Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 00:56 WIB
Surabaya
--°C

Waspadalah, Tabungan Energi Negatif (TEN) Penyebab Derita

Berhubung kekuasaan yang diduduki itu mutlak hasil kejahatan politik, maka Tabungan Energi Negatif (TEN) membengkak dan sewaktu-waktu niscaya akan meledak. Sudah banyak isyarat yang bermunculan.

Oleh: Hamka Suyana

KEMPALAN: Hukum Kekekalan Energi (HKE) menyebutkan, Energi yang digunakan atau dilepaskan manusia akan kembali kepadanya, sebesar energi yang digunakan ketika itu.

Kembalian energi dari alam berwujud Hasil Usaha (HU), yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu: Hasil Usaha Tampak (HUT) + Tabungan Energi (TE).

Tabungan Energi (TE) terbagi 2:

1. Tabungan Energi Positif (TEP)

2. Tabungan Energi Negatif (TEN)

Tabungan Energi, baik TEP maupun TEN, ada saatnya mencair. Paling lambat sebelum manusia meninggal, semua Tabungan Energi pasti ditagih oleh alam. Sehingga pada saat seseorang meninggal Tabungan Energi dalam keadaan kosong atau nol.

– TEP mencair melalui berbagai kejadian bernilai BERKAH yang mendatangkan kebahagiaan.

BACA JUGA  Anies Baswedan: Solusi Masa Depan Bangsa

– Sebaliknya, TEN mencair melalui berbagai MUSIBAH yang akan mengakibatkan penderitaan bagi penabungnya.

Kemunculan Isyarat Memasuki Pencairan TEN

Saat ini, orang nomor 1 di negeri ini, bisa dijadikan objek pengamatan tentang fenomena kemunculan isyarat mendekati pencairan TEN.

Bukan rahasia lagi, keberhasilannya merebut kekuasaan di negeri ini, melalui kejahatan politik yang brutal dan tidak beradab.

Padahal, usianya saat ini sudah 74 tahun. Normalnya, sudah semakin mendekati liang kubur. Sejalan dengan itu, Tabungan Energi, baik itu  yang positif maupun negatif sudah memasuki isyarat masa pencairan tabungan.

Berhubung kekuasaan yang diduduki itu mutlak hasil kejahatan politik, maka Tabungan Energi Negatif (TEN) membengkak dan sewaktu-waktu niscaya akan meledak. Sudah banyak isyarat yang bermunculan.

Dalam catatan sejarah kepemimpinannya, sejak dia dilantik memimpin negeri ini ucapan, tindakan, keputusan, dan kebijakan kepemimpinan, dianalogikan dengan karikatur seorang penguasa yang mengayunkan palu godam ke tembok menara kekuasaannya.

BACA JUGA  Paradoks Fiskal Indonesia: Keuangan Negara Terus Melemah

Kemudian, kata yang ia ucapkan dan menjelma menjadi pukulan palu godam yang menghantam tembok menara kekuasaannya.

1. Ketika rakyat menuntut adili Joko Widodo, ia justru berseru, “Hidup Jokowiiii!”

2. Ketika rakyat tenteram tanpa konflik, ia justru mengusir rakyatnya yang dituduh bikin gaduh agar kabur ke Yaman.

3. Ketika meminta validasi program MBG kepada para buruh, “Bagaimana MBG bermanfaat atau tidak?!” Buruh menjawab spontan , “Tidaaak!”.

Ke depan bisa jadi dan bisa diprediksi akan semakin banyak ayunan palu godam yang akan menghantam tembok menara kekuasaannya.

Wallahu alam bishowab.

*) Hamka Suyana, Motivator Cahaya Sasyuik

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.