Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 08:54 WIB
Surabaya
--°C

Satu Suro, Tradisi Arab, Ajaran Islam, dan Kearifan Lokal Jawa

KEMPALAN: Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, kita mengenal berbagai perayaan bernuansa spiritual mulai dari Ramadan, Idul Kurban hingga 1 Suro. Tapi ada pertanyaan besar yang sering diajukan, apa dampak sosial dari semua ini?

Kita puasa sebulan penuh tapi berita tentang kekerasan seksual di pesantren tetap menghiasi layar. Kita potong hewan kurban tiap tahun sebagai simbol pemotongan nafsu hewani tapi keserakahan manusia justru makin menggila. Kita berziarah dan bertapa di bulan Suro, tapi korupsi dan kejahatan masih memenuhi pemberitaan.

Perlu kiranya menelusuri jejak sejarah. Apakah nni warisan leluhur? Banyak yang tidak tau bahwa “Suro” bukan asli Jawa melainkan berasal dari kata Arab ‘Asyura’. Ini adalah hari raya di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Persia, perayaannya bersaing dengan Nairuz milik Zoroaster.

Setelah peristiwa tragis Karbala (680 M), di mana cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali, gugur kemudian hari ‘Asyura’ diubah menjadi hari berkabung bagi kalangan Syiah. Maka muncullah doktrin, “Haram berpesta di bulan Muharram.”

BACA JUGA  DPW Gerakan Rakyat Kalteng Dorong Percepatan Pembentukan DPC di Gunung Mas

Tradisi ini masuk ke Jawa pada masa Sultan Agung (1613–1645), Raja Mataram Islam. Ia mengganti kalender Jawa (Pranata Mangsa) dengan kalender Hijriah, menggeser tahun baru lokal ke 1 Muharram yang kemudian disebut 1 Suro.

Dari sinilah sejarah penghapusan identitas lokal dilakukan secara halus dibungkus spiritualitas dan dikunci dengan larangan mempertanyakan dogma. Padahal, tidak ada kaitan antara Karbala dan kebudayaan agraris Jawa. Tapi propaganda spiritual berhasil dibangun dan bertahan hingga kini.

Mari kita jujur. Ritual apa pun, bila tidak melahirkan moralitas, hanyalah seremoni kosong.

Ramadan: Dikatakan sebagai bulan menahan nafsu. Tapi kasus pelecehan seksual di lingkungan agama tetap marak.

Idul Kurban: Dikenang sebagai simbol pemotongan sifat hewani. Tapi manusia tetap lebih rakus dari hewan yang dikurbankan.

1 Suro: Dirayakan dengan ziarah dan tirakat, tapi tanpa refleksi sosial atau solusi nyata untuk penderitaan rakyat. Korupsi kian menggila.

BACA JUGA  Mengguncang Ring Dunia: 8 Petarung Jatim Jadi Tumpuan Indonesia di Malaysia

Dogma tidak mengenal koreksi. Tidak seperti ilmu pengetauan yang terus memperbarui dirinya, ritual keagamaan justru stagnan, kadang menolak ditinjau ulang. Akibatnya? Generasi milenial, Gen Z dan Gen Alpha makin sulit menemukan relevansi.

Mari kembalikan ruh ritual sebagai penggerak moral dan etika sosial. Bila itu tak terjadi maka generasi mendatang akan menertawakan tradisi yang kita puja-puja hari ini karena dianggap tak lebih dari teatrikal tanpa makna.

Kita tidak menolak spiritualitas. Tapi spiritualitas tanpa konteks sosial adalah kemewahan yang tak lagi relevan.
Sudah saatnya kita menyaring, mana warisan budaya lokal yang patut dilestarikan? Mana tradisi impor yang hanya menjadi alat kontrol sosial?

Jika tidak, ritual keagamaan akan menjadi artefak, dipajang, difoto, tapi tidak lagi hidup dalam keseharian rakyat. ()

Penulis Esai:
Rokimdakas
Sabtu 28 Juni 2025

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.