Bukankah Timnas sepak bola Rusia telah diblokir karena operasi militer ke Ukraina? Lalu saat AS dan Israel menyerang Iran, kenapa kedua Negara itu masih bebas merumput di lapangan bola internasional.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Polemik tak biasa muncul menjelang Piala Dunia FIFA 2026 setelah usulan dari kubu Donald Trump mencuat. Dalam usulan tersebut, Timnas sepak bola Iran disebut-sebut bisa digantikan oleh Italia.
Gagasan ini segera memantik respons keras dari pemerintah Italia, yang menilai pendekatan semacam itu tidak pantas dalam dunia olahraga.
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, menegaskan bahwa tiket ke Piala Dunia harus diperoleh melalui pertandingan di lapangan, bukan lewat negosiasi politik.
Pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Ekonomi Italia yang menyebut usulan tersebut “memalukan.” Bagi Italia, sepak bola itu bukan sekadar hasil akhir, melainkan proses panjang yang dijalani dengan keringat dan tekanan.
Sikap ini kemudian diperjelas oleh FIFA yang memastikan Iran tetap akan menjadi peserta resmi. Keputusan itu sekaligus menutup ruang spekulasi tentang kemungkinan perubahan peserta karena tekanan geopolitik.
Pertanyaannya, sejak kapan tiket turnamen bisa dinegosiasikan seperti kursi rapat kabinet?
Bagi publik Italia, kegagalan lolos ke Piala Dunia memang menyakitkan. Namun, masuk lewat “jalur belakang” bisa jadi lebih menyakitkan – ibarat menang lomba lari karena dipersilakan naik motor di tengah jalan.
Dalam kultur sepak bola mereka, kehormatan lebih mahal daripada sekadar tampil di panggung besar.
Fenomena ini juga membuka pertanyaan lebih luas: apakah olahraga global masih steril dari tarik-menarik kepentingan politik? Atau justru ini menjadi pengingat bahwa batas antara keduanya makin tipis, seperti garis kapur di lapangan yang mudah terhapus hujan?
Bukankah Timnas sepak bola Rusia telah diblokir karena operasi militer ke Ukraina? Lalu saat AS dan Israel menyerang Iran, kenapa kedua Negara itu masih bebas merumput di lapangan bola internasional.
Di tengah dinamika tersebut, Italia memilih berdiri pada prinsip. Mereka mungkin gagal di lapangan, tetapi menolak kemenangan yang “diatur”.
Dalam dunia yang sering kompromistis, boleh jadi sikap itu terdengar sederhana – namun justru di situlah letak nilainya.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi