Rezim penguasa saat ini “buta pada realitas” dan “tidak mau belajar”, kebijakan pemerintah gagal menempatkan prioritas kemanusiaan di atas kepentingan politiknya.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Diskusi Kajian Politik Merah Putih 24/5/2026 (Malam Ahad) hadir cukup beragam dari berbagai Perguruan Tinggi (karena anggotanya memang seluruhnya dari mahasiswa).
Pengantar diskusi oleh salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mengaku sebagai salah satu Anggota BEM, seperti memberikan tentor arah gerakan mahasiswa ke depan.
Diskusi diawali referensi didasarkan pada fakta, Prabowo Subianto menegaskan: “Jangan sok pinter mengatur saya, kalau anda lebih pinter, kenapa tidak jadi Presiden”.
Prabowo mengucapkan kalimat serupa berkali-kali dalam beberapa pidato publiknya pada 2025, misalnya ketika menyinggung orang-orang yang “terlalu pintar” tapi hanya mengritik tanpa solusi di sejumlah acara seperti HUT Partai Golkar di Istora Senayan (5 Desember 2025).
Beberapa potongan pendek di YouTube/Shorts pidato-pidato lain sepanjang 2025 menunjukkan ungkapan yang sama.
Dalam artikel berjudul “Indonesia’s President Is Jeopardising the Economy and Democracy” bukan sekadar kritik kepada Prabowo Subianto. Itu adalah sinyal, Indonesia akan kolaps atau Indonesia sebagai negara yang sedang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan.
Kritiknyapun menggunakan frase yang menohok seperti “otoriter”, “terlalu boros”, “membahayakan demokrasi”, dan “mengganggu stabilitas ekonomi”.
Alarm yang sedang dibunyikan kepada pasar.
Dalam diskusi sampai pada kesimpulan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah terkena Narcissistic Personality kepribadian yang sangat terfokus pada diri sendiri, merasa dirinya paling tahu, paling penting dan sudah tidak dibutuhkan lagi saran dan kritik dari rakyat, yang dibutuhkan pujian, tepuk tangab dan pengakuan dari orang lain.
Alarm yang berbahaya untuk negara, mendapatkan respon mahasiswa:
– Mahasiswa akan terus melakukan kritik dan akan bergerak lebih ideologis dan terorganisasi, tetap independen sebagai penyambung lidah rakyat.
– Mahasiswa akan tetap bergerak karena melihat situasi politik dan sosial masih “berbahaya” dan perlu kewaspadaan.
– Lawan gangguan dari rezim yang berpotensi akan mengendalikan dan melemahkan gerakan mahasiswa UNIVERSITAS tidak berpotensi melawan kekuasaan.
– Orientasi gerakan sesuai naluri dan alamnya tidak akan melemah, tetapi bergeser dari figur ke narasi dan jaringan yang sudah dibangun.
– Mewakili suara rakyat, gerakan korektif akan lebih keras terhadap kekuasaan yang makin otoriter bahkan mengabaikan aspirasi kritik dari masyarakat (rakyat).
– Akan menjaga konsistensi isu, menghindari personalisasi berlebihan, kritik untuk perbaikan negara dan menjadi kerja organisasi yang tepat sasaran dan terukur.
– Kekuatan gerakan mahasiswa ada pada reputasi keberanian, konsistensi dan independensi. Diakui ada risikonya pada fragmentasi internal dan siklus sorotan media yang cepat padam.
– Politik gerakan, retorika dan strategi komunikasi mahasiswa akan disesuaikan dengan perkembangan yang berbeda-beda dari setiap masa harus berhadapan dengan penguasa.
– Tensinya akan tetap sama harus berhadapan dengan kekuasaan yang makin otoriter, melemahkan demokrasi, mengabaikan amanah rakyat, kebijakan pemerintah yang gagal melindungi hak hak rakyatnya.
Rezim penguasa saat ini “buta pada realitas” dan “tidak mau belajar”, kebijakan pemerintah gagal menempatkan prioritas kemanusiaan di atas kepentingan politiknya.
Akhir-akhir ini lebih berbahaya, kebijakan penguasa sudah menjual kedaulatan negara.
Perjuangan mahasiswa tidak akan pernah padam, untuk membela dan berpihak pada kejujuran, keadilan dan amanah konstitusi sesuai Pembukaan UUD 1945.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi