Puisi ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’

waktu baca 3 menit
Penyair M. Rohanudin.

KEMPALAN : Ternyata corak ekspresionisme puisi-puisi yang termuat pada buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik cukup banyak. Tidak saja yang berjudul ‘Robek-Robeklah Dadaku’ dan sejumlah puisi lainnya sebagaimana saya sampaikan pada tinjauan sebelum ini, juga puisi berjudul ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’ (halaman 62 – 63) : tak kalah hebat daya ekspresinya.

Selain itu, kandungan dramatika pada puisi ini dahsyat sekali.

Sekadar dibaca (dalam hati), boleh saja. Kita akan mencoba meresapinya sebagaimana membaca novel.

Namun, manakala kita membacakannya dalam sebuah panggung pertunjukan, memungkinkan mendapatkan ekstase yang diharapkan bisa lebih memenuhi hasrat jiwa dan domain idealisme.

Sesekali tebersit kesan surealisme, manakala mencoba meresapi puisi ini, kendati elemen-elemen ekspresionisnya nunjem sekali. Seperti ada tranformasi antara unsur surealis dengan ekspresionis.

Pada bait pertama puisi ini akan bisa direnungkan sesungguhnya apa inti pesan yang disampaikan Rohan.

Firaun tenggelam di Laut Merah
ketika sedang di puncak kekuasaan
kekuasaan sama dengan bencana
jika kekuasaan itu, Firaun
jika kekuasaan itu, syahwat
jika kekuasaan itu, diusung dengan keranda
jika kekuasaan itu, bermuka belang
jika kekuasaan itu, minum arak

Rohan menggunakan simbolisme dan metafora yang kuat dalam bait puisi ini. Ia
meluapkan emosi sanubarinya tatkala dihadapkan pada realita dunia kekuasaan yang mencoba ia lawan karena (diangapnya) menyimpang dari ceruk jiwa idealismenya.

Kosakata ‘bencana’, ‘syahwat’, ‘keranda’, ‘muka belang’, dan kalimat ‘minum arak’ adalah antitesa sekaligus “sinonim” dari ‘kekuasaan’. Dan, kekuasaan di sini disimbolkan sosok Firaun raja lalim yang hidup pada zaman Mesir kuno.

Dalam konteks bait ini, kekuasaan yang Farouk-is sinonim dengan ‘bencana’ (malapetaka), ‘syahwat’ (nafsu purba/cenderung negatif), ‘keranda’ (maut), ‘muka belang’ (tidak jelas visi & misi untuk rakyat), ‘minum arak’ (memabukkan).

Sebagaimana pernah saya singgung pada bagian tulisan sebelum ini, Rohan memiliki gaya penulisan yang unik dan ekspresif, dengan penggunaan bahasa yang kaya dan imajinatif.

Hal tersebut merupakan ciri khas ekspresionisme model Rohan yang menekankan luapan ekspresi. Dan boleh jadi sebagai bentuk eksperimentasi menggunakan untaian kata-kata pilihan sehingga lahirlah puisi-puisinya dalam bingkai estetika yang unik.

Pada baris kedua dan ketiga bait ke-2, Rohan menulis begini :

menjadi abdi raja seperti berjalan dengan harimau
kapan saja ia siap diterkam

Bayangkan, betapa was-wasnya saat berjalan dengan raja (kekuasaan) yang disimbolkan ‘harimau’ ini. Kapan saja siap menerkam dan mencabik-cabik. Tentu saja ini untuk kekuasaan yang lalim.

Pada kalimat lain, ia gambarkan bahwa “harimau” itu seram dan bengis. Kekuasaan yang disubstitusi dalam manifestasi ‘harimau’ itu tumbuh dari moralitas dan syahwat yang busuk, sebagaimana dipaparkan pada beberapa baris kata-kata pada bait ke-3 :

harimau seram dan bengis
ia buas untuk siapapun mereka
lebih ganas dari Ken Arok
jika moralitas tumbuh dari syahwat yang busuk
jika moralitas berjiwa kapitalis
jika moralitas lebih membusungkan perut
maka moralitas sama dengan iblis

Pada akhirnya Rohan memberi pesan –kalau tidak boleh disebut wejangan— bahwa :

rumput ditanam tidak akan jadi padi
dia berakar menyebar dan bersemi di tempat lain, sebagaimana baris-baris pada bait terakhir puisi ini.

Artinya, seberapa pun besarnya power, ia tak bisa mengakar ke rakyat jika yang ditanam bukan pohon kesejahteraan.

Jadi, apakah Rohan masuk golongan penyair ekspresionisme?
Tidak sepenuhnya bisa dikatakan begitu.

Namun setidaknya, puisi berjudul ‘Firaun, Iblis, dan Ken Arok’, ‘Robek-Robeklah Dadaku’, ‘Soekarno Bapakku’, ‘Indonesia Adalah Saraswati’, ‘Dari Sini Indonesia Masih Ada’, dan beberapa lagi puisi di buku Bicaralah yang Baik-Baik, eksistensi elemen-elemen ekspresionisnya tidak dapat disangkal. (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *