipahami bahwa musuh Islam tidak menginginkan nama Islam itu hilang dari muka bumi. Mereka sadar sepenuhnya bahwa hal itu mustahil dan tidak mungkin dilakukan mengingat kekuatan dan penyebarannya yang begitu luas.

Apa yang mereka inginkan adalah mengubah isi dan kualitasnya. Mereka ingin agar Islam yang ada di tengah masyarakat nanti bukan lagi Islam yang asli, murni, dan tajam ketetapannya, tapi Islam yang sudah tergerus, tercampur, lemah, dan hanya tinggal nama atau simbol belaka.

BACA JUGA  Renungan – Rakus dan Tamak: Dari Rutin, Proyek, Sampai SDA Dia Sikat 

Mereka berusaha dengan keras agar Islam tidak lagi menjadi pedoman hidup yang menguasai seluruh aspek kehidupan, tidak lagi menjadi hukum yang berlaku, dan tidak lagi menjadi identitas yang membanggakan.

Mereka menginginkan Islam yang diam, Islam yang pasif, dan Islam yang bisa diterima oleh ukuran-ukuran standar yang mereka buat sendiri, bukan ukuran yang ada dalam ajaran aslinya.

Usaha menghancurkan kualitas ini dilakukan melalui tiga (3) jalur utama yang menyerang sendi-sendi kekuatan Islam.

Pertama, menghancurkan kualitas ajaran. Ini dilakukan dengan cara mengubah makna teks, melemahkan ketetapan syariat, memunculkan penafsiran-penafsiran yang menyimpang, dan memisahkan ayat-ayat Al-Quran dari konteks aslinya.

Berbagai aliran pemikiran terus-terusan dimunculkan dengan kedok pembaruan atau modernisasi, padahal intinya adalah melunakkan ketentuan agama agar tidak lagi berbenturan dengan keinginan atau nilai-nilai luar yang bertentangan. Tujuannya adalah agar ajaran Islam tidak lagi memiliki kekuatan mengikat atau kekuatan penentu dalam kehidupan umat kita di sini.

Kedua, menghancurkan kualitas pemahaman. Di sini sasaran utamanya adalah akal dan hati umat Islam itu sendiri.

Mereka menanamkan suatu keraguan, membingungkan makna, dan memutus hubungan umat dengan sumber pengetahuan aslinya.

Mereka juga telah berusaha membuat umat Islam merasa bahwa ajarannya sudah ketinggalan zaman, kaku, atau penuh kekurangan.

Melalui pendidikan, media, dan budaya, mereka membentuk pola pikir baru di mana kebenaran tidak lagi bersumber dari wahyu, melainkan dari standar yang mereka tetapkan.

Jika umat sudah bingung atau ragu terhadap ajarannya sendiri, maka pertahanan diri mereka pun runtuh dengan sendirinya tanpa perlu ada serangan senjata.

Ketiga, dengan menghancurkan kualitas citra. Ini adalah bagian dari peperangan psikologis yang paling gencar dilakukan. Islam digambarkan sebagai agama penuh kekerasan, penindasan, kemunduran, dan penghalang kemajuan peradaban.

Berbagai kejadian yang terjadi di mana saja, selama ada unsur Islam di dalamnya, akan diangkat, dibesar-besarkan, dan dihubungkan langsung dengan ajaran pokok agama, padahal seringkali itu adalah tindakan individu atau kelompok yang tidak memahami ajaran itu sendiri.

Sebaliknya, segala kebaikan, kemajuan, dan jasa besar yang dibangun oleh tokoh-tokoh Islam dan keturunan Arab sepanjang sejarah bangsa ini, seperti yang telah dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid, Sultan Arif Kasim, H Muthahar, maupun hibah berharga dari NV Marba, dan lainnya, semua sengaja dikaburkan atau dihilangkan sama sekali.

Tujuannya jelas: agar umat Islam dan masyarakat luas memandang Islam sebagai sesuatu yang tidak memiliki sumbangsih berharga.

Cara yang dipakai untuk menjalankan program ini sangat beragam, mulai dari yang terang-terangan hingga yang tersembunyi dan halus. Ada serangan langsung yang menyerang ketetapan agama dengan tuduhan tidak manusiawi atau tidak sesuai zaman.

BACA JUGA  Badan Khusus Ekspor: VOC Gaya Baru?

Ada pula cara pemutarbalikan fakta sejarah, seperti kasus rancangan lambang negara, penghapusan nama penyumbang harta negara, maupun penyembunyian siapa sesungguhnya yang menghibahkan rumah tempat proklamasi. Ada juga cara pembenturan agama dan budaya, agar kita merasa asing di negeri sendiri.

Kesimpulannya, apa yang sedang kita saksikan hari ini, yaitu sebuah pertempuran besar melawan kualitas Islam. Musuh tidak berniat memusnahkan nama Islam, mereka berniat memusnahkan kekuatan dan kualitas di dalamnya.

Mereka membenci dan menyerang kita karena kita mayoritas karena Islam adalah benteng yang paling kokoh, dan karena Islam tidak sejalan dengan paham-paham yang ingin menyingkirkan agama dari kehidupan.

Mereka menyerang dan meminggirkan peran keturunan Arab karena sadar bahwa mereka adalah penjaga sejarah dan akar Islam di sini, sekaligus saksi betapa besar sumbangsih mereka bagi republik ini.

Mereka mengubah sejarah, menghapus nama dari Sultan Abdul Hamid Al-kadrie, Sultan Syarief Kasim II, dan jasa hibah dari Faradj Marta, yang bukan hanya rumah proklamasi saja tapi banyak gedung dan uang yang ia hibahkan pada negara yang ia cintai, semua ini agar kita lupa siapa sesungguhnya yang berjasa membangun negeri ini dari awal berdiri hingga sekarang.

Mereka membuat-buat pertentangan antara Islam dan budaya, padahal sejarah membuktikan keduanya pernah tumbuh bersatu dan saling mengisi.

Memahami strategi pengikisan ini adalah langkah pertahanan pertama bagi umat Islam.

Selama umat Islam masih menjaga kemurnian ajarannya, masih berpegang pada sumber aslinya, masih sadar akan sejarah kebesaran bangsanya yang banyak diisi oleh tokoh Islam dan keturunan Arab, serta tetap mau menjaga kesatuan antara agama dan budaya, maka segala upaya pengikisan itu tidak akan pernah berhasil mengubah hakikat kebenaran yang tercatat rapi dalam sejarah dan terjaga hingga akhir zaman.

Marilah kita, pada zaman yang penuh ujian dan perubahan seperti sekarang ini, meninggalkan segala cara pandang yang memecah-belah, meninggalkan suatu kebiasaan mengaburkan sejarah, serta membuang jauh-jauh segala niat yang ingin melemahkan satu sama lain.

Marilah kita berdiri tegak bersatu, menuju Indonesia yang benar-benar satu, utuh, dan kokoh.

Menuju Indonesia yang makmur, adil, dan sejahtera, di mana setiap jejak sejarah dihargai, setiap jasa leluhur diakui, dan setiap unsur bangsa hidup berdampingan dalam damai.

Karena hanya dengan persatuan, kebenaran sejarah, dan kebersamaan, cita-cita luhur bangsa ini akan mampu kita wujudkan sepenuhnya.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

 Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.