Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 00:42 WIB
Surabaya
--°C

Aries Kembali Jabat Ketua Umum Gabsi Jatim

BATU- KEMPALAN:  Aries Agung Paewai kembali menjabat sebagai ketua umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) Jatim, setelah pada Musprov yang digelar di Kota Batu terpilih secara aklamasi(29/06).

 Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, M Nabil yang hadir di acara Musprov berharap para pengurus Gabsi Jatim terus berupaya untuk mengembangkan dan mencetak atlet bridge berprestasi.

 Ia juga meminta agar pengurus Gabsi Jatim sering menggelar kejuaraan atau mengirimkan atletnya untuk mengikuti kejuaraan. “Hebat di latihan belum tentu hebat di pertandingan  karena itu Pengprov Gabsi harus  sering  mengadakan kejuaraan atau mengirim atlet mengikuti kejuaraan untuk menambah jam terbang bertanding atlet,” terang M Nabil

 Ia juga meminta agar Gabsi Jatim memanfaatkan Porprov Jatim IX yang saat ini tengah berlangsung di Kota Batu untuk menggali bibit atlet muda potensial. “Porprov itu jadi ajang talent scouting dan silahkan para pengurus merekrut atlet muda untuk pembinaan lapis kedua,” katanya.

Sementara itu Aries Agung Paewai  mengapresiasi dukungan dari seluruh Pengcab Gabsi untuk kembali memimpin Gabsi Jatim.Ia bersama pengurus Gabsi Jatim akan bekerja keras untuk mengembangkan dan membina atlet bridge. 

 “Amanah ini sangat berat buat saya karena harus melanjutkan ke periode berikutnya, namun saya tetap mengapresiasi atas dukungan dari seluruh Pengcab di kabupaten/kota yang memberikan dukungan kepada saya untuk melanjutkan kepemimpinan di Gabsi,” kata Aries.

Ia nantinya bersama pengurus akan terus melakukan pembenahan untuk mencapai target maupun program yang belum terpenuhi.

“Masih banyak tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan  terutama menyelenggarakan berbagai event yang tadi disampaikan oleh ketua Koni Jawa Timur. Event ini bisa membangkitkan semangat atlet kita untuk bisa lebih banyak bertanding di berbagai kejuaraan, ” kata Aries yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Jatim itu.

Selama menjabat sebagai Ketua Gabsi Jatim, Aries bersama pengurus telah menggelar beberapa kejuaraan seperti Kejurnas Piala Gubernur Jatim, Kejurprov hingga Bridge League yang rencananya ada enam seri yang digelar setiap tahun.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Ibadah Ritual Tak Pernah Gagal, Tapi Manusia Sering Lengah (Tanggapan untuk Rokim Dakas)

KEMPALAN: Setiap kali bulan suci Ramadan berakhir, Iduladha tiba, atau malam Suro menyapa, suara-suara skeptis sering muncul ke permukaan. Ada yang mempertanyakan efektivitas ibadah ritual karena merasa kenyataan sosial tidak kunjung membaik.

Mereka berkata, “Kita puasa sebulan penuh, tapi kekerasan seksual di pesantren tetap ada.” Lalu, “Kita potong hewan kurban tiap tahun sebagai simbol pemotongan nafsu hewani, tapi keserakahan manusia justru makin menggila.” Atau, “Kita bertapa dan berziarah di malam Suro, tapi korupsi dan kejahatan tetap merajalela.”

Pertanyaan-pertanyaan ini terasa logis di permukaan, namun sesungguhnya lahir dari cara pandang yang tidak utuh terhadap esensi ibadah.

Kita perlu memahami, ritual agama bukan alat sulap yang otomatis menghapus semua kejahatan. Ritual adalah jalan pendidikan jiwa. Ibarat sekolah, ritual keagamaan adalah kurikulumnya, guru spiritualnya adalah nilai-nilai ilahiah, dan manusialah muridnya.

Bila ada murid yang masih gagal meski sekolah telah menyediakan segala fasilitas, maka yang harus dikoreksi bukan sekolahnya, melainkan kesungguhan sang murid menyerap pelajaran.

Puasa, kurban, dan berbagai bentuk ibadah bukan sekadar seremonial kosong. Puasa mengajarkan pengendalian diri, empati terhadap yang lapar, dan perenungan batin yang dalam. Kurban adalah simbol nyata penundukan ego dan penyerahan diri pada kehendak Tuhan, bukan sekadar penyembelihan hewan.

Ziarah dan tapa di bulan Suro adalah ekspresi spiritual mendalam yang telah membentuk budaya kesalehan masyarakat Nusantara selama berabad-abad. Namun, semua itu hanya bermakna jika dilandasi kesadaran dan penghayatan.

Fenomena penyimpangan seperti korupsi, kekerasan seksual, atau kerakusan bukan karena ritual agama tidak ampuh, tapi karena pelaku-pelakunya tidak pernah benar-benar memaknai dan menginternalisasi pesan ritual.

Kita tak bisa menyalahkan ibadah jika orang yang melakukannya hanya menjadikan itu sebagai rutinitas, bukan proses transformasi jiwa. Maka yang gagal bukanlah ibadah, melainkan kesungguhan pelakunya.

Dr. Quraish Shihab, ulama dan cendekiawan Islam Indonesia, pernah menegaskan: “Ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, atau haji adalah sarana pembinaan moral dan spiritual. Bila pelakunya tetap berbuat zalim, maka ada yang salah dalam cara dia menjalankan atau memahami ibadah tersebut, bukan pada ibadah itu sendiri.”

Pandangan ini menjelaskan bahwa setiap ritual mengandung nilai edukatif yang dalam, namun tidak semua orang bersedia menyelami kedalamannya.

Seperti makanan bergizi yang tersedia di meja, tidak akan memberikan manfaat bila tidak disantap dengan benar atau malah diabaikan begitu saja.

Mereka yang menyebut ibadah tidak efektif sering lupa bahwa agama tidak pernah menjamin semua orang akan menjadi suci setelah beribadah.

Agama memberi jalan, tapi manusialah yang memilih apakah ia mau menempuhnya dengan sungguh-sungguh.

Bahkan di zaman para nabi pun, masih banyak yang kufur dan durhaka. Apakah itu berarti dakwah para nabi gagal? Tentu tidak.

Dakwah dan ibadah adalah bentuk kasih sayang Tuhan, bukan sistem paksaan yang menjamin hasil seragam.

Mengapa ada ustaz yang melakukan pelecehan seksual? Mengapa ada pejabat yang korupsi meski rajin umrah? Karena mereka telah menjadikan ibadah sebagai topeng, bukan proses tazkiyah (penyucian diri).

Bahkan iblis sekalipun dikenal sebagai makhluk yang dulu rajin beribadah sebelum kesombongannya menjatuhkannya. Ini menjadi pengingat bahwa kualitas ibadah tidak ditentukan oleh seberapa sering dilakukan, tetapi oleh niat dan kesungguhan hati.

Lebih jauh, kita harus hati-hati dengan narasi yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa karena masih ada kejahatan, maka ibadah tidak berdampak.

Faktanya, banyak perubahan sosial dan pribadi yang tidak diberitakan media karena tidak sensasional. Berapa banyak orang yang tadinya gemar berjudi lalu berhenti setelah serius menjalani puasa?

Berapa banyak pemuda yang terselamatkan dari narkoba karena mendalami makna ziarah dan tirakat di bulan Suro? Kisah-kisah transformasi ini nyata, meski tidak sepopuler berita korupsi dan kejahatan.Kita juga perlu menyadari bahwa dunia bukan tempat yang steril dari keburukan.

Dunia adalah ladang ujian, dan keberadaan orang jahat tidak membatalkan kebaikan yang telah diperjuangkan oleh yang lain. Jangan sampai karena segelintir pelaku kejahatan memakai simbol agama, kita menggeneralisasi bahwa ritual dan agama telah gagal.

Itu seperti menyalahkan ilmu kedokteran karena ada dokter yang malpraktik. Bukan ilmu yang salah, tapi manusia yang menyimpang.

Agama memberi kita kesempatan untuk terus belajar menjadi lebih baik. Puasa, kurban, dan ritual lainnya adalah latihan spiritual berkala yang memungkinkan kita memperbarui tekad moral dan membersihkan diri dari keburukan.

Bila setelah itu manusia masih berbuat jahat, maka solusinya bukan dengan meninggalkan ritual, melainkan memperkuat kualitas pelaksanaannya.

Marilah kita lihat ibadah bukan sebagai beban seremonial, tapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidup.

Menyalahkan ibadah karena kejahatan masih ada adalah logika terbalik. Justru dalam dunia yang makin rusak inilah kita butuh semakin banyak orang yang sungguh-sungguh menjalani ibadah dengan hati bersih dan niat lurus.

Karena dunia ini tidak akan berubah hanya oleh kritik, tapi oleh keteladanan mereka yang benar-benar menapaki jalan spiritualnya.

Sebagaimana ungkapan Imam Al-Ghazali, “Agama dan dunia adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi, dan dunia adalah bangunan. Tanpa fondasi, bangunan akan runtuh; dan tanpa bangunan, fondasi takkan bermakna.”

Maka, jangan pernah meremehkan ibadah ritual. Bukan ia yang gagal, tapi sering kali kita yang masih alpa memaknainya. ()

Oleh: Bambang Eko Mei

Kecil Itu Keren

KEMPALAN : Ada pameran lukisan judulnya : ‘Kecil Itu Keren’. Event ini berlangsung di Galeri Cipta I dan Cipta II, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berlangsung 18-29 Juni 2025.

Ini termasuk event internasional, karena selain diikuti oleh perupa dalam negeri, juga dari 12 negara : Jepang, Singapura, Turkiye, Belanda, Aljazair, Yunani, Rusia, dan sejumlah negara lainnya.

Sebanyak 500 lukisan terpajang di dua galeri tersebut.

Yang menarik dari event ini adalah pesertanya hanya boleh menyertakan lukisan berukuran 15 x 15 cm.

Dari mana informasi ini saya peroleh? Dari channel YouTube ‘LvR’ (Live Visual Radio) yang kontennya diberi tajuk : Kecil Itu Keren’ — sebagaimana nama event itu.

MS. Untung ketua panitia ‘Kecil Itu Keren’ memberi penjelasan bahwa event ini tidak sekadar acara seni rupa, tetapi sudah menjadi gerakan budaya. Karena di event ini, tidak saja melulu ajang pertemuan dan kreativitas seni rupa, juga menjadi ajang temu lintas disiplin seni dan pemerhati budaya.

Ada pengalaman menarik, bahkan mungkin unik, sebagaimana dikatakan MS. Untung, saat ia berdialog dengan salah satu pelukis senior. Ternyata ia kerepotan. “Kalau saya diminta melukis di atas kanvas ukuran 2 x 2 meter, mungkin satu jam selesai. Namun, kalau diharapkan melukis di atas bidang 15 x 15 cm, mungkin seminggu ide nggak keluar-keluar, ” katanya menirukan ucapan pelukis senior tersebut.

Dikatakan Untung MS., “kelihatannya mudah ya, padahal tidak sesederhana itu”. Lantas ia menambahkan, salah satu contoh adalah untuk penataan lukisan, “Bagaimana menata lukisan sebanyak itu supaya semuanya mendapat porsi yang adil, agar bisa dilihat pengunjung dengan sama-sama enaknya…”

Sebagaimana vlog yang dihasilkan channel ‘LvR’, konten berdurasi 10 menit 20 detik ini, enak ditonton karena tidak saja menyuguhkan visualisasi yang berperspektif indah, juga keterangan dari beberapa yang diwawancara begitu informatif.

Misalnya yang disampaikan Aidil Usman Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta : “Meski event ini menampilkan lukisan kecil-kecil, tapi soal kualitas harus melewati standar nilai yang kami tetapkan, apalagi ini pameran internasional. “(AM).

Buka Porprov IX Jatim 2025, Khofifah Ajak Atlet Tunjukkan Performa Terbaik dan Junjung Sportivitas

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat memberikan sambutan pembukaan.Porprov IX Jatim 2025.

MALANG-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur Tahun 2025 di Stadion Gajayana, Kota Malang, Sabtu (28/6) malam. Acara pembukaan berlangsung meriah dan spektakuler, dihadiri ribuan atlet, ofisial, tokoh masyarakat, dan warga Malang Raya.

Rangkaian pembukaan dimeriahkan oleh berbagai penampilan yang memukau, mulai dari pertunjukan 150 drone light show, drumband SMAN Taruna Madani, hingga tarian kolosal bertajuk “Malang Mbois, Malang Berkelas” yang dibawakan oleh ratusan penari gabungan dari wilayah Malang Raya.

Tak hanya itu, panggung hiburan juga diramaikan oleh sejumlah artis dan seniman Jawa Timur, seperti Cak Percil, Cak Sodiq, Arlida Putri, hingga grup Gildcoustic. Dan yang paling dinantikan, yaitu defile kontingen atlet dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, turut menyita perhatian penonton.

Gubernur Khofifah menyalami Ketua Umum KONI Jatim M. Nabil.

Para kontingen tersebut didampingi juga oleh empat maskot Porprov IX yang masing-masing mewakili daerah tuan rumah yaitu Cak Jo maskot Kabupaten Malang, Sima maskot Kota Malang, Saeba maskot Kota Batu serta maskot Jatim yaitu Cak Beki.

Dalam penjelasannya usai pembukaan, Gubernur Khofifah mengajak seluruh atlet agar menunjukkan performa terbaik dengan semangat juang tinggi, menjunjung tinggi sportivitas, dan memperkuat nilai persahabatan.

“Atlet-atlet kita luar biasa. Kami menaruh harapan besar agar banyak rekor tercipta di berbagai cabang olahraga (cabor) dari Porprov ini. Kalau pecah rekor tentu harapan kita dari Jatim untuk dunia,” jelasnya

Selain itu, Khofifah menegaskan, Porprov IX Jatim ini menjadi ajang penempaan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan datang. Bahkan bisa mempersiapkan atlet Jatim dapat bersaing di tingkat internasional.

“Kita membutuhkan peningkatan intensitas dan kualitas pelatihan yang lebih komprehensif untuk kesiapan atlet-atlet Jawa Timur agar mampu bersaing secara nasional maupun internasional,” imbuhnya.

Menurutnya, suksesnya pelenggaraan Opening Ceremony Porprov IX Jatim merupakan hasil sinergitas seluruh elemen strategis dalam bentuk keindahan budaya dan semangat olahraga.

Suasana Opening Ceremony Porprov IX Jatim 2025.

“Kita bisa menyaksikan bagaimana pentas budaya secara kolosal dan kontemporer bisa memberikan referensi indahnya seluruh proses dalam pembukaan Porprov IX kali ini.  Ini adalah bukti nyata bahwa olahraga dan budaya bisa bersatu dalam satu panggung yang menginspirasi,” ujar Khofifah..

Untuk itu, Gubernur Khofifah secara khusus mengapresiasi tuan rumah penyelenggara yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu yang telah menunjukkan kekompakan dan semangat kolaboratif. Sinergitas seluruh elemen yang terjalin, memberikan referensi keindahan budaya yang luar biasa dan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.

“Ketika budaya itu dibangun bersama dengan olahraga, saya rasa akan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjadikan olahraga sebagai salah satu sumber ekonomi kita. Dimana, salah satu dari empat sukses penyelenggaraan Porprov itu adalah sukses bidang ekonomi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah mengajak seluruh kontingen dan masyarakat yang hadir untuk mendoakan dua orang atlet yang telah meninggal dunia saat mengikuti Porprov IX Jatim 2025.

“Saya juga  memimpin doa bagi atlet yang wafat saat mengikuti latihan di Porprov kali ini. Semoga keduanya diterima amalnya dan  diampuni dosanya oleh Allah SWT,” pungkasnya.

Apresiasi atas penyelenggaraan Porprov IX Jatim 2025, juga turut diberikan oleh Wakil Ketua Umum KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Dr Suwarno. Ia mengatakan, Jawa Timur merupakan salah satu daerah penyumbang atlet berprestasi di level nasional.

Jawa Timur disebutnya adalah paket lengkap. Sehingga sudah sepantasnya Jatim terus bercita-cita bisa menjuarai ajang nasional seperti PON yang akan datang.

“Jawa Timur itu tidak ada kurangnya. Dilihat dari tokoh hingga fasilitas olahraganya, saya rasa tidak ada yang bisa menyamai,” ucapnya.

Sementara, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turut menambahkan, kehadiran Gubernur Khofifah dalam pembukaan Porprov IX Jatim memberikan motivasi bagi insan olahraga di Jatim khususnya Malang Raya.

“Terima kasih, suatu kehormatan dan apresiasi atas kepercayaan Gubernur Khofifah menjadikan Malang sebagai tuan rumah Porprov IX di Kota Malang,” ungkapnya.

Menurutnya, pembukaan Porprov IX Jatim tidak sekadar sarana pembinaan dan prestasi. Melainkan sebagai media pembelajaran sekaligus momentum strategis sinergi lintas wilayah penyelenggara Porprov IX Jatim 2025 di kawasan Malang Raya.

“Semangat kolaborasi untuk memberikan kontribusi terbaik. Semoga Porprov tidak hanya ajang kompetisi, melainkan wadah mengasah bakat dari berbagai cabang olahraga untuk melahirkan prestasi bagi bangsa,” tutupnya.

Sedangkan dalam laporannya, Ketua Umum KONI Jawa Timur Muhammad Nabil berharap Porprov IX Jatim akan memberikan satu ruang yang strategis untuk pembinaan atlet meningkatkan prestasi. Artinya, atlet yang hadir mewakili kabupaten dan kota. Lalu mewakili Jatim dan mewakili Indonesia di kancah internasional.

“Sesuai tema besar Porprov IX Jatim 2025 ‘Dari Jawa Timur untuk Indonesia, Menuju Prestasi Dunia. Saya berharap dukungan penuh Pemprov Jatim khususnya terima kasih Gubernur Khofifah selalu mendukung Porprov Jatim,” ungkapnya.

Sebagai informasi, gelaran Porprov IX yang digelar pada 28 Juni – 8 Juli 2025 ini diikuti 22.283 peserta dari seluruh Jawa Timur. Dengan total 63 Cabor dan 86 disiplin cabor diharap, para atlet akan bertanding di berbagai venue yang tersebar di Kab. Malang, Kota Malang dan Kota Batu.

Turut hadir dalam Opening Ceremony Porprov XI Jatim 2025, Anggota DPD RI AA La Nyala Mahmud Mattalitti, Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari dan jajaran, jajaran Forkopimda Jatim serta ribuan atlet, kontingen dan masyarakat Jawa Timur. (Dwi Arifin)

Khofifah Ajak 100 Anak Yatim Piatu dan Difabel Kota Malang Belanja Kebutuhan Sekolah

MALANG-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak 100 anak yatim piatu dan difabel belanja kebutuhan sekolah di Toko Buku Gramedia, Mall Olympic Garden, Kota Malang, Sabtu (28/6).

Kejutan spesial ini membuat para anak-anak tersebut gembira dan penuh ceria . Yang istimewa, Gubernur Khofifah ikut memilihkan langsung peralatan sekolah bagi mereka.

“Mau yang mana ayo diambil. Ada buku gambar, buku, pensil, ini jangan lupa krayon atau pensil warna,” kata Khofifah mendampingi anak-anak memilih aneka peralatan sekolah yang dibutuhkan

Khofifah menjelaskan, ini merupakan bentuk amalan yang diseyogyakan  pada Bulan Muharram. Yang mana bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, sekaligus sebagai momentum yang sangat tepat bagi umat Islam untuk membahagiakan anak-anak yatim. Sebab, Muharram merupakan bulan yang dianjurkan oleh nabi untuk memuliakan dan menyantuni mereka. 

Untuk itu, Khofifah ingin berbagi kehangatan dan berbagi dengan mereka yang selama ini menapaki hidup tanpa pelukan orang tua.

“Sebuah momen kecil yang memberi makna besar  berbagi bahagia bersama anak yatim piatu dan difabel di toko Gramedia yang membutuhkan alat tulis, pensil warna, buku tulis,” kata Khofifah.

“Terlebih lagi, ini bulan Muharram yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan. Karena ini bulan yang mulia. Dan ini waktunya pas juga karena sebentar lagi tahun ajaran baru sekolah,” imbuh Khofifah.

Selain itu, Khofifah mengatakan, momen berbagi dengan anak yatim piatu dan difabel kali ini merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan bagi mereka.

“Harapan kami, berbagi dengan anak-anak yatim dan difabel ini dapat memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan mereka terutama menyambut tahun ajaran baru 2025/2026 yang akan dimulai beberapa waktu ke depan,” katanya.

Khofifah juga mengucapkan terima kasih kepada wali kota Malang yang turut memberikan bantuan berupa tas.

“Kita sinergi dengan wali kota malang mudah-mudahan ada penyemaian bahagia yang dirasakan anak yatim, yatim piatu dan difabel. Jadi ABK juga menjadi bagian penyapaan kita sore ini,” tuturnya.

Kegembiraan dirasakan Firza kelas 4 SD Sukun 2 Malang. Ia membeli beberapa kebutuhan sekolah seperti jangkar, pencil, krayon, penggaris dan busur. Semua kebutuhan yang dibeli untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

“Senang sekali. Terima kasih ibu khofifah. Semoga sehat dan bisa memimpin Jatim lebih baik lagi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Gladis Kelas 5 SD Negeri 2 Wonorejo yang membeli alat tulis sekolah termasuk buku tulis sekaligus buku gambar. “Happy sekali, makasih Bu Khofifah,” ujarnya.

Sementara itu Walikota Malang Wahyu Hidayat mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Khofifah yang memberi perhatian kepada masyarakat Malang, khususnya anak yatim piatu dan difabel. “Saya terima kasih ibu gubernur atas bantuan yang diberikan kepada anak yatim piatu dan difabel di Kota Malang,” tutupnya. (Dwi Arifin)

Akui Kemenangan Tim Futsal Surabaya, AFK Surabaya Hormati Keputusan Kota Malang

Tim Futsal Putra Kota Surabaya.

MALANG-KEMPALAN: Ketua Asosiasi Futsal Kota (AFK) Surabaya Abdullah memberi hormat setinggi-tingginya kepada Ketua AFK Malang Rizal Mubarak Ghaniem dan Manajer Tim Futsal Putra Kota Malang.

Pasalnya, keduanya secara sportif telah mengakui kemenangan Kota Surabaya atas Kota Malang dalam laga final futsal putra di Graha Polinema, Jumat (27/6) sore lalu.

“Menyikapi hasil pertandingan final futsal putra antara Kota Malang melawan Surabaya pada tanggal 27 Juni kemarin, dengan ini kami sampaikan bahwa atas dasar menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan fair play. Bahwa pertandingan kemarin kami telah mengakui kekalahan atas Surabaya,” kata Rizal Mubarak Ghaniem didampingi Manajer Tim Futsal Putra Kota Malang Rahmadiono yang diunggah lewat akun instagramnya.

Abdullah, Ketua AFK Surabaya yang juga anggota Exco Askot PSSI Surabaya.

Rizal juga menyatakan menolak jika ada wacana untuk memutuskan juara bersama. Dia juga mengucapkan selamat kepada tim futsal Surabaya sekaligus memberi respek kepada tim futsal Kota Malang, baik pemain, pelatih, maupun official yang dinilai telah berjuang sampai ke babak final. “Salam sportivitas,” pungkasnya.

Seperti diketahui, laga final futsal putra tersebut terpaksa dihentikan oleh wasit dan ditunda ketika waktu masih tersisa delapan menit, karena keamanan yang dinilai tidak kondusif. Saat itu skor sementara 2-0 untuk keunggulan Surabaya. Laga akan dilanjutkan lagi sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kendati keputusan terakhir berada di tangan KONI Jatim selaku penyelenggara Porprov, namun Abdullah sebagai Ketua AFK Surabaya mengaku salut dan menaruh hormat setinggi-tingginya kepada Ketua AFK Malang dan Manajer Tim Futsal Putra Kota Malang.

“Surabaya menaruh hormat setinggi-tingginya pada tim futsal putra Kota Malang yang telah menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan fair play,” kata Abdullah kepada kempalan.com, Minggu (29/6).

Abdullah menilai bahwa sejak awal kedua tim tampil bagus dan menjunjung tinggi fair play. Sebab, baik Surabaya maupun Kota Malang saat bertanding tanpa kendala apapun, meskipun tensinya sejak awal diakui agak panas.

“Kericuhan itu justru akibat ulah suporter. Pertandingan sama sekali tidak ada kendala, baik tim Surabaya maupun tim Kota Malang sama-sama tampil fair play dan menjunjung tinggi sportivitas,” jelasnya.

Atas keputusan dari Ketua AFK Malang dan Manajer Tim Futsal Putra Kota Malang yang telah mengakui keunggulan Kota Surabaya tersebut, maka kini Kota Surabaya tinggal menunggu keputusan dari KONI Jatim.

“Saya berharap KONI Jatim menghormati keputusan Kota Malang, yang dengan sportif dan fair play telah mengakui Kota Surabaya sebagai pemenang di laga final futsal putra Porprov Jatim 2025,” pungkas Abdullah yang juga anggota Exco Askot PSSI Surabaya. (Dwi Arifin)

Satu Suro, Tradisi Arab, Ajaran Islam, dan Kearifan Lokal Jawa

KEMPALAN: Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, kita mengenal berbagai perayaan bernuansa spiritual mulai dari Ramadan, Idul Kurban hingga 1 Suro. Tapi ada pertanyaan besar yang sering diajukan, apa dampak sosial dari semua ini?

Kita puasa sebulan penuh tapi berita tentang kekerasan seksual di pesantren tetap menghiasi layar. Kita potong hewan kurban tiap tahun sebagai simbol pemotongan nafsu hewani tapi keserakahan manusia justru makin menggila. Kita berziarah dan bertapa di bulan Suro, tapi korupsi dan kejahatan masih memenuhi pemberitaan.

Perlu kiranya menelusuri jejak sejarah. Apakah nni warisan leluhur? Banyak yang tidak tau bahwa “Suro” bukan asli Jawa melainkan berasal dari kata Arab ‘Asyura’. Ini adalah hari raya di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Persia, perayaannya bersaing dengan Nairuz milik Zoroaster.

Setelah peristiwa tragis Karbala (680 M), di mana cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali, gugur kemudian hari ‘Asyura’ diubah menjadi hari berkabung bagi kalangan Syiah. Maka muncullah doktrin, “Haram berpesta di bulan Muharram.”

Tradisi ini masuk ke Jawa pada masa Sultan Agung (1613–1645), Raja Mataram Islam. Ia mengganti kalender Jawa (Pranata Mangsa) dengan kalender Hijriah, menggeser tahun baru lokal ke 1 Muharram yang kemudian disebut 1 Suro.

Dari sinilah sejarah penghapusan identitas lokal dilakukan secara halus dibungkus spiritualitas dan dikunci dengan larangan mempertanyakan dogma. Padahal, tidak ada kaitan antara Karbala dan kebudayaan agraris Jawa. Tapi propaganda spiritual berhasil dibangun dan bertahan hingga kini.

Mari kita jujur. Ritual apa pun, bila tidak melahirkan moralitas, hanyalah seremoni kosong.

Ramadan: Dikatakan sebagai bulan menahan nafsu. Tapi kasus pelecehan seksual di lingkungan agama tetap marak.

Idul Kurban: Dikenang sebagai simbol pemotongan sifat hewani. Tapi manusia tetap lebih rakus dari hewan yang dikurbankan.

1 Suro: Dirayakan dengan ziarah dan tirakat, tapi tanpa refleksi sosial atau solusi nyata untuk penderitaan rakyat. Korupsi kian menggila.

Dogma tidak mengenal koreksi. Tidak seperti ilmu pengetauan yang terus memperbarui dirinya, ritual keagamaan justru stagnan, kadang menolak ditinjau ulang. Akibatnya? Generasi milenial, Gen Z dan Gen Alpha makin sulit menemukan relevansi.

Mari kembalikan ruh ritual sebagai penggerak moral dan etika sosial. Bila itu tak terjadi maka generasi mendatang akan menertawakan tradisi yang kita puja-puja hari ini karena dianggap tak lebih dari teatrikal tanpa makna.

Kita tidak menolak spiritualitas. Tapi spiritualitas tanpa konteks sosial adalah kemewahan yang tak lagi relevan.
Sudah saatnya kita menyaring, mana warisan budaya lokal yang patut dilestarikan? Mana tradisi impor yang hanya menjadi alat kontrol sosial?

Jika tidak, ritual keagamaan akan menjadi artefak, dipajang, difoto, tapi tidak lagi hidup dalam keseharian rakyat. ()

Penulis Esai:
Rokimdakas
Sabtu 28 Juni 2025

Dua Birdie dari Tiga Hole Terakhir yang Menyelamatkan Tim Foursome Mix Kota Surabaya

MALANG-KEMPALAN: Hampir saja tim golf Kota Surabaya gagal memimpin dalam hari pertama foursome mix cabor golf Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jatim 2025. Dari ajang yang digelar di Araya Golf Course, Malang, Sabtu (28/6), Surabaya ditempel ketat Kabupaten Pasuruan.

Tim foursome mix Surabaya yang diperkuat Nathan Christoper Widjaya-Calista Allegra Dewantara, mampu keluar dari tekanan foursome mix Kabupaten Pasuruan, Achmad Fani Nazarrudin-Dila Novita Sari, pada tiga hole terakhir.

BACA JUGA: Dramatis! Tim Golf Surabaya Merebut Dua dari Empat Medali Emas Porprov dari Babak Playoff

Dalam tiga hole terakhir, Nathan-Calista mampu mencatatkan dua kali birdie dan sekali even par. Sebaliknya, Fani-Dila malah mencatatkan dua kali even par dan satu kali bogey. Padahal, Fani-Dila sempat unggul satu stroke pada first nine.

Pegolf Surabaya Calista Allegra Dewantara saat memukul bola dari bunker. (Foto: PGI Jatim)

Dalam leaderboard sementara nomor foursome mix Porprov IX Jatim 2025, tim Surabaya masih unggul satu stroke dari Kabupaten Pasuruan. Selain itu, Surabaya masih unggul empat pukulan dari tim Kota Kediri.

’’Dua birdie yang cukup membantu,’’ ungkap Nathan ditemui di driving range. Overall, Surabaya mengantongi lima kali birdie, lima kali even par, lima kali bogey, dan tiga sisanya double bogey.

Pegolf Kota Surabaya Nathan Christoper Widjaya yang melakukan pukulan dari tee box 2 Araya Golf Course, Malang. (Foto: PGI Jatim)
Pegolf Kota Surabaya Nathan Christoper Widjaya yang melakukan pukulan dari tee box 2 Araya Golf Course, Malang. (Foto: PGI Jatim)

Nathan mengakui ada perbedaan dari berpasangan dengan William Justin Wijaya di foursome putra dan dengan Calista di foursome mix. ’’Setelah hole 9 sudah mulai enak, Sudah dapat (chemistry) setelah itu,’’ ungkap Nathan.

Peraih medali perak nomor individual putra itu mengharapkan modal hari pertama di foursome mix bakal dia jadikan sebagai evaluasi untuk melakoni final round, Minggu, 29 Juni. (YMP)

Dedi Mulyadi dan Ancaman Demokrasi Informasi

KEMPALAN: Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di kanal you tube yang menyebut dirinya kini tak lagi tergantung pada kerja sama dengan media telah menimbulkan gelombang kritik dari kalangan pers, salah satunya datang dari Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dhimam Abror.

Kritik ini bukan sekadar reaksi spontan, melainkan sebuah refleksi atas kekhawatiran mendalam terhadap arah demokrasi dan keberadaan media massa di tengah derasnya arus digitalisasi komunikasi politik.

Ketika seorang pejabat publik secara terbuka meremehkan peran media konvensional, maka sesungguhnya ia tengah meremehkan salah satu fondasi demokrasi itu sendiri.

Media massa bukan sekadar saluran informasi. Ia adalah institusi yang dibangun dengan fondasi etika, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial.

Dalam praktik jurnalistik, terdapat prinsip-prinsip yang tidak bisa ditawar seperti melakukan konfirmasi, keberimbangan, independensi, dan kode etik jurnalistik. Inilah yang membedakan media konvensional dengan media sosial.

Di media sosial, siapa pun bisa memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa saringan, tanpa prosedur verifikasi, bahkan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap publik. Di sinilah letak kekhawatiran terbesar bagi Dhimam Abror.

Ketika seorang pemimpin lebih percaya kepada media sosial untuk menyampaikan informasi kepada publik, ia sesungguhnya membuka ruang seluas-luasnya bagi praktik komunikasi satu arah yang berpotensi manipulatif.

Pernyataan Dedi Mulyadi yang terkesan mengesampingkan peran media konvensional menimbulkan pertanyaan besar: apakah seorang pemimpin daerah sekelas gubernur masih memahami fungsi strategis media dalam demokrasi?

Media bukan sekadar “corong” untuk mempublikasikan kegiatan atau program pemerintah. Ia adalah mitra kritis, yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap kekuasaan.

Media yang sehat dan merdeka adalah syarat mutlak bagi terwujudnya demokrasi yang sehat. Ketika media dikerdilkan, maka suara kritis akan dibungkam dan ruang partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan akan menyempit.

Lebih jauh, pernyataan Dhimam bahwa “konten di medsos gak peduli etika karena gak punya aturan kode etik” menyoroti satu hal penting: bahwa media sosial tidak bisa dijadikan satu-satunya kanal komunikasi pemerintah.

Meskipun daya jangkau dan kecepatan distribusi informasi di media sosial sangat tinggi, tetapi tanpa filter dan tanggung jawab, informasi yang disebarkan di sana bisa menyesatkan.

Gubernur, sebagai pemegang kekuasaan eksekutif di daerah, seharusnya justru menjadi pihak yang paling paham pentingnya keberimbangan informasi dan objektivitas berita.

Alih-alih menjauh dari media konvensional, pejabat publik justru harus memperkuat sinergi dengan pers, agar informasi yang diterima publik tidak bias, tidak manipulatif, dan tidak sekadar berisi pencitraan semata.

Dalam konteks inilah Dhimam Abror menyebut Dedi Mulyadi sebagai figur “otoriter” yang tidak memahami esensi demokrasi. Istilah ini mungkin terdengar keras, namun kritik tersebut memiliki landasan kuat.

Otoritarianisme tidak selalu ditandai oleh tindakan represif secara fisik, tetapi juga bisa terlihat dari cara seorang pemimpin menolak diawasi, enggan dikritik, dan lebih memilih jalur komunikasi tunggal melalui media sosial yang dikendalikan sendiri. Ini adalah bentuk baru dari kontrol informasi yang terselubung.

Jika hal ini dibiarkan, maka sistem demokrasi kita akan mengalami kerusakan struktural dari dalam.

Pernyataan Dhimam yang membandingkan Dedi Mulyadi dengan Ganjar Pranowo juga menunjukkan kegelisahan atas munculnya pola komunikasi politik baru yang lebih menekankan aspek pencitraan ketimbang substansi kebijakan.

Di era media sosial, citra bisa direkayasa, kesan bisa dibangun secara instan, dan popularitas bisa dikemas tanpa harus dibarengi kualitas kepemimpinan yang nyata.

Namun, sebagaimana Dhimam sampaikan dengan lugas, “hasilnya zonk.” Sebuah ekspresi yang mencerminkan kekecewaan atas fenomena politik yang makin jauh dari nalar kritis dan kedewasaan demokrasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap komunikasi modern. Namun, menjadikannya satu-satunya alat komunikasi, apalagi dalam urusan penyelenggaraan pemerintahan, adalah sebuah kekeliruan yang berbahaya.

Media sosial seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti media konvensional. Karena tanpa jurnalisme profesional, informasi akan kehilangan akarnya pada kebenaran.

Gubernur Dedi Mulyadi bisa saja merasa bahwa media sosial memberinya ruang lebih bebas untuk berbicara langsung kepada publik.

Namun kebebasan yang tanpa batas justru menimbulkan persoalan baru. Tidak ada mekanisme check and balance, tidak ada verifikasi pihak ketiga, dan yang paling penting, tidak ada ruang untuk publik mengkritisi secara objektif karena komunikasi berjalan satu arah.

Itulah sebabnya, dalam sistem demokrasi modern, media massa tetap menjadi benteng terakhir bagi keberlangsungan akuntabilitas dan transparansi kekuasaan.

Sudah saatnya para pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional, kembali menyadari peran penting media konvensional dalam menjaga kesehatan demokrasi.

Menolak media atau menganggap media tidak penting adalah tanda ketidaksiapan untuk diawasi. Dan pemimpin yang tidak siap diawasi adalah pemimpin yang berpotensi menyalahgunakan kekuasaan.

Maka, pernyataan Dhimam Abror bukan sekadar reaksi personal, tapi merupakan alarm bagi kita semua.

Bahwa di tengah derasnya arus digital dan kemudahan komunikasi, kita jangan sampai kehilangan prinsip dasar dalam demokrasi dengan mengkedepankan keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas yang hanya bisa dijaga melalui media massa yang bebas dan bertanggung jawab. Itulah media konvesional. ()

Oleh: Bambang Eko Mei

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.