Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 19:19 WIB
Surabaya
--°C

Bangsa yang kehilangan tanah, akan kehilangan masa depannya

Di tengah zaman modern penuh gemerlap tehnologi canggih, saat dunia terkoneksi dalam jaringan nirkabel dan hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi hanya dengan sentuhan jari, ada satu hal yang tetap tak tergantikan yakni tanah.

Bukan tanah virtual dalam bentuk aset digital atau metaverse, tapi tanah nyata yang bisa ditanami, digarap, dan menghasilkan makanan bagi miliaran manusia.

Ironisnya, saat ini banyak masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai melepaskan tanah warisan leluhur demi gaya hidup sesaat.

Sebaliknya para tokoh besar dunia sekarang justru berlomba membeli lahan pertanian.
Fenomena menjual tanah saat ini semakin terlihat jelas terlihat terutama di Indonesia.

Sawah-sawah yang dulu menjadi lambang ketahanan pangan kini berubah menjadi perumahan, ruko, atau bahkan lahan kosong tak terurus.

Pemiliknya, sebagian besar generasi muda, tergiur menjual karena iming-iming keuntungan cepat.

Hasil penjualan tanah tersebut kerap digunakan untuk membeli mobil baru, motor gede, gadget mahal, atau mengikuti tren investasi seperti kripto dan saham yang belum tentu dipahami secara mendalam.

Ada kebanggaan sesaat saat menukar warisan leluhur dengan simbol-simbol gaya hidup kekinian, tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap kedaulatan pangan dan ekonomi keluarga.

Sementara itu, dari belahan dunia lain, dua tokoh raksasa teknologi dunia menunjukkan arah yang sangat berbeda. Bill Gates, pendiri Microsoft, secara perlahan namun pasti menjadi pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat.

Ia bukan membeli tanah untuk proyek properti atau ekspansi digital, melainkan untuk pengembangan pertanian dan riset ketahanan pangan.

Di Hawaii, Mark Zuckerberg—pendiri Meta (dulu Facebook)—mengakuisisi ribuan hektare tanah. Ia memanfaatkannya untuk konservasi alam, pembangunan sistem pertanian lokal, serta pelestarian ekosistem tradisional.

Dalam berbagai wawancara, mereka tak sekadar menyatakan kepedulian, namun menempatkan pangan dan alam sebagai prioritas masa depan.

Langkah keduanya menunjukkan sinyal yang kuat. Ketika dunia makin padat, sumber daya alam makin terbatas, dan populasi terus bertambah, maka persoalan paling fundamental bukanlah kecepatan koneksi internet atau kecanggihan robotika, melainkan apakah manusia masih bisa makan dan minum? Apakah masih ada tanah untuk menanam padi, sayuran, atau memelihara ternak? Dan apakah air bersih masih tersedia untuk dikonsumsi dan mengairi ladang?

Profesor David Battisti, ahli iklim dan pangan dari University of Washington, pernah menyatakan, Dalam 30 tahun ke depan, tantangan terbesar umat manusia bukan lagi bagaimana memperluas jaringan teknologi, tapi bagaimana memastikan bahwa setiap manusia masih bisa mengakses pangan dan air bersih.

Pendapatnya diamini oleh berbagai lembaga global, termasuk FAO (Organisasi Pangan Dunia), yang sejak 2015 telah memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi “krisis pangan kronis” jika degradasi lahan dan perubahan iklim terus dibiarkan tanpa intervensi serius.

Krisis ini bukan cerita masa depan yang jauh. Bahkan sekarang, kita mulai merasakannya. Di berbagai wilayah Indonesia, musim tanam makin tak menentu.

Para petani kehilangan orientasi karena iklim tak bisa diprediksi, harga pupuk melambung tinggi, dan harga jual hasil panen tidak menentu.

Alih-alih diperkuat dan dimodernisasi, sektor pertanian kita justru ditinggalkan. Generasi muda enggan menjadi petani karena dianggap pekerjaan “kelas bawah” dan tidak menjanjikan secara ekonomi. Padahal, justru di tangan merekalah harapan akan ketahanan pangan berada.
Tanah bukan hanya soal aset, tapi soal peradaban.

Dalam sejarah panjang umat manusia, bangsa yang kuat dan bertahan adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya alamnya dengan bijak. Jepang, meski miskin sumber daya alam, tidak pernah mengabaikan pertanian.

Negara-negara Eropa, yang lebih dahulu mengalami industrialisasi, kini justru kembali mengembangkan pertanian organik dan mendorong masyarakatnya kembali ke desa.

Sementara itu, Indonesia yang dianugerahi tanah subur, iklim tropis, dan beragam komoditas unggulan malah tergoda menjual kekayaan paling dasarnya yaitu tanah.

Masa depan dunia adalah masa depan pangan. Tak peduli seberapa canggih dunia digital berkembang, manusia tetap memerlukan nasi, sayur, daging, dan air untuk hidup.

Aplikasi, algoritma, atau teknologi AI tidak bisa menggantikan beras di meja makan. Justru teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat sektor ini, bukan untuk menjauhkannya.

Sudah saatnya kita melihat sawah dan ladang bukan sebagai peninggalan masa lalu yang harus ditinggalkan, tetapi sebagai fondasi utama menghadapi masa depan yang kian penuh ketidakpastian.

Negara juga harus hadir dengan kebijakan nyata. Perlindungan terhadap lahan pertanian harus diprioritaskan, bukan digusur demi proyek yang tak jelas orientasi jangka panjangnya.

Reformasi pertanian perlu digencarkan—dengan memberikan subsidi, pelatihan modern, dan teknologi tepat guna kepada para petani muda.

Pendidikan dan media juga perlu mengubah narasi—bahwa menjadi petani bukanlah profesi tertinggal, tapi garda depan penyelamat bangsa.

Jika Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang hidup di dunia teknologi pun memilih kembali ke tanah, lalu mengapa kita—yang hidup di tanah paling subur di dunia—rela melepaskannya?

Kini saatnya kita membuka mata, bukan metaverse yang akan memberi makan anak cucu kita, tapi sawah-sawah yang dirawat hari ini.

Bukan investasi spekulatif yang bisa menjamin keberlangsungan hidup bangsa, tapi ketahanan pangan dan kedaulatan atas tanah yang kita miliki.

Karena tanah yang dipertahankan bukan hanya soal nilai ekonomi, tapi nilai kehidupan.

Tanah yang dibiarkan subur akan terus menghidupi, bahkan saat pemiliknya telah tiada. Dan air yang bersih akan terus mengalir jika alam dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Maka sebelum kita kehilangan keduanya, mari bersatu menjaga tanah air kita—secara harfiah maupun batiniah. Sebab, seperti yang dikatakan seorang bijak, “Bangsa yang kehilangan tanahnya, adalah bangsa yang kehilangan masa depannya.”

Oleh Bambang Eko Mei

560 Perenang Ikuti Sidoarjo Aquatic Challenge Series II di Kolam Renang Sendang Delta 

SIDOARJO-KEMPALAN : Sebanyak 560 perenang dari 92 klub yang tersebar di Jawa Timur terjun dalam kejuaraan Sidoarjo Aquatic Challenge (SAC) Series II di kolam renang Sendang Delta Sidoarjo, selama dua hari, 19-20 Juli 2025.

Ketua Panitia pelaksana  Sidoarjo Aquatic Challenge Series II, Rizqi Suryawati mengatakan, kejuaraan yang sudah digelar dua kali ini, sengaja dibatasi jumlah pesertanya agar tidak terlalu membludak.  

“Tahun pertama ada 515 peserta kita gelar satu hari, Waktu itu juara umumnya klub dari Mojokerto. Sekarang 560 perenang kita gelar dua hari. Jumlahnya kita batasi dan kita gelar dua hari, agar peserta tidak terlalu lama menunggu jadwal bertanding, ” ujar Rizqi yang akrab dipanggil Kiki ini.

Sementara salah satu pencetus Kejuaraan SAC, Suyanto mengatakan, jika ajang ini awalnya merupakan ide dari para pelatih renang berlicensi. Tujuaan memberikan wadah kompetisi bagi para perenang usia dini.

“Konsepnya semi fun. Selain itu juga membangun mental atlet agar terbiasa bertanding dengan suasana kompetisi sejak dini. Sekaligus juga agar mereka yang baru mulai belajar renang ini tidak bosan, karena hanya berlatih tidak ada pertandingan, ” ucap Suyanto, Pelatih Renang Sidoarjo Aquatic Club.

Pria yang juga menjadi Pelatih Renang Sidoarjo di Porprov Jatim 2025 ini menjelaskan karena konsepnya semi fun dan lebih diprioritaskan perenang usia dini, maka nomor yang dilombakan juga jarak-jarak pendek.

“Nomer yang dilombakan jarak pendek, yang menjadi basic di renang, ” ucapnya.

Dari pantuan dilapangan, Kejuaraan SAC Series II ini berlangsung meriah. Tribun penonton penuh sesak. Para orang tua maupun masyarakat memberikan semangat kepada para perenang cilik ini.

Bahkan ada beberapa perenang yang tertinggal jauh dari lawannya, namun para penonton tetap bertepuk tangan agar tidak menyerah untuk bisa mencapai garis finish.(Ambari Taufiq / M Fasichullisan)

Perayaan Hari Anak Nasional Ala BMS

Merayakan Hari Anak Nasional yang jatuh pada setiap 23 Juli, Bengkel Muda Surabaya menampilkan anak-anak Surabaya yang bertalenta seni, baik yang tergabung dalam komunitas seni maupun perseorangan. Program Bulanan yang bertajuk “Anak-anak Bermain, Biarkanlah” yang diambil dari salah satu sajak karya Hardjono WS, berlangsung pada 20 Juli 2025, pukul 19.00, di Studio Kecil BMS, Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya.

Mengapa Perlu Ada Hari Anak Nasional?

Pada dasarnya setiap anak membawa potensi yang luar biasa. Bukan sekadar pewaris masa depan, tapi juga penentu arah bangsa hari ini.

Suara anak seringkali tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia orang dewasa. Hari Anak Nasional menjadi momen penting untuk menyalakan kesadaran kolektif: bahwa anak bukan objek perlindungan semata, melainkan subjek dalam pembangunan.

Mengukuhkan Hak Anak sebagai Prioritas

Kegiatan Hari Anak Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni, tapi penegasan bahwa hak-hak anak harus menjadi poros kebijakan publik dan praktik sosial.

Hak untuk tumbuh sehat, belajar, bermain dan didengar perlu terus diupayakan, terutama bagi anak-anak yang hidup di pinggiran sistem.

Jika kita mau bercermin, jujur harus diakui bahwa di republik ini masih banyak anak yang menghadapi kekerasan, eksploitasi dan bahkan akses pendidikan yang timpang.

Dengan demikian, perayaan hari anak ini menjadi momen reflektif: seberapa jauh kita benar-benar menjadikan anak sebagai prioritas?

Merawat Kesadaran Kolektif dan Komunitas

Dalam kerangka komunitas, Hari Anak Nasional dapat memperkuat solidaritas lintas generasi. Ia menjadi pengingat bagi orang dewasa, baik sebagai orang tua, guru, pemimpin maupun warga, bahwa tumbuh kembang anak adalah urusan bersama.

Sekolah, keluarga dan lingkungan harus bersinergi, bukan saling menyalahkan. Menurut hemat saya, anak-anak bukan sekadar tanggung jawab pribadi, melainkan amanah sosial.

Membangun Narasi Kebangsaan yang Humanis

Dengan ikut merayakan Hari Anak Nasional, kita sebenarnya sedang menulis ulang narasi kebangsaan yang lebih humanis. Kemajuan bukan hanya soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan yang paling rentan.

Anak-anak sering menjadi cermin dari kebijakan: adil atau timpang, inklusif atau eksklusif. Pesan yang ingin disampaikan oleh Bengkel Muda Surabaya dalam merayakan Hari Anak Nasional – meskipun dengan sangat sederhana – merupakan penegasan terhadap komitmen etis dan filosofis bagi masa depan yang berkeadaban.

Bagi Bengkel Muda Surabaya, Hari Anak Nasional bukan sekadar satu tanggal di kalender; ia adalah peringatan bahwa kita, sebagai masyarakat, sedang ditakar oleh cara kita memperlakukan anak-anak.

Ada lima mata acara yang akan ditampilkan dalam program ini, yakni Pembacaan Puisi, Tari Remo, Musik Ensemble dari Pusat Olah Suara Surabaya (POSS), musik perkusi dari anak-anak BMS dan karawitan tanpa gamelan dari Medhang Taruna Budaya.

Aira, yang akan tampil membaca puisi, usianya sekarang 12 tahun, kelas 6 SDN Penjaringan Sari 2, pernah mengikuti lomba mendongeng dan baca puisi tingkat kota Surabaya. Juga menjadi juara 2 lomba mendongeng di kecamatan rungkut.

Ada dua cucu dari Sirikit Syah yang akan tampil. Pertama, Harmoni Bumi akan baca puisi. Sejak kecil suka sekali membaca dan favoritnya adalah cerita sejarah, seperti Ramayana, Mahabarata, Kerajaan Nusantara, sampai mitologi Yunani sudah diselesaikan. Beberapa kali Bumi ikut kejuaraan silat. Kedua, Melodi Laut. Seperti namanya, ia senang menari. Pernah belajar balet di Marlupi Dance Academy saat TK. Tapi kini Laut lebih menekuni tarian tradisional di sanggar RDC. Sekarang ia usia 9 tahun dan duduk di kelas 4 di SDN Rungkut Kidul 2 Surabaya.

Musik perkusi BMS merupakan binaan dari salah seorang senior BMS. Tujuannya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa perkusi atau bunyi-bunyian termasuk bagian dari musik. Alat musik perkusi adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul, digoyangkan atau digesek sehingga menghasilkan bunyi atau suara.

Penampil lain adalah dari komunitas Medhang Taruna Budaya, sering disingkat MTB. Komunitas ini adalah sebuah sanggar ludruk lintas generasi di Surabaya yang berfokus pada pelestarian budaya ludruk, khususnya melalui keterlibatan anak-anak muda dan generasi muda. Mereka biasa berlatih di Dewan Kesenian Surabaya. Komunitas ini dipimpin oleh Sri Wahyuni (juga dikenal sebagai Yuni Sugiyo) dan aktif melibatkan anak-anak usia sekolah dalam setiap pementasannya. MTB pernah menggelar pertunjukan ludruk, termasuk lakon “Joko Jumput in Action.” MTB juga telah meraih beberapa prestasi, termasuk menjadi penyaji terbaik tiga kali berturut-turut dalam Festival Ludruk tingkat Kota Madya Surabaya. Kali anak-anak yang berada dalam komunitas Medhang Taruna Budaya dan masih duduk di bangku SD kelas 1 hingga kelas 3 ini akan tampil membawakan dua tembang garingan (tanpa iringan gamelan).

Pusat Olah Suara Surabaya atau disingkat POSS, yang didirikan oleh Heru Prasetyono, adalah komunitas musik yang membina mulai dari anak-anak hingga kalangan muda. Komunitas ini tergolong ulet. Pernah “diusir” ketika latihan musik di Balai Pemuda. Tapi berkat dukungan Dewan Kesenian Surabaya, hingga kini kita masih bisa melihat mereka latihan di Kompleks Balai pemuda. Kelompok ini aktif mengadakan pertunjukan musik, baik di Surabaya maupun kota lain di Jawa Timur seperti Lumajang, Pasuruan, dan Kediri. POSS Ensemble menekankan pada inklusi dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk belajar musik dan tampil di panggung, tanpa memandang latar belakang. Belum lama ini mereka menyelenggarakan konser besar berjudul “Gado-Gado Suroboyo” yang merupakan perayaan kebersamaan dan keberagaman.

Tunggu apa lagi? Yuk ngumpul di Studio Kecil untuk menyaksikan bagaimana anak-anak bertalenta seni mengekspresikan dirinya.

Jil kalaran
Pegiat Kesenian

Elyasani Irwanti: Perlu Edukasi Menanam Literasi Jaminan Sosial Sejak Sekolah

KEMPALAN: Di balik deretan angka dan grafik statistik kepesertaan jaminan sosial yang stagnan, ada satu sosok yang konsisten menyoroti akar persoalan mendasarnya yaitu literasi. Bukan sekadar edukasi dalam bentuk ceramah atau brosur yang menumpuk di ruang tunggu kantor BPJS tapi pemahaman menyeluruh yang hidup dan tumbuh di benak masyarakat. Sosok itu adalah Elyasani Irwanti, seorang dokter gigi yang juga dikenal luas sebagai pengamat jaminan sosial sekaligus pendidik yang tekun di lingkungan BPJS Ketenagakerjaan.

‎Bagi Elyasani literasi bukan sekadar tau, melainkan mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan atas informasi yang dimiliki. “Edukasi itu proses. Literasi adalah hasil dari proses yang memicu kemampuan untuk memahami, menilai dan bertindak,” ungkapnya lugas.

‎Sudah lebih dari satu dekade Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) digulirkan pemerintah. Namun fakta berbicara, literasi masyarakat terhadap asuransi, termasuk jaminan sosial masih berada di titik yang memprihatinkan.

‎Menurut data OJK, indeks literasi asuransi hanya 31,72 persen dengan tingkat inklusi jauh lebih rendah, 16,63 persen. Tingkat inklusi adalah ukuran yang menunjukkan seberapa luas akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan keuangan formal.

‎Di tengah semangat inklusivitas yang digaungkan pemerintah, Elyasani melihat ironi ini sebagai sinyal bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan belum menyentuh esensi dalam membentuk mindset bahwa jaminan sosial adalah kebutuhan dasar.

‎“Banyak masyarakat belum menyadari bahwa jaminan sosial bukan hanya sekadar potongan gaji atau administrasi wajib perusahaan tetapi bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi warganya,” tutur Elyasani.

PROGRAM PENGUATAN

‎Alih-alih menyalahkan masyarakat, Elyasani memilih berinovasi dalam pendekatan. Salah satu terobosannya adalah mengintegrasikan literasi jaminan sosial ke dalam kurikulum sekolah, melalui Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di tingkat SMA. Modul bertema “Jaminan Sosial untuk Masa Depan yang Lebih Cerah” kini telah diterapkan di beberapa sekolah, salah satunya SMAN 61 Jakarta.

‎“Para siswa harus tau sejak dini bahwa menjadi peserta BPJS bukan pilihan namun kebutuhan. Mereka harus sadar, bahkan bisa menuntut jika perusahaan tidak mendaftarkan mereka. Inilah bagian dari evolusi kesadaran,” tegasnya.

‎Tak berhenti di SMA, BPJS Ketenagakerjaan juga membuka program magang melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Para mahasiswa terlibat langsung dalam program sosialisasi dan rekrutmen peserta untuk menjadikan mereka duta yang menjembatani pemahaman antara institusi dan masyarakat.

‎Elyasani tak menutup mata bahwa masih banyak pekerjaan rumah. Biaya premi yang dirasa memberatkan, proses klaim yang dianggap berbelit, serta stigma bahwa asuransi “tidak sepadan” dengan iuran yang dibayar. Semua itu menjadi penghalang besar.

‎Namun baginya, semua bisa diatasi jika mindset publik diubah. Dan perubahan ini hanya bisa dimulai dari pemahaman. “Kalau pekerja merasa aman maka mereka akan lebih produktif. Rasa aman itu hanya bisa diberikan jika mereka terlindungi oleh sistem,” ujarnya.

‎Sebagai dosen pengembangan pembelajaran yang kini sedang mempersiapkan masa purna bakti, Elyasani tak lantas melambat. Ia tetap aktif menyusun kurikulum, memberi pelatihan kepada guru penggerak, bahkan turun ke masyarakat untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang jaminan sosial.

KUNCINYA: LITERASI

‎Dalam pandangan Elyasani, edukasi tanpa literasi hanya meninggalkan hafalan, bukan pemahaman. Karena itu, misi besar hidupnya adalah menjadikan jaminan sosial sebagai bagian dari logika berpikir masyarakat, bukan sekadar kebijakan pemerintah atau kewajiban institusi.

‎“Kalau pelajar kita sadar dari sekarang, mereka akan tumbuh menjadi generasi emas yang tidak hanya terlindungi, tapi juga melindungi yang lain,” tutup Elyasani penuh harap.


‎Oleh: Rokimdakas

Puisi ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’

KEMPALAN : Ternyata corak ekspresionisme puisi-puisi yang termuat pada buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik cukup banyak. Tidak saja yang berjudul ‘Robek-Robeklah Dadaku’ dan sejumlah puisi lainnya sebagaimana saya sampaikan pada tinjauan sebelum ini, juga puisi berjudul ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’ (halaman 62 – 63) : tak kalah hebat daya ekspresinya.

Selain itu, kandungan dramatika pada puisi ini dahsyat sekali.

Sekadar dibaca (dalam hati), boleh saja. Kita akan mencoba meresapinya sebagaimana membaca novel.

Namun, manakala kita membacakannya dalam sebuah panggung pertunjukan, memungkinkan mendapatkan ekstase yang diharapkan bisa lebih memenuhi hasrat jiwa dan domain idealisme.

Sesekali tebersit kesan surealisme, manakala mencoba meresapi puisi ini, kendati elemen-elemen ekspresionisnya nunjem sekali. Seperti ada tranformasi antara unsur surealis dengan ekspresionis.

Pada bait pertama puisi ini akan bisa direnungkan sesungguhnya apa inti pesan yang disampaikan Rohan.

Firaun tenggelam di Laut Merah
ketika sedang di puncak kekuasaan
kekuasaan sama dengan bencana
jika kekuasaan itu, Firaun
jika kekuasaan itu, syahwat
jika kekuasaan itu, diusung dengan keranda
jika kekuasaan itu, bermuka belang
jika kekuasaan itu, minum arak

Rohan menggunakan simbolisme dan metafora yang kuat dalam bait puisi ini. Ia
meluapkan emosi sanubarinya tatkala dihadapkan pada realita dunia kekuasaan yang mencoba ia lawan karena (diangapnya) menyimpang dari ceruk jiwa idealismenya.

Kosakata ‘bencana’, ‘syahwat’, ‘keranda’, ‘muka belang’, dan kalimat ‘minum arak’ adalah antitesa sekaligus “sinonim” dari ‘kekuasaan’. Dan, kekuasaan di sini disimbolkan sosok Firaun raja lalim yang hidup pada zaman Mesir kuno.

Dalam konteks bait ini, kekuasaan yang Farouk-is sinonim dengan ‘bencana’ (malapetaka), ‘syahwat’ (nafsu purba/cenderung negatif), ‘keranda’ (maut), ‘muka belang’ (tidak jelas visi & misi untuk rakyat), ‘minum arak’ (memabukkan).

Sebagaimana pernah saya singgung pada bagian tulisan sebelum ini, Rohan memiliki gaya penulisan yang unik dan ekspresif, dengan penggunaan bahasa yang kaya dan imajinatif.

Hal tersebut merupakan ciri khas ekspresionisme model Rohan yang menekankan luapan ekspresi. Dan boleh jadi sebagai bentuk eksperimentasi menggunakan untaian kata-kata pilihan sehingga lahirlah puisi-puisinya dalam bingkai estetika yang unik.

Pada baris kedua dan ketiga bait ke-2, Rohan menulis begini :

menjadi abdi raja seperti berjalan dengan harimau
kapan saja ia siap diterkam

Bayangkan, betapa was-wasnya saat berjalan dengan raja (kekuasaan) yang disimbolkan ‘harimau’ ini. Kapan saja siap menerkam dan mencabik-cabik. Tentu saja ini untuk kekuasaan yang lalim.

Pada kalimat lain, ia gambarkan bahwa “harimau” itu seram dan bengis. Kekuasaan yang disubstitusi dalam manifestasi ‘harimau’ itu tumbuh dari moralitas dan syahwat yang busuk, sebagaimana dipaparkan pada beberapa baris kata-kata pada bait ke-3 :

harimau seram dan bengis
ia buas untuk siapapun mereka
lebih ganas dari Ken Arok
jika moralitas tumbuh dari syahwat yang busuk
jika moralitas berjiwa kapitalis
jika moralitas lebih membusungkan perut
maka moralitas sama dengan iblis

Pada akhirnya Rohan memberi pesan –kalau tidak boleh disebut wejangan— bahwa :

rumput ditanam tidak akan jadi padi
dia berakar menyebar dan bersemi di tempat lain, sebagaimana baris-baris pada bait terakhir puisi ini.

Artinya, seberapa pun besarnya power, ia tak bisa mengakar ke rakyat jika yang ditanam bukan pohon kesejahteraan.

Jadi, apakah Rohan masuk golongan penyair ekspresionisme?
Tidak sepenuhnya bisa dikatakan begitu.

Namun setidaknya, puisi berjudul ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’, ‘Robek-Robeklah Dadaku’, ‘Soekarno Bapakku’, ‘Indonesia Adalah Saraswati’, ‘Dari Sini Indonesia Masih Ada’, dan beberapa lagi puisi di buku Bicaralah yang Baik-Baik, eksistensi elemen-elemen ekspresionisnya tidak dapat disangkal. (Amang Mawardi).

75 Pushbike Cilik Adu Kecepatan di Junio Fun Rice BRI x Des 2025

Para rider cilik bersiap di garis start. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)

SIDOARJO-KEMPALAN: Sebanyak 78 pembalap sepeda cilik (tanpa pedal) beradu kecepatan dalam Kejuaraan Pushbike bertitel  “Junio Fun Rice BRI X Des 2025” yang digelar di Parkir Timur GOR Delta Sidoarjo, Sabtu (19/7).

Kejuaraan ini digelar Komunitas Pushbike Sidoarjo atau Delta Eagle Sidoarjo bekerja sama dengan Bank Republik Indonesia (BRI) Cabang Sidoarjo.

“Sebenarnya yang berminat mendaftar cukup banyak, tapi untuk kali ini hanya kita batasi 78 peserta,” kata Said, Ketua Delta Eagle Sidoarjo, kepada kempalan.com.

Menurut Said, peserta kejuaaraan ini tidak dipungut biaya. Kendati demikian, panitia menyediakan hadiah uang pembinaan bagi pembalap yang tampil sebagai juara di tiap kelompok umur (KU), baik putra maupun putri. Yakni KU 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun.

Said, Ketua Delta Eagle Sidoarjo.

“Juara I sampai VI akan naik podium. Tapi yang berhak mendapat hadiah uang pembinaan hanya juara I, II, dan III,” ungkap Said.

Untuk juara I mendapat uang pembinaan Rp 250 ribu, juara II Rp 200 ribu, dan juara III Rp 150 ribu. “Baik putra maupun putri hadiahnya sama, tidak ada perbedaan,” terang Said.

Seperti Arzaka yang tampil sebagai juara I untuk kategori KU 5 tahun putra. Didampingi ibunya, bocah yang masih duduk di bangku TK B ini mengaku senang dan bangga bisa meraih juara I dan dapat hadiah uang pembinaan Rp 250 ribu. “Senang, bangga,” katanya, singkat, lantas berlari-lari dengan teman-temannya sesama pembalap.

Arzaka bersama ibunya usai menjuarai KU 5 tahun putra.

Ibunya bercerita kalau awalnya ia mengajak Arzaka menekuni pushbike hanya untuk mengisi waktu, supaya anaknya itu punya kegiatan yang positif di luar rumah. “Alhamdulillah, ternyata dia (Arzaka) senang dan bisa berprestasi di pushbike,” ucapnya.

Ibu berhijab ini berjanji akan terus mendukung anaknya untuk menekuni olahraga pushbike. Bahkan, ia rela mengantar anaknya untuk berlatih dua minggu sekali, yaitu Kamis malam di Transmart Sidoarjo dan Minggu pagi di Mall Pelayanan Publik Sidoarjo.

“Kamis malam latihannya di Transmart mulai jam 19.00-21.00 WIB. Sedang Minggu pagi di Mall Pelayanan Publik Jalan Lingkar Timur mulai jam 08.00-10.00 WIB,” pungkasnya.

Muncul Sebelum Covid-19

Sebagaimana kita ketahui, pushbike atau kick bike adalah sepeda roda dua tanpa pedal (kayuhan), tanpa rantai dan sistem penggerak, yang dirancang untuk anak kecil.

Sesuai namanya, sepeda ini tujuannya adalah untuk melatih keseimbangan (balancing), sebelum anak memakai sepeda normal. Akhir-akhir ini, cabang olahraga ini banyak digemari oleh anak-anak usia dini.

“Sebenarnya olahraga ini muncul sudah cukup lama, bahkan sebelum Covid-19. Tapi, ketika Covid-19 merebak, olahraga ini sempat vakum. Baru tahun 2021 ramai lagi, sampai sekarang,” kata Said.

Kini, pushbike sudah menyebar ke berbagai daerah dan banyak disukai anak,anak. Khususnya di kota-kota besar di tanah air. (Dwi Arifin)

Welas Asih Yang Membawa Maut

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Syukuran pernikahan putera Dedi Mulyadi di alun-alun dan pendopo Garut 18 Juli 2025 telah menelan korban 3 orang tewas dan belasan luka-luka. Maksud hati ingin bermegah dengan pesta rakyat makan gratis justru menciptakan tragedi. Entah perasaan bersalah apa pada mempelai Maula Akbar dan Puteri Karlina atau sang bapak Gubernur yang gemar berkonten itu. Yang jelas peristiwa ini tentu tak pantas untuk mainan konten channel youtube Dedi Mulyadi.

Welas asih keluarga Dedi Mulyadi melalui pesta rakyat makan gratis berefek maut. Suatu yang terjadi pada sejuta kemungkinan acara syukuran pernikahan. Pernikahan yang membahagiakan kini membahayakan. Kita tentu tidak percaya itu adalah tumbal kepada Nyi Roro Kidul karena mempercayainya berarti musyrik dalam agama. Soal jika Dedi percaya itu urusan lain.

Faktanya adalah kerja ngawur Dedi yang baru saja mengubah nama RSUD “Al Ihsan” menjadi RSUD “Welas Asih”. Pengkhidmatan budaya yang salah kaprah dengan cara menggeser atau bahkan memusuhi agama. Dedi memang kontroversial dan menjadi figur yang terbius dalam nikmat kontroversi. Berinovasi dengan menejemen “kumaha aing”.

Welas asih mengubah madu menjadi racun. Tiga jenis racun telah dituangkan, yaitu :

Pertama, racun a historis. Nama “Al Ihsan” adalah pemberian ulama, umat Islam dan pemerintah dahulu. Memiliki filosofi kebaikan dunia dan akherat. Dedi tidak becus membuat RS baru justru mengacak-acak yang ada. Itu jelas bukan sifat welas asih.

Kedua, racun hukum. Status kepemilikan Pemprov atas RS yang bernama “Al Ihsan” itu didasarkan atas Perda No 23 tahun 2008 dan karenanya untuk mengubah nama RS haruslah dengan Perda kembali. Tidak dapat Perda dihapuskan oleh Kepgub. Kepgub “Welas Asih” secara brutal telah membunuh Perda “Al Ihsan”.

Ketiga, racun Islamophobia. Dengan berdalih  kearifan budaya telah membenci atribut keagamaan. Dedi bertameng budaya sedang mencanangkan perang atas agama. Tafsir palsu dan mengada-ada mengaitkan Welas Asih dengan Rahman dan Rahim. 15 Maret PBB menyatakan sebagai  “International day to combat Islamophobia”. Islamophobia Dedi harus dilawan.

Penggantian nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih harus ditolak.
Welas asih pernikahan telah membawa korban. Menjadi peringatan bahwa kegiatan dan ritual “kumaha aing” bakal “mawa matak”.
Welas asih yang membawa maut telah terjadi. Korban lain telah menanti. Sebelum hal itu terjadi maka “RSUD Al Ihsan” harus direbut kembali.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 19 Juli 2025

Kemacetan Ketapang Kian Parah, Anggota DPR-RI Bambang Haryo Minta Kapal LCT Segera Dioperasikan

Banyuwangi – Kemacetan panjang yang melumpuhkan akses menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuai perhatian serius dari Anggota DPR RI, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono. Dalam kunjungannya ke lokasi pada Jumat (18/7), politisi dari Fraksi Gerindra itu meminta pemerintah segera mengambil tindakan cepat agar kapal-kapal eks Landing Craft Tank (LCT) yang sempat diberhentikan bisa kembali melayani penyeberangan.

Seperti diketahui, sebanyak 15 kapal eks LCT sebelumnya dihentikan operasionalnya oleh otoritas pelabuhan menyusul tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Pemeriksaan kelayakan dan proses docking dilakukan sebagai bagian dari evaluasi keselamatan pelayaran. Namun, hal ini berimbas pada antrean kendaraan yang memanjang hingga puluhan kilometer di jalur arteri Banyuwangi.

“Penumpukan kendaraan ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tapi juga ancaman nyata terhadap kelancaran distribusi logistik nasional. Kita harus ingat, jalur ini bukan hanya digunakan warga lokal, tapi juga menjadi jalur utama barang dan pariwisata menuju Bali,” kata Bambang.

Menurut Bambang, beberapa kapal yang kini belum boleh beroperasi sebenarnya telah melalui proses uji petik dan pemeriksaan teknis sebelumnya. Ia mempertanyakan mengapa kapal yang sudah dinyatakan layak secara teknis tidak segera dikembalikan ke jalur operasional.

Ia juga menegaskan bahwa setiap kapal yang hendak berlayar sudah diwajibkan memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB), yang hanya bisa dikeluarkan jika kapal telah memenuhi aspek keselamatan dan kelayakan sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau kapal itu sudah lolos SPB, artinya semua prosedur pemeriksaan sudah terpenuhi. Tidak seharusnya kapal yang memenuhi syarat justru dihentikan, sementara dampaknya ke masyarakat sangat besar,” imbuhnya.

Bambang mencontohkan kerugian ekonomi akibat kemacetan ini. Banyak truk yang mengangkut bahan pokok seperti bawang dan sayuran tertahan selama lebih dari 48 jam. Akibatnya, barang rusak di jalan sebelum sempat masuk pasar.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kemacetan di jalur penyeberangan ini bisa mencoreng nama baik Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

“Bali adalah destinasi kelas dunia. Ketapang-Gilimanuk adalah pintu masuknya. Kalau wisatawan terjebak macet dua hari, bagaimana kesan mereka terhadap sistem transportasi kita?” ucapnya prihatin.

Bambang mendesak Kementerian Perhubungan untuk bertindak cepat dan memprioritaskan kelancaran arus transportasi. Ia menyebut bahwa krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik terhadap pelayanan negara.

“Presiden kita saat ini sangat fokus membangun ekonomi nasional. Tapi kalau akses logistik dan mobilitas terganggu seperti ini, semangat itu bisa terhambat,” tandasnya.

Ia menegaskan, pembenahan sektor transportasi laut harus dilakukan secara menyeluruh, namun tetap berpijak pada urgensi pelayanan publik dan perputaran ekonomi.

Satpol PP dan Bea Cukai Sidoarjo Sita Puluhan Bungkus Rokok Ilegal di Surabaya

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya bersama Bea Cukai Sidoarjo menggelar Operasi Bersama Pemberantasan Cukai Rokok Ilegal,  Kamis (17/7).

Operasi ini bertujuan untuk menekan peredaran rokok ilegal di Kota Pahlawan. Selain itu, kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di wilayah Kota Surabaya.

Dalam operasi tersebut, petugas tidak hanya melakukan pemeriksaan, tetapi juga sosialisasi di sejumlah toko kelontong di Surabaya Timur, tepatnya di Kecamatan Sukolilo. Petugas menyisir delapan toko kelontong, memeriksa bungkus rokok yang dipajang dan diperjualbelikan di toko-toko tersebut.

Ketua Tim Kerja Penindakan Satpol PP Kota Surabaya Agnis Juistityas mengatakan, dalam upaya menekan peredaran cukai rokok ilegal tersebut, pihaknya secara masif melakukan edukasi kepada masyarakat pedagang agar selektif, dengan tidak menjual rokok ilegal.

“Kami bersama Bea Cukai Sidoarjo tidak hanya melakukan operasi saja, namun kami juga memberikan edukasi kepada mereka agar mengetahui apa saja ciri-ciri rokok ilegal ini. Dalam hal ini kami lakukan sosialisasi dengan berkolaborasi bersama perangkat wilayah kelurahan dan kecamatan di Kota Surabaya,” kata Agnis.

Agnis menambahkan, pihaknya akan secara berkala melakukan operasi bersama serta melakukan monitoring pada lokasi-lokasi yang terindikasi menjual rokok ilegal kepada masyarakat.

“Rencana ke depan kami juga akan menyasar pada penjual rokok yang menjual rokok ilegal di tepi jalan, karena kami juga mendapat aduan dari masyarakat para penjual tersebut menjual rokok-rokok ilegal berbagai merek. Hal ini kami lakukan untuk mengurangi peredarannya, meskipun tidak bisa dihilangkan, namun kami harap dengan adanya operasi ini dapat memberikan efek jera,” imbuhnya.

Sementara itu, Humas Bea Cukai Sidoarjo.Ni Putu Muriyantini mengatakan, dari hasil operasi bersama tersebut, petugas berhasil mengamankan 43 bungkus rokok ilegal atau setara dengan 860 batang rokok ilegal yang didapat dari satu toko kelontong.

“Hari ini kami temukan puluhan rokok ilegal tersebut, kami dapati pita rokok tersebut tidak sesuai dengan peruntukannya. Pada bungkus rokok tertera 20 batang, namun dilekatkan dengan pita cukai 12 batang,” kata Muri sapaan akrabnya.

Muri menerangkan, barang bukti yang ditemukan petugas, selanjutnya bakal dibawa ke Kantor Bea Cukai Sidoarjo guna dilakukan proses lebih lanjut.

“Untuk tindak lanjut, barang bukti rokok ilegal tersebut akan kami bawa, untuk selanjutnya tujuan akhirnya adalah proses pemusnahan rokok ilegal sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” terangnya.

Tak hanya itu, Muri menjelaskan, pihaknya berharap masyarakat dapat berperan serta dalam menekan peredaran rokok ilegal tersebut dengan memberikan informasi jika ditemukan adanya peredaran rokok ilegal tersebut.

“Untuk masyarakat dapat menginformasikan maupun mengirimkan aduan kepada kami jika adanya indikasi penjualan rokok ilegal. Untuk pengaduan tersebut bisa melalui media sosial kami @beacukaisidoarjo, maka segera akan kami tindak lanjuti,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.