Maka kerja menghadirkan jembatan, secara fisik maupun simbolik, adalah bagian dari menyiapkan masa depan. Ia bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga mencegah ketimpangan esok hari.
Oleh: Isa Ansori
KEMPALAN: (Refleksi Religius dengan Perspektif Fyodor Dostoevsky, dari Rihlah Dakwah, dengan contoh Jembatan di Srengseng Sawah).
Di tengah zaman yang terasa tidak baik-baik saja, ekonomi yang sangat menekan, kebebasan yang menyempit, dan percakapan yang kehilangan keberanian, kita seperti berdiri di persimpangan antara harapan dan keputusasaan.
Apa yang harus dilakukan manusia ketika dunia kehilangan arah?
Pesan yang disampaikan Anies Baswedan dalam Rihlah Dakwah itu tidak hanya berbicara tentang situasi, tetapi juga tentang sikap batin dan pilihan tindakan. Ia memulai dari kejujuran: kondisi negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Kebebasan menurun, ruang dialog mengecil, proses politik menyisakan luka dan keraguan. Pemerintahan berjalan, tetapi seringkali kehilangan keberanian untuk menjelaskan. Ketika penjelasan menghilang, ketakutan mengambil tempatnya.
Lebih dalam lagi, yang rapuh bukan hanya kebijakan, tapi aturan main itu sendiri. Institusi dilanggar, prinsip ditawar, dan kebenaran seringkali tersisih oleh suatu kepentingan.
Para ahli berbicara, pengamat jujur bersuara, tetapi tidak semua menemukan ruangnya.
Dalam lanskap seperti ini, Fyodor Dostoevsky pernah mengingatkan: bahwa krisis terbesar manusia bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan kehilangan makna di dalam penderitaan.
Manusia bisa bertahan dalam kesempitan, bahkan dalam ketidakadilan, selama ia masih menemukan makna. Tetapi ketika makna hilang, maka kebebasan berubah menjadi kehampaan, dan kehidupan menjadi beban yang tak lagi dimengerti arahnya.
Di sinilah pesan itu menemukan kedalamannya.
Pertama, kita diminta untuk menjaga – menjaga adab, interaksi, dan komunikasi. Karena, dalam dunia yang retak, yang pertama runtuh adalah hubungan antar manusia. Menjaga hubungan adalah menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Kedua, menguatkan barisan. Ketika keadaan tidak bisa dijelaskan secara terang, kebersamaan menjadi sumber keteguhan.
Dalam istilah Dostoevsky, manusia tidak diselamatkan sendirian, ia menemukan makna justru dalam keterhubungannya dengan orang lain.
Namun, iman tidak berhenti pada kesadaran. Ia menuntut tindakan. Di sinilah inti pesan itu menjadi sangat sederhana sekaligus radikal yaitu: kerjakan sesuatu yang dibutuhkan, dan pastikan ia memberi kemanfaatan.
Kriterianya tegas: Dibutuhkan oleh masyarakat, meski negara tidak selalu hadir anggarannya; Tidak menimbulkan mudarat baru; Manfaatnya dirasakan luas; Jelas awal dan akhirnya.
Ini bukan sekadar etika kerja, tetapi jalan menemukan makna hidup. Sebab bagi Dostoevsky, makna tidak lahir dari wacana, tetapi dari pengorbanan dan cinta yang konkret.
Contoh yang dihadirkan pun bukan sesuatu yang abstrak: jembatan. Di Srengseng Sawah, pembangunan jembatan menjadi simbol yang hidup. Ia menghubungkan yang terpisah, memudahkan yang sulit, dan menghadirkan akses bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Jembatan itu bukan sekadar beton dan besi. Ia adalah jawaban atas kebutuhan. Ia adalah bentuk kasih yang diwujudkan. Ia adalah makna yang dikerjakan.
Dalam kacamata religius, ini adalah amal jariyah, kebaikan yang terus mengalir. Dalam kacamata Dostoevsky, ini adalah bentuk tertinggi dari kebebasan manusia: memilih untuk mencintai dan memberi, di tengah dunia yang seringkali tidak adil.
Lebih jauh lagi, kita diingatkan tentang masa depan: sebelum 2040, sebagian besar manusia akan hidup di kota. Namun kota-kota kita tumbuh tanpa pedoman yang utuh, berbeda dengan desa yang memiliki arah pembangunan. Akibatnya, kota menjadi ruang yang padat tetapi tidak selalu adil.
Maka kerja menghadirkan jembatan, secara fisik maupun simbolik, adalah bagian dari menyiapkan masa depan. Ia bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga mencegah ketimpangan esok hari.
Pada akhirnya, semua ini kembali pada satu pertanyaan eksistensial: Bagaimana manusia menemukan makna hidupnya?
Jawaban yang ditawarkan di sini sederhana, tetapi tidak mudah: dengan menjadi bermanfaat.
Ketika keadaan tidak baik-baik saja, jangan menunggu semuanya membaik untuk bertindak. Justru dalam ketidakpastian itulah, makna harus diciptakan.
Kerjakan yang dibutuhkan. Hadirkan yang bermanfaat. Sambungkan yang terputus.
Sebab mungkin benar kata Dostoevsky: manusia tidak hancur karena penderitaan, tetapi karena kehilangan makna.
Dan di tengah dunia yang bising dan membingungkan ini, amal-amal nyata yang tulus, seperti membangun satu jembatan kecil bagi sesama, bisa menjadi cara paling sunyi, namun paling dalam, untuk menemukan kembali makna hidup itu sendiri.
*) M. Isa Ansori, Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, Wakil Ketua ICMI Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi