WASHINGTON-KEMPALAN: Pemerintahan Amerika Serikat (AS) bersiap untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran. Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan serangan lebih lanjut terhadap Iran dapat memperluas konflik di luar Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump dikabarkan langsung menuju Gedung Putih dan membatalkan rencana menghabiskan akhir pekan Memorial Day di properti golfnya di New Jersey. Bahkan Presiden Trump tidak dapat menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr, akhir pekan ini.
CBSnews mengutip keterangan berbagai sumber menyebutkan bahwa beberapa anggota militer dan komunitas intelijen AS membatalkan rencana untuk akhir pekan Memorial Day sebagai antisipasi kemungkinan serangan.
Belum ada keputusan akhir mengenai serangan yang telah dicapai hingga Jumat (22/5/2026) sore waktu setempat. Para pejabat pertahanan dan intelijen mulai memperbarui daftar penarikan kembali instalasi AS di luar negeri mengantisipasi kemungkinan pembalasan Iran.
AS dan Iran telah sepakat menahan diri untuk tidak saling menyerang sejak gencatan senjata sementara dimulai pada awal April. Kesempatan itu memberi waktu untuk pembicaraan tidak langsung tentang kesepakatan jangka panjang.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan kepada CBS News bahwa Presiden Trump telah menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak boleh menyimpan uranium yang diperkaya.
“Presiden selalu mempertahankan semua opsi setiap saat, dan tugas Pentagon adalah siap untuk melaksanakan keputusan apa pun yang dapat dibuat oleh Panglima Tertinggi. Presiden telah menjelaskan konsekuensi jika Iran gagal mencapai kesepakatan,” kata Kelly.
Teheran sedang meninjau proposal terbaru AS untuk kemungkinan kesepakatan mengakhiri perang yang hampir tiga bulan dan telah mengguncang pasar energi serta mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar.
Menurut sebuah sumber yang mengatakan kepada CBS News bahwa proposal itu juga disertai dengan peringatan bahwa menolak tawaran yang disebut sebagai tawaran terakhir ini akan berarti serangan militer akan berlanjut.
Presiden Trump siap memberi Teheran “beberapa hari” untuk menanggapi tawaran terbaru AS. “Iran sangat ingin mencapai kesepakatan. Kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump.
Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut terhadap Teheran dapat memperluas konflik di luar Timur Tengah. Mereka menjanjikan pukulan telak kepada AS jika melakukan serangan militer.
Iran mengatakan pihaknya tidak meminta “konsesi apa pun” dari AS dan menegaskan Teheran hanya menginginkan hak-haknya dipulihkan dan sanksi dicabut. Iran mengecam blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
“Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat; kami hanya menginginkan hak-hak kami,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui kantor berita Tasnim Iran, Jumat (22/5/2026).
Baghaei menegaskan Teheran menuntut pengakhiran tindakan kriminal AS terhadap rakyat Iran. “Sanksi harus dicabut, aset Iran yang dibekukan harus dilepaskan dan tersedia untuk negara,” katanya.
Baghaei mengatakan sanksi tersebut diberlakukan dengan berbagai dalih, terutama atas apa yang Washington gambarkan sebagai ancaman nuklir Iran. “Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap aktor mana pun di kawasan atau dunia,” tambahnya.
Baghaei juga membahas perkembangan terkait Selat Hormuz, mengkritik blokade Angkatan Laut AS karena bertentangan dengan hukum internasional. Dia menyerukan Washington untuk mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri blokade tersebut. (wasis/berbagai sumber)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi