Rabu, 11 Februari 2026, pukul : 01:43 WIB
Surabaya
--°C

Mencari Makna Lain dari Subsidi Listrik

KEMPALAN: Maret 2021 segera berakhir. Sebenarnya biasa saja, tidak ada yang aneh dan luar biasa di bulan ini, kecuali ada catatan Hari Raya Nyepi dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Catatan lain di bulan ini adalah dibukanya keran KPR DP 0% serta adanya Relaksasi Pajak untuk PPnBM.

Hiruk-pikuk lain Bulan Maret ini yang mungkin dapat digarisbawahi adalah ajakan presiden untuk menggaungkan cinta produk dalam negeri dan benci produk luar negeri. Meskipun setelahnya, sepertinya pak presiden ragu juga dengan ajakan benci ini. Mungkin setelah ada beberapa masukan dan beberapa kekhawatiran.

Gegap gempita Maret sepertinya masih akan diwarnai dengan masih terus berlangsungnya adu argumen dua kubu Partai Demokrat. Kita hanya bisa menunggu hasil akhirnya saja. Namun sebenarnya ada catatan menarik yang terselip tersembunyi di Maret ini, berakhirnya subsidi listrik.

Terkait pandemi Covid-19 pemerintah memang telah berketetapan memberikan subsidi listrik sampai Maret 2021. Subsidi periode inipun sebenarnya adalah sebuah perpanjangan dari program sebelumnya yang harusnya telah berakhir Januari 2021. Diperpanjang lagi sampai Maret 2021 ini.

Subsidi listrik yang sekarang sebenarnya diberikan terbatas, kepada pelanggan dengan daya 450 volt ampere (VA) dan 900 VA. Subsidi listrik sebagai bagian dari stimulus selama pandemi Covid-19 ini diberikan 100% kepada pelanggan dengan daya 450 VA dan 50% untuk pelanggan  dengan daya 900 VA.

Pelanggan yang berhak memperoleh subsidi adalah yang telah terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Kementrian Sosial. Sampai saat sekarang penerima subsidi listrik 450 VA ada sebanyak 24,16 juta pelanggan. Sementara itu untuk penerima subsidi dengan daya 900 VA terdapat sebanyak 7,87 juta pelanggan.

Mencermati pola yang demikian sepertinya tujuan pemerintah melalui PT PLN tepat, yaitu memberikan subsidi tepat sasaran di masa pandemi covid-19. Beban hidup masyarakat pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA menjadi lebih ringan. Alhamdulillah dan terima kasih.

Berikutnya boleh dilihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda dalam tataran mikro ekonomi. Tarif listrik, elastisitas permintaan-nya dapat dimasukkan dalam kelompok barang in-elastis. Pada sebagian masyarakat yang lain mungkin juga masuk dalam kelompok barang dengan elastisitas permintaan yang in-elastis sempurna.

Demikianlah konsep dasar mikro ekonomi melihatnya, bahwa setiap barang mempunyai elastisitas permintaan yang berbeda-beda; unitary elastis, elastis, elastis sempurna, in-elastis, dan in-elastis sempurna. Sederhananya elastisitas adalah kepekaan, kepekaan perubahan harga barang terhadap jumlah barang yang diminta.

Barang dengan elastisitas permintaan yang in-elastis berarti pada setiap kenaikan harga yang cukup besar ternyata hanya akan menurunkan sedikit saja jumlah barang yang diminta, pun demikian sebaliknya jika harga mengalami penurunan harga yang besar, kenaikan permintaannya pun tidak akan banyak. Seperti inilah pola tarif listrik PLN.

Bahkan bisa jadi in-elastis sempurna, artinya seberapapun naik dan turunnya harga, jumlah barang yang diminta akan tetap. Memahami prinsip yang demikian tentunya akan lebih ideal sebenarnya jika di masa pandemi pemerintah memberikan subsidi tidak hanya kepada ‘barang’ yang memiliki elastisitas permintaan yang in-elastis ataupun in-elastis sempurna. Manfaatnya akan lebih dirasakan masyarakat jika subsidi diberikan kepada masyarakat terhadap barang yang memiliki elastisitas yang elastis.

Artinya, barang yang perubahan harganya memiliki pengaruh besar pada perubahan jumlah barang yang diminta. Barangkali bisa ikut berpikir, barang-barang apa saja? Silahkan. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)                 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.