KEMPALAN: Di sebuah halaman kuno di Kota Xinzhou, Provinsi Shanxi di China utara yang kaya akan peninggalan sejarah, Cui Yafei, seorang wisatawan kelahiran tahun 2000-an, menyaksikan sebuah syal sutra putih polos berubah menjadi hijau cerah setelah direndam di dalam bak pencelupan (dyeing vat) selama sepuluh menit, lalu berubah menjadi warna nila hanya dalam hitungan menit saat terkena udara.
“Di sini, semua orang adalah perancang. Setiap karya adalah kenangan unik yang terjalin antara kami dan teknik pencelupan alami tradisional,” kata Cui.
Baginya, proses praktik langsung ini jauh lebih memuaskan daripada sekadar mengambil foto “check-in” di landmark populer.
“Keajaiban” ini merupakan bagian dari teknik pencelupan alami tradisional, sebuah proyek warisan budaya takbenda setingkat kota di Xinzhou. Bahan pewarna (dye) nila diekstraksi dari daun tanaman herbal bernama akar Isatis, material yang yang sangat dihormati oleh Zhao Hui, seorang pewaris lokal teknik itu.
“Jika dirawat dengan baik, bahan pewarna ini bisa bertahan lebih lama dari saya,” ujar Zhao, seraya mengatakan bahwa bengkel kerjanya di kota kuno Xinzhou kini menawarkan lebih dari 100 variasi warna yang berbeda, yang menarik semakin banyak pengunjung muda.
Meningkatnya “ekonomi kerajinan tangan” (handmade economy) menandai pergeseran tren konsumsi di China, di mana para pelancong semakin mencari pengalaman budaya dan nilai emosional, bukan sekadar membeli material.
Xinzhou, yang pada zaman dahulu dikenal sebagai “Xiurong” dan memiliki sejarah yang berawal sejak akhir Dinasti Han Timur (25-220 M), kini telah bertransformasi menjadi museum folklor yang hidup, yang memadukan perlindungan warisan budaya dengan pengembangan pariwisata berkualitas tinggi.
Hanya beberapa langkah dari bengkel kerja pencelupan itu, sekelompok wisatawan lain terlihat sibuk menguleni adonan di sebuah toko tradisional pembuat “huamo” (roti kukus dengan hiasan bunga yang rumit). Di bawah bimbingan Gao Juan, seorang pewaris setingkat distrik dari teknik pembuatan huamo lokal, sebuah “huamo” berbentuk ikan yang terlihat hidup terbentuk hanya dalam hitungan detik.
“Selain bentuk-bentuk tradisional, kami kini menawarkan pengalaman membuat “huamo” bergaya kartun kepada para wisatawan,” ujar Gao, seraya menambahkan bahwa usahanya telah mendapat manfaat signifikan dari model “warisan plus pengalaman.”
Dukungan pemerintah daerah memainkan peran krusial dalam kebangkitan ini. Hingga saat ini, 30 toko budaya kreatif telah dibuka di sebuah jalan khusus di kota tua Xinzhou, termasuk 12 proyek warisan budaya takbenda.
Tren ini juga terasa di seluruh China. Di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, China timur, kaum muda mengantre untuk menjajal membuat tembikar menggunakan roda putar; di Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, kerumunan orang berkumpul untuk membuat kipas lak unik menggunakan pigmen mineral; dan di berbagai workshop teh di Provinsi Fujian bagian timur, para pengunjung mempelajari seni pembuatan teh berusia seribu tahun dari para perajin ahli.
Para ahli meyakini bahwa pergeseran ini mencerminkan perubahan mendalam dalam permintaan konsumen. “Konsumen tidak lagi puas dengan penerimaan pasif; mereka kini lebih bersedia membayar untuk nilai emosional yang unik, pengalaman sosial, dan kenangan dari proses,” ujar Yan Chun, seorang akademisi folklor sekaligus lektor kepala (associate professor) di Shanxi Normal University.
Kebangkitan “ekonomi kerajinan tangan” telah membawa tradisi kuno keluar dari gang-gang sempit dan memperkenalkannya kepada publik, sehingga menghidupkan momentum konsumsi baru, tambah Yan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi