Untuk memilih Presiden dan wakilnya, para anggota MPR tidak butuh konsultan seperti Mujani dkk. Jika Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka jatuh, maka proyek Pilpres akan segera dilakukan lagi.
Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
KEMPALAN: Beberapa hari terakhir, publik disibukkan oleh pernyataan Saiful Mujani dkk dalam sebuah acara Halal Bi Halal yang diprakarsai oleh Ray Rangkuti. Mujani mengajak audiensinya untuk mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.
Prosedur pemakzulan formal dinilai Mujani tidak mungkin diharapkan dari DPR. Setelah muncul tuduhan makar atas pernyataan Mujani tersebut oleh beberapa eksponen masyarakat, ada acara di UIN Syarif Hidayatullah yang mendukung pernyataan Mujani sebagai profesor kampus tersebut.
Mujani menolak pernyataannya sebagai makar, tapi hanya political engagement.
Sementara itu, Budiman Sujatmiko dalam beberapa podcast menyebut bahwa demokrasi Indonesia baik-baik saja, tidak seperti penilaian Mujani dkk. Gagasan Mujani dkk tidak relevan, tidak memperoleh konteksnya secara sosiologis.
Bahkan, Budiman menilai Mujani telah menjilat ludahnya sendiri karena jauh hari sebelumnya, Mujani menyatakan bahwa demokrasi hanya soal prosedur, tidak boleh dibebani dengan tujuan lain seperti keadilan.
Budiman menilai, Mujani tidak konsisten karena mengajak keluar dari prosedur formal pemakzulan yang sudah diatur UUD 10/8/2002 hasil reformasi.
Budiman mensinyalir bahwa Prabowo sedang menggunakan demokrasi untuk mengubah konfigurasi elit ekonomi yang timpang, sedang Joko Widodo sudah berhasil mengubah konfigurasi elit politik.
Upaya Prabowo tentu saja mengganggu kemapanan elit ekonomi, termasuk elit industri demokrasi seperti Mujani melalui SMRC. Prabowo sedang berusaha agar Pilkada dilakukan oleh DPRD. Ini akan mengganggu industri demokrasi.
Target dari Prabowo terakhir adalah Pilpres melalui MPR sesuai UUD 18/8/1945. Prabowo yang pernah nyapres 3 kali menilai bahwa Pilpres langsung tidak hanya brutal, tapi juga mahal membebani APBN dan para konstestan. Biaya politik yang mahal ini insentif untuk praktik-praktik korupsi pejabat publik.
Ajakan upaya penggulingan presiden Prabowo oleh Mujani itu perlu dipahami dalam konteks industri demokrasi yang telah menyebabkan high cost politics di Indonesia sejak pilpres dan pilkada langsung berlaku.
Logika ini juga berlaku saat kita melihat konflik militer di Timur Tengah antara Iran vs Amerika Serikat-Israel. Ini bukan konflik ideologis, tetapi itu bagian dari industri perang. Perang adalah bisnis, and a very good one.
Saat Pilkada dilakukan oleh DPRD dan Pilpres oleh MPR 2029, maka peran dari konsultan-konsultan politik seperti SMRC akan berkurang, jika bukan hilang sama sekali.
Pilpres langsung adalah arena perjudian besar dengan biaya mahal bagi para kontestan. Para kontestan harus menyiapkan logistik yang hanya bisa disediakan oleh para bandar politik.
Bahwa Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota terpilih hanya petugas partai yang menjalankan agenda partai, bukan mandataris yang menjalankan GBHN. Konsultan-konsultan politik menjadi tim sukses para konstestan dengan biaya yang tidak murah.
Pilpres langsung yang melibatkan 160 juta pemilih – di 800 ribu TPS yang tersebar di bentang kepulauan seluas Eropinia – adalah judi besar karena sebagian besar pemilih adalah rationally ignorant.
Yang terjadi dalam pilpres langsung adalah asal coblos massal, sehingga berlaku the law of large numbers yang makin memperkuat Olsonian effects.
Sementara, Pilpres melalui 1000 perwakilan kita di MPR akan dilakukan melalui musyawarah bil hikmah yang elaboratif, bukan asal coblos. Secara statistik, pilpres melalui MPR atau pilkada melalui DPRD juga valid and legitimate untuk merekrut pejabat publik bermutu.
Untuk memilih Presiden dan wakilnya, para anggota MPR tidak butuh konsultan seperti Mujani dkk. Jika Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka jatuh, maka proyek Pilpres akan segera dilakukan lagi.
Tidak perlu menunggu 2029. Itu terlalu lama bagi Mujani dkk. Jika kita termakan ajakan industri demokrasi Mujani seperti ini, maka kita benar-benar demos yang crazy.
*) Daniel Mohammad Rosyid, @Rosyid College of Arts, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi