MAKASSAR-KEMPALAN: Di tengah kecenderungan organisasi alumni yang kerap bergerak dalam ritme administratif, terpilihnya Prof Andi Marhamah sebagai Ketua IKA UNAIR Sulawesi Selatan justru menghadirkan sinyal berbeda: sebuah upaya konsolidasi kekuatan intelektual diaspora kampus untuk menjawab tantangan daerah yang semakin kompleks.
Pemilihan secara aklamasi tidak sekadar prosedur formal. Ia mencerminkan kepercayaan kolektif dari para alumni terhadap figur yang dinilai mampu merajut jejaring lintas generasi. Dalam tradisi organisasi, aklamasi kerap menjadi penanda kuat adanya legitimasi sosial—bahwa kepemimpinan yang lahir bukan hasil kompetisi semata, melainkan konsensus.
Kehadiran Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam momentum tersebut mempertegas dimensi yang lebih luas. Bukan dalam kerangka politik praktis, melainkan sebagai simbol keterhubungan antara almamater Universitas Airlangga dengan jejaring alumninya di berbagai wilayah Indonesia.
Dari Seremonial Menuju Relevansi
Selama ini, tidak sedikit organisasi alumni terjebak dalam kegiatan seremonial yang berulang. Namun, konteks Sulawesi Selatan menghadirkan peluang yang berbeda. Sebagai salah satu motor pertumbuhan di Indonesia Timur, wilayah ini membutuhkan lebih dari sekadar jaringan sosial—ia memerlukan jejaring profesional yang produktif, inovasi berkelanjutan, serta kepemimpinan berbasis pengetahuan.
Dalam kerangka itulah IKA UNAIR menemukan relevansinya. Di bawah kepemimpinan baru, organisasi ini berpotensi bertransformasi menjadi penghubung antara dunia akademik dan industri, katalis bagi program sosial dan pendidikan, sekaligus mitra strategis bagi pemerintah daerah.
Latar belakang kepemimpinan dari kalangan guru besar turut memperkuat arah tersebut. Pendekatan akademik diharapkan menghadirkan pola kerja yang lebih sistematis, berbasis data, dan berorientasi pada dampak.
Jejaring sebagai Modal Antarwilayah
Momentum ini juga menampilkan dimensi lain yang tak kalah penting: penguatan relasi antarwilayah melalui jaringan alumni. Universitas Airlangga, sebagai institusi nasional, memiliki sebaran alumni yang luas, dan Sulawesi Selatan menjadi salah satu simpul pentingnya.
Kehadiran Khofifah dapat dibaca sebagai penguat ikatan emosional antara kampus dan alumni, sekaligus dorongan agar jejaring tersebut berkontribusi lintas daerah. Dalam konteks pembangunan nasional, pola kolaborasi semacam ini kian relevan—bahwa pembangunan tidak lagi hanya bertumpu pada struktur formal negara, tetapi juga pada komunitas intelektual yang terorganisir.
Ujian Sesungguhnya: Dampak Nyata
Namun, esensi kepemimpinan tidak berhenti pada proses pemilihan. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menjaga relevansi dan menghadirkan dampak nyata.
IKA UNAIR Sulsel setidaknya menghadapi tiga ujian utama: mengaktifkan jaringan alumni secara konkret, menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat, serta menempatkan diri sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
Jika ketiga hal ini dapat dijalankan secara konsisten, maka kepemimpinan baru ini berpeluang menjadi titik balik. Bukan sekadar pergantian figur, melainkan transformasi organisasi—dari komunitas alumni biasa menjadi kekuatan sosial-intelektual yang memberi pengaruh nyata bagi kawasan Indonesia Timur. []

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi