Sabtu, 25 April 2026, pukul : 04:02 WIB
Surabaya
--°C

Ibadah Ritual Tak Pernah Gagal, Tapi Manusia Sering Lengah (Tanggapan untuk Rokim Dakas)

KEMPALAN: Setiap kali bulan suci Ramadan berakhir, Iduladha tiba, atau malam Suro menyapa, suara-suara skeptis sering muncul ke permukaan. Ada yang mempertanyakan efektivitas ibadah ritual karena merasa kenyataan sosial tidak kunjung membaik.

Mereka berkata, “Kita puasa sebulan penuh, tapi kekerasan seksual di pesantren tetap ada.” Lalu, “Kita potong hewan kurban tiap tahun sebagai simbol pemotongan nafsu hewani, tapi keserakahan manusia justru makin menggila.” Atau, “Kita bertapa dan berziarah di malam Suro, tapi korupsi dan kejahatan tetap merajalela.”

Pertanyaan-pertanyaan ini terasa logis di permukaan, namun sesungguhnya lahir dari cara pandang yang tidak utuh terhadap esensi ibadah.

Kita perlu memahami, ritual agama bukan alat sulap yang otomatis menghapus semua kejahatan. Ritual adalah jalan pendidikan jiwa. Ibarat sekolah, ritual keagamaan adalah kurikulumnya, guru spiritualnya adalah nilai-nilai ilahiah, dan manusialah muridnya.

Bila ada murid yang masih gagal meski sekolah telah menyediakan segala fasilitas, maka yang harus dikoreksi bukan sekolahnya, melainkan kesungguhan sang murid menyerap pelajaran.

Puasa, kurban, dan berbagai bentuk ibadah bukan sekadar seremonial kosong. Puasa mengajarkan pengendalian diri, empati terhadap yang lapar, dan perenungan batin yang dalam. Kurban adalah simbol nyata penundukan ego dan penyerahan diri pada kehendak Tuhan, bukan sekadar penyembelihan hewan.

Ziarah dan tapa di bulan Suro adalah ekspresi spiritual mendalam yang telah membentuk budaya kesalehan masyarakat Nusantara selama berabad-abad. Namun, semua itu hanya bermakna jika dilandasi kesadaran dan penghayatan.

Fenomena penyimpangan seperti korupsi, kekerasan seksual, atau kerakusan bukan karena ritual agama tidak ampuh, tapi karena pelaku-pelakunya tidak pernah benar-benar memaknai dan menginternalisasi pesan ritual.

Kita tak bisa menyalahkan ibadah jika orang yang melakukannya hanya menjadikan itu sebagai rutinitas, bukan proses transformasi jiwa. Maka yang gagal bukanlah ibadah, melainkan kesungguhan pelakunya.

Dr. Quraish Shihab, ulama dan cendekiawan Islam Indonesia, pernah menegaskan: “Ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, atau haji adalah sarana pembinaan moral dan spiritual. Bila pelakunya tetap berbuat zalim, maka ada yang salah dalam cara dia menjalankan atau memahami ibadah tersebut, bukan pada ibadah itu sendiri.”

Pandangan ini menjelaskan bahwa setiap ritual mengandung nilai edukatif yang dalam, namun tidak semua orang bersedia menyelami kedalamannya.

Seperti makanan bergizi yang tersedia di meja, tidak akan memberikan manfaat bila tidak disantap dengan benar atau malah diabaikan begitu saja.

Mereka yang menyebut ibadah tidak efektif sering lupa bahwa agama tidak pernah menjamin semua orang akan menjadi suci setelah beribadah.

Agama memberi jalan, tapi manusialah yang memilih apakah ia mau menempuhnya dengan sungguh-sungguh.

Bahkan di zaman para nabi pun, masih banyak yang kufur dan durhaka. Apakah itu berarti dakwah para nabi gagal? Tentu tidak.

Dakwah dan ibadah adalah bentuk kasih sayang Tuhan, bukan sistem paksaan yang menjamin hasil seragam.

Mengapa ada ustaz yang melakukan pelecehan seksual? Mengapa ada pejabat yang korupsi meski rajin umrah? Karena mereka telah menjadikan ibadah sebagai topeng, bukan proses tazkiyah (penyucian diri).

Bahkan iblis sekalipun dikenal sebagai makhluk yang dulu rajin beribadah sebelum kesombongannya menjatuhkannya. Ini menjadi pengingat bahwa kualitas ibadah tidak ditentukan oleh seberapa sering dilakukan, tetapi oleh niat dan kesungguhan hati.

Lebih jauh, kita harus hati-hati dengan narasi yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa karena masih ada kejahatan, maka ibadah tidak berdampak.

Faktanya, banyak perubahan sosial dan pribadi yang tidak diberitakan media karena tidak sensasional. Berapa banyak orang yang tadinya gemar berjudi lalu berhenti setelah serius menjalani puasa?

Berapa banyak pemuda yang terselamatkan dari narkoba karena mendalami makna ziarah dan tirakat di bulan Suro? Kisah-kisah transformasi ini nyata, meski tidak sepopuler berita korupsi dan kejahatan.Kita juga perlu menyadari bahwa dunia bukan tempat yang steril dari keburukan.

Dunia adalah ladang ujian, dan keberadaan orang jahat tidak membatalkan kebaikan yang telah diperjuangkan oleh yang lain. Jangan sampai karena segelintir pelaku kejahatan memakai simbol agama, kita menggeneralisasi bahwa ritual dan agama telah gagal.

Itu seperti menyalahkan ilmu kedokteran karena ada dokter yang malpraktik. Bukan ilmu yang salah, tapi manusia yang menyimpang.

Agama memberi kita kesempatan untuk terus belajar menjadi lebih baik. Puasa, kurban, dan ritual lainnya adalah latihan spiritual berkala yang memungkinkan kita memperbarui tekad moral dan membersihkan diri dari keburukan.

Bila setelah itu manusia masih berbuat jahat, maka solusinya bukan dengan meninggalkan ritual, melainkan memperkuat kualitas pelaksanaannya.

Marilah kita lihat ibadah bukan sebagai beban seremonial, tapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidup.

Menyalahkan ibadah karena kejahatan masih ada adalah logika terbalik. Justru dalam dunia yang makin rusak inilah kita butuh semakin banyak orang yang sungguh-sungguh menjalani ibadah dengan hati bersih dan niat lurus.

Karena dunia ini tidak akan berubah hanya oleh kritik, tapi oleh keteladanan mereka yang benar-benar menapaki jalan spiritualnya.

Sebagaimana ungkapan Imam Al-Ghazali, “Agama dan dunia adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi, dan dunia adalah bangunan. Tanpa fondasi, bangunan akan runtuh; dan tanpa bangunan, fondasi takkan bermakna.”

Maka, jangan pernah meremehkan ibadah ritual. Bukan ia yang gagal, tapi sering kali kita yang masih alpa memaknainya. ()

Oleh: Bambang Eko Mei

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.