Selasa, 10 Februari 2026, pukul : 12:19 WIB
Surabaya
--°C

Orient Riwu, dari Amerika Jadi Bupati Sabu Raijua

KEMPALAN: Dunia tak selebar daun kelor. Itu petitah-petitih dari kakek moyang kita dulu. Maksudnya dunia ini luas. Tidak usah khawatir kehabisan rezeki, tidak usah takut kehilangan jodoh.

Kakek moyang mungkin belum mengenal globalisasi. Tapi mereka ternyata sangat visioner dan mempunyai local wisdom, kearifan lokal, yang jauh menembus ruang dan waktu. Pitutur itu menunjukkan bahwa para leluhur tahu bahwa seluruh dunia yang luas ini bisa diakses oleh siapa saja dan bisa terkoneksi dari mana saja.

Nasihat itu biasanya hanya dipakai untuk membesarkan hati anak-anak muda yang patah hati ditinggal pacar atau jomblo istikomah yang susah dapat jodoh. Padahal ungkapan harusnya mendorong kita untuk berani outward looking, melihat keluar dan mengeksplore dunia dan menjawab tantangan. Yang terjadi malah sebaliknya, inward looking, menarik diri, mangan ora mangan asal kumpul. Falsafah yang mengajarkan kolektivisme dan filantropisme itu malah dibalik-balik menjadi falsafah kerdil tapi merasa hebat seperti kodok dalam tempurung.

Metafora daun kelor itu jadi kenyataan sekarang. Globalisasi menjadikan dunia ada di genggaman tangan kita dalam bentuk gawai handphone. Dunia bisa kita operasikan dengan touch and sweep, sentuh dan geser, dengan ujung jari kita yang yang kurang lebih sama ukurannya dengan daun kelor.

Dunia daun kelor itu membuat dunia menjadi seperti desa, Global Village, desa buana, kata Marshall McLuhan. Satu orang dengan lainnya berhubungan, saling mengenal, dan saling berinteraksi seperti penduduk desa. Masyarakat sudah terkoneksi menjadi satu melalui internet yang membentuk “www” triple double you, world wide web.

Inilah kemunculan masyarakat berjaringan yang oleh Manuel Castells disebut sebagai “The Rise of the Network Society” (2010), yang menghubungkan satu titik dunia dengan titik lainnya 24 jam tanpa batas ruang dan waktu. The timeless time, waktu yang tidak berwaktu, menembus dimensi dan siklus normal tradisional.

Orang di pedalaman Papua bisa mengakses pasar saham di New York, dan pemilihan bupati Sabu Raijua di ujung NTT dimenangkan oleh warga negara Amerika Serikat. Orang jadi ribut bagaimana bisa warga negara Amerika jadi bupati di NTT. Para politisi sibuk berdebat, saling tuding dan menyalahkan. KPU sebagai penyelenggara pemilu sibuk cari alasan untuk ngeles menghindari kesalahan, tidak mau dituduh kecolongan.

Kasus semacam ini pernah terjadi di level nasional ketika pemerintah kecolongan karena mengangkat Arcanda Tahar menjadi menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Sudah kadung dilantik ternyata ketahuan Arcanda adalah warga negara Amerika. Maka untuk menghilangkan malu Arcanda pun diberhentikan. Masalahnya seolah sudah selesai dan orang sudah lupa. Tapi ternyata sekarang terjadi lagi di NTT.

Arcanda dan Orient Riwu, bupati terpilih Sabu Raijua, adalah manusia mondial bagian dari network society, masyarakat berjaringan di seluruh dunia. Mereka manusia mondial yang menjadi global citizen, warga negara dunia yang tergabung dengan bermiliar diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Masyarakat berjaringan menimbulkan gelombang aliran manusia, barang, dan jasa, setiap saat melewati batas-batas geografis negara.

The Borderless World. Dunia menjadi tanpa batas geografis yang menyekat negara bangsa. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Manusia, barang, dan jasa selalu mencari tempat yang menguntungkan. Uang tidak mengenal bendera, ia akan menuju tempat yang paling nyaman.

Arcanda dan Orien Riwu adalah bagian dari diaspora internasional yang jumlahnya miliar dan ada di setiap sudut dunia. Diaspora terbesar dunia adalah diaspora China. Tidak ada negara yang tidak dimasuki diaspora China. Di semua tempat yang bisa dijangkau air disitu ada orang dan barang China. Made in China ada di seluruh dunia. “God created the world, and the rest is made in China”, Tuhan menciptakan dunia, tapi isinya semua buatan China.

Negara-negara dunia sudah menyiapkan diri menghadapi gelombang masyarakat berjaringan ini dengan memberikan double citizenship, kewarganegaraan ganda. Amerika memberikan keleluasaan kepada warganya untuk punya dwi-kewarganegaraan. Karena itu Arcanda dan Orient Riwu bisa menjadi warga negara Amerika dan tetap memegang paspor hijau bergambar Garuda. Di Amerika orang boleh berpaspor ganda, tapi untuk urusan menjadi presiden seseorang harus lahir di Amerika. Makanya Presiden Barack Obama pernah diisukan akan dimakzulkan karena adanya rumor dia tidak lahir di Amerika. Isu “birther”, kelahiran asli, menjadi isu politik nasional untuk menyerang Obama. Presiden Donald Trump yang anti kulit hitam sangat getol memakai isu “birther” untuk menyerang Obama.

Silsilah orang tua dan masa kecil Obama menjadi isu politik yang ramai. Ayahnya adalah imigran Kenya. Ibunya asli Amerika dan berkulit putih. Ibu Obama bercerai dan menikah dengan laki-laki Indonesia. Di masa kanak-kanak Obama pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta. Karena itu, selain isu kelahiran, Obama juga diisukan sebagai muslim.

Di Indonesia yang terjadi berbalikan. Undang-undang lama yang yang mewajibkan presiden Indonesia harus warga negara asli sudah dicabut sejak reformasi dan kata “asli” dihilangkan. Presiden Indonesia juga tidak harus beragama Islam. Jadi tidak usah kaget kalau nanti Indonesia punya presiden kelahiran Sacramento, Amerika, atau kelahiran Sichuan, China.

Konsep lama mengenai kewarganegaraan memang sudah tidak relevan lagi. Kewarganageraan didasarkan pada konsep “ius soli” dan “ius sanguinis”. Ius sanguinis disebut juga sebagai “law of the blood” hukum darah keturunan. Di mana pun orang dilahirkan akan mengikuti kewarganegaraan orangtuanya karena nasab hubungan darah. Ius soli disebut juga “law of the land” atau hukum tanah kelahiran, kewarganegaraan seseorang tergantung tempat dilhahirkan.

Indonesia menganut ius soli. China menganut ius sanguinis. Di mana pun orang China berada dia tetap dianggap orang China selama darahnya masih mengalir darah China. Budaya Konfusian mewajibkan adanya ikatan kuat dengan leluhur asli di China di mana pun orang China tinggal. Pada waktu tertentu ada upacara Ceng Beng ketika diaspora China dari seluruh dunia berziarah ke kubur leluhur aslinya di daratan China. Faktor budaya ini membuat diaspora China mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan tanah leluhurnya meskipun generasi mereka lahir di luar negeri.

Dalam masyarakat berjaringan faktor budaya  menjadi penting dan disebut sebagai “cultural consequences” atau konsekuensi budaya. Perkembangan teknologi digital membawa konsekuensi positif bagi budaya, tapi sekaligus juga bisa membawa dampak menghancurkan budaya. Internet bisa membawa mudharat terhadap budaya dan bisa membawa manfaat besar terhadap budaya. Anak-anak kehilangan hormat kepada orang tua dan jalinan kekerabatan menjadi renggang karena sibuk bergawai. Pada akhirnya kerekatan sosial secara keseluruhan akan rusak dalam masyarakat berjaringan.

Karena itu kekuatan identitas menjadi power dalam masyarakat berjaringan. The power of identity berdasarkan budaya dan agama akan menjadi tameng dari serbuan dampak negatif masyarakat berjaringan.

Kasus Orient Riwu akan terus-menerus terjadi, dan kita akan terus terkaget-kaget menghadapinya kalau kita tidak siap menghadapi era masyarakat berjaringan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.