Sabtu, 23 Mei 2026, pukul : 15:25 WIB
Surabaya
--°C

Komando Perang Atau Pidato Ketakutan

Tetapi, yang jauh lebih keren itu sebenarnya saat kita mampu memproduksi mazhab yang bisa “menelannya” dengan menikamnya persis di jantungnya. Di sini, presiden Prabowo sedang mencoba: walau ia terlihat sendirian.

Oleh: Yudhie Haryono

KEMPALAN: Birokrasinya budek. Agamanya KKN. Komunitas epistemiknya jadi pengkhianat. Pasukannya disersi. Tradisinya serakah. Inilah lima dosa di sekitar Presiden Prabowo Subianto.

Karenanya, meskipun komando perang telah berkali-kali diteriakkan, kemenangan belum didapatkan. Alih-alih serentak menghabisi para penjahat, pidatonya sudah menjadi mirip suara gentar ketakutan kursinya dirobohkan.

Ya. Kita lihat dengan mata telanjang, ketika Prabowo minta 10 hitman, serdadu kasih 15. Birokrat kasih 20. Elit kasih 25. Dengan arsitektur ekopol demikian, kita memang banjir bajingan, penjahat dan pendendam kemiskinan yang mimpi korup sejak dari pikiran, bahkan sejak dari kandungan ibunya.

Yang lebih berbahaya, pidato-pidato itu dianggap mengancam kepentingan geopolitik dan ekonomi oligark yang nyambung ke nekolim lama maupun baru. Akibatnya, mereka melakukan operasi propaganda besar-besaran untuk menggambarkannya sebagai ancaman stabilitas, anti-Barat, dan berbahaya bagi dunia internasional. Termonitor berbagai agensi, lembaga dan media sudah melakukannya.

Padahal pidatonya baru membangkitkan semangat kemandirian nasional. Baru pertobatan. Baru keinsyafan. Belum beresonansi dengan minat dan kebutuhan rakyat. Belum jadi gerakan nasional. Belum jadi revolusi pancasila.

Hal ini karena sekitarnya masih banyak hitman dan pencari sego lan rupo. Belum pasukan ideologis, bukan patriot Pancasila, bukan negarawan otentik.

BACA JUGA  Di Hadapan Peserta PKN II dan Latsar CPNS, Ini Harapan Khofifah

Kini, Presiden Prabowo Subianto membawa berbagai kebijakan yang menekankan pentingnya kemandirian pangan, energi, papan, sekolah (kurikulum), juga hilirisasi industri nasional, penguatan BUMN strategis, dan penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, ketahanan air bersih, pengurangan ketergantungan impor, penguatan industri nasional dan pertahanan nasional, serta kembali ke jati diri (pancasila dan konstitusi asli).

Dalam konteks geopolitik global, pikiran, ucapan, tulisan dan kebijakannya sering tidak disukai oleh kekuatan ekonomi internasional yang selama puluhan tahun menikmati dominasi terhadap pasar dan sumber daya negara berkembang. Begitu juga di tingkat lokal: dianggap mengganggu sumber nafkah yang serakah.

Karena itu, kita perlu memahami bahwa tidak semua kritik asing dan lokal murni demi demokrasi atau bahkan hak asasi manusia. Kritik itu lebih karena interes pribadi yang ilutif dan takut akan dosa-dasanya di masa lalu.

Kita menyadari bahwa dalam sejarah dunia, isu demokrasi dan HAM seringkali digunakan sebagai instrumen geopolitik untuk menekan negara-negara yang ingin mandiri secara ekonomi. Propaganda ini tidak selalu menggunakan senjata, tapi media, agen, rating dan narasi.

Cara-cara yang digunakan biasanya dengan membentuk opini bahwa kebijakan nasionalis akan menghancurkan ekonomi dan menggelapkan masa depannya; mengungkap dosa-dosa masa lalunya; mengkampanyekan pemimpin nasionalis sebagai ancaman demokrasi dan HAM; membuat ketakutan terhadap investasi asing keluar dari negara; menyebarkan pesimisme terhadap kemampuan bangsa sendiri.

BACA JUGA  Gubernur Khofifah Lepas 3.600 Lulusan SMK dan LKP Kerja di Luar Negeri

Saat bersamaan, melalui agen-agen mereka menghapus mimpi-mimpi republik; menggunakan media internasional untuk mempengaruhi elite lokal dan kelas menengah agar berontak; juga membenturkan rakyat dengan pemerintah melalui isu ekonomi jangka pendek.

Memang, melepaskan diri dari mazhab neoliberal dan penjajahan kaum serakah itu susah, apalagi menghajarnya.

Tetapi, yang jauh lebih keren itu sebenarnya saat kita mampu memproduksi mazhab yang bisa “menelannya” dengan menikamnya persis di jantungnya. Di sini, presiden Prabowo sedang mencoba: walau ia terlihat sendirian.

Padahal, Pancasila dan pikiran pendiri republik kita masih sama. Keduanya, duduk di tempat yang sama dengan perasaan yang tidak pernah berubah sedikit pun.

Karenanya bagi kami, mendukungmu (pikiran, tulisan, harapan dan juga program) bukanlah sebuah beban atau hal yang menjemukan, melainkan cara terbaik untuk menjaga kesetiaan dan kecintaan pada republik.

Setiap detik yang berlalu tanpa kehadiran proyek besar itu justru membuat rasa ini semakin khawatir dan membuktikan bahwa ruang di hati kami memang hanya diciptakan khusus untukmu.

Kami tidak peduli seberapa jauh jarak membentang atau seberapa lama waktu harus dihabiskan untuk merealisasikannya.

Karena kami percaya akhir dari pertempuran dan perang ini adalah kebahagiaan bersama. Kita akan buktikan bahwa semesta berpihak pada peradaban Pancasila.

*) Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.