Cintailah “Ploduk-Ploduk” Dalam Negeri

waktu baca 7 menit

KEMPALAN: Soal kecintaan terhadap produk-produk dalam negeri Alim Markus memang jagonya. Pengusaha senior asal Surabaya itu menjadi produsen alat-alat rumah tangga paling terkemuka di Jawa Timur, dan menghabiskan hidupnya untuk kampanye mencintai produk dalam negeri.
Alim membuat banyak serial kampanye cinta produk dalam negeri yang disiarkan di sejumlah televisi nasional. Ia tampil bersama mantan ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Jimly Asshiddiqie dan penyanyi senior Titik Puspa mengenakan pakaian tradisional. Dan di setiap akhir iklan Alim mengucapkan tagline yang menjadi kekhasaannya: “Cintailah Ploduk-Ploduk Indonesia”.

Aksennya yang terbata-bata dan lidahnya yang cadel membuat Alim tidak bisa mengucap “produk” dengan fasih, dan yang terdengar adalah “ploduk”. Tapi ternyata kecadelan itu justru membuat iklan-iklannya viral dan ungkapan “ploduk-ploduk” menjadi ciri khas Alim Markus yang sering dikutip banyak orang sebagai bahan candaan maupun sebagai ungkapan serius.

Alim  Markus tahun ini genap berusia 70 tahun, masih sehat, lincah, dan ramping karena rutin bermain tenis meja di “Dengkul Klub” bersama sesama pengusaha China. Markus
mendirikan grup Maspion yang menjadi produsen terkemuka alat-alat rumah tangga, elektronika, dan pipa PVC yang mempekerjakan 30 ribu orang. Setiap pagi dan sore jalanan di bundaran Waru yang menghubungkan Bandara Juanda dengan pusat kota Surabaya penuh sesak oleh karyawan Maspion yang berangkat dan pulang kerja.

Dalam salah satu iklan Alim mengatakan bahwa dia orang Indonesia yang kebetulan punya darah China, seperti Gus Dur. Alim menyebut almarhum Presiden Gus Dur karena dia memang dekat dengan Gus Dur dan menjadi anggota Dewan Pemulihan Ekonomi Nasional. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maju menjadi capres pada 2004 Alim juga direkurt menjadi tim pemenangan.

Alim dihormati sebagai sesepuh di lingkungan pengusaha China dan disegani oleh para gubernur Jawa Timur. Ia diangkat sebagai konsul kehormatan oleh pemerintah Kanada.
Para pengamat politik di Jatim mengatakan bahwa para gubernur Jatim takut pada dua orang alim, pertama Alim Ulama dan kedua Alim Markus. Sebagai kandang NU (Nahdhatul Ulama) Jatim gudangnya alim ulama yang sangat menentukan dalam perpolitikan regional. Selain itu Jatim juga punya pengusaha-pengusaha China yang “alim” juga seperti Alim Markus dan Alim Satria, dua pengusaha China yang masih sekerabat.

Soal persaingan dagang melawan produk luar negeri Alim Markus sudah sangar kenyang makan asam garamnya. Dalam sepuluh tahun terakhir produk-produk Maspion menghadapi serbuan hebat dari produk-produk China yang membanjir dengan harga murah dan kualitas yang bersaing. Di tengah dunia global yang serba terbuka seperti sekarang Alim sadar bahwa tidak mungkin membendung serbuan produk luar negeri itu melalui proteksi semisal tarif tinggi atau subsidi untuk produk dalam negeri. Alim sadar bahwa dalam persaingan pasar bebas seperti sekarang publik punya kebebasan untuk memilih produk yang paling murah dan paling baik kualitasnya. Dalam hal ini China memang jagonya. Melarang produk China tidak mungkin. Maka yang dilakukan oleh Alim Markus adalah melalukan kampanye cinta produk dalam negeri.

Alim Markus bertindak sebagai brand ambassador bagi produk-produknya sendiri. Menilik reputasi dan pengaruh sosial, ekonomi, dan politiknya, Alim Markus layak diangkat sebagai brand ambassador nasional untuk mengampanyekan produk-produk dalam negeri.

Strategi Alim Markus beda dengan Jokowi yang memilih menentang arus dengan menantang kampanye “Bencilah Produk Luar Negeri”. Cara menantang ala Jokowi ini berisiko memunculkan kampanye balik untuk membenci produk Indonesia oleh negara lain.

Dalam praktik perdagangan bebas global seperti sekarang tindakan saling membalas dendam menjadi hal yang lumrah seperti yang terjadi dalam perang dagang antara China vs Amerika. Setiap ada satu perlakuan negatif oleh China terhadap produk Amerika pasti langsung dibalas oleh Amerika dengan menerapkan sanksi balasan terhadap produk China yang masuk ke Amerika. Kampanye anti produk teknologi 5G milik China yang sekarang gencar dilakukan di Eropa dan Amerika merupakan contoh kongkret perang dagang terbuka itu. Semasa Donald Trump menjadi presiden ia dengan tegas menolak 5G di negaranya. Trump tidak menggunakan slogan “Bencilah Produk-Produk China” seperti yang dilakukan Jokowi, tapi Trump langsung tegas melarang penerapan teknologi 5G di Amerika.

Kampanye membenci produk asing ala Jokowi menjadi fenomena mutakhir yang menandai munculnya paradoks global. Futurolog terkemuka John Naisbitt mengungkapkan fenomena paradok global itu dalam buku “Global Paradox” (1994), yang menunjukkan fenomena paradoks dalam globalisasi. Semakin besar aktivitas ekonomi global yang ditunjukkan oleh perusahaan multinasional global maka semakin besar juga peran yang dimainkan oleh perusahaan-perusahaan kecil dan menengah sekelas UMKM Indonesia. Perusahaan kecil ini lebih fleksibel dalam bergerak dan lebih lincah untuk berubah dibanding multinasional raksasa yang kegemukan dan susah bergerak.

Semakin muncul koalisi antar-negara seperti Uni Eropa ataupun NAFTA antara Amerika dan Kanada semakin muncul banyak negeri-negeri kecil yang saling bersatu membentuk persekutuan baru seperti negara-negara bekas Uni Soviet yang menjadi kekuatan regional baru yang efisien. Teknologi informasi menjadi mesin perkembangan baru, tetapi juga menjadi musuh baru bagi negara-negara lain. Itulah antara lain fenomena “Global Paradox” yang sudah diprediksi Naisbitt seperempat abad yang lalu.

Di tengah persaingan global yang sangat sengit muncul kecenderungan untuk menarik diri dan memproteksi diri sendiri dari serangan luar. Gerakan membenci produk asing akhirnya bisa merambat menjadi xenophobia, ketakutan terhadap orang asing, yang cenderung parno.

Produk asing dibenci dan orang asing dibenci. Maka produk asing dipersulit untuk masuk dan imigrasi orang asing dilarang. Para pemimpin populis mengampanyekan untuk mengutamakan kepentingan dalam negeri ketimbang kerja sama internasional melalui globalisasi. Alih-alih membawa manfaat globalisasi dimusuhi karena mengancam kepentingan nasional.

Maka Donald Trump mengampanyekan “America First” untuk mengutamakan kepentingan Amerika. Trump juga memakai kampanye MAGA, Make America Great Again, sebagai jargonnya. Konsekuensinya adalah Trump menarik diri dari percaturan internasional dan fokus pada kepentingannya sendiri. Trump melarang imigran muslim dan ingin membangun tembok pembatas sepanjang perbatasan dengan Meksiko untuk menghalangi masuknya imigran penyusup. Amerika sebagai negara multikultur dengan berbagai jenis etnis dari seluruh dunia akan dikembalikan menjadi Amerika milik orang kulit putih.

Para pemimpin populis ala Trump ini menjadi fenomena baru yang bermunculan di berbagai negara seperti Rusia, Inggris, Hungaria, Turki, dan beberapa negara lain. Mereka kecewa terhadap gerak globalisasi yang semakin lama dirasakan semakin merugikan kepentingan nasional, karena itu mereka memutuskan menarik diri dan fokus untuk mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri.

Kekecewaan terhadap globalisasi dirasakan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pasar yang terbuka lebar tanpa proteksi membuat industri dalam negeri pingsan dan mati. Persaingan tarung bebas ini membuat produk-produk Indonesia kalah bersaing dan akhirnya tutup.
Yang disalahkan kemudian adalah politik dumping, banting harga, yang dilakukan negara lain terhadap Indonesia sehingga produk Indonesia tercekik dan mati. Produk-produk China membanjir dengan harga murah dan kualitas bagus. Menteri Perdagangan M. Lutfi menuduhnya sebagai banting harga dan “predatory pricing”, penerapan harga rendah untuk melalap pasar.

Serbuan barang asing itu menjadi salah satu faktor yang merusak produk Indonesia. Tetapi harus ditelaah juga mengapa produk Indonesia tidak bisa bersaing dengan produk asing. Kita semua sudah tahu jawabannya sejak dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, tapi kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubahnya. Penyebab utama inefisiensi produk Indonesia adalah karena “high cost economy”, ekonomi biaya tinggi, yang masih tetap mencekik Indonesia dari dulu sampai sekarang.

Kita semua juga tahu bahwa penyebab utama ekonomi biaya tinggi itu adalah banyaknya biaya-biaya siluman dalam proses produksi di Indonesia. Mulai dari mengurus perizinan sampai ke urusan distribusi barang semuanya diwarnai biaya siluman. Dari meja birokrasi sampai ke jalanan selalu saja ada pungutan liar yang dilakukan oleh para siluman.

Ekonom senior Kwik Kian Gie membuat kesimpulan tajam, pedas, tegas. Penyebab ekonomi tinggi adalah korupsi, dan pangkal segala korupsi ini adalah KKN, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Korupsi, kata Kwik, meluas merajalela, bukan cuma korupsi uang tapi korupsi kebijakan, dan bahkan pikiran pun sudah terkorupsi, corrupted mind, yang melahirkan kebijakan korup.

Kritik-kritik tajam Kwik itu dikumpulkan dalam buku “Pikiran yang Terkorupsi” yang diterbitkan Gramedia (2008). Kwik tegas menyimpulkan bahwa kalau mau menghilangkan ekonomi biaya tinggi dan ekonomi siluman yang biadab itu maka satu-satunya cara adalah kikis habis KKN.

Undang-Undang Cipta Karya Omnibus Law yang ditandatangani Presiden Jokowi tahun lalu merupakan salah satu upaya untuk membunuh siluman pungli itu. Secara teoretis undang-undang ini oke. Tapi apakah bisa diterapkan, itulah persoalannya. Jangan-jangan undang-undang itu malah hanya memindah operasi para siluman dari jalanan ke istana. Praktik pungli yang dulu dilakukan para tuyul di jalanan malah sekarang ganti dilakukan oleh para jin ifrit yang lebih rakus yang berkeliaran di Senayan dan di Istana.

Pak Jokowi tidak perlu melakukan kampanye benci produk luar negeri karena nanti malah bisa jadi bumerang yang merugikan. Lebih baik bersihkan KKN  yang menjadi biang kerok ekonomi biaya tinggi.

Sambil terus berusaha memberantas KKN, Pak Jokowi bisa menemani Pak Alim Markus tampil di iklan televisi dan sama-sama mengucapkan slogan, “Cintailah Ploduk-Ploduk Dalam Negeri.” (*)

BACA LAINNYA

Wayang

News Kempalan
0

Haji Metaverse

News Kempalan
0

Margiono (1959-2022)

News Kempalan
0

Sultan Ghozali

News Kempalan
0

Arteria

News Kempalan
0

Lapor, Pak

Dhimam Abror Djuraid
0

Otak Koruptor

News Kempalan
0
0

Bom Makassar

News Kempalan
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *