Ada joke di kalangan pelaku pasar. Investor itu laksana cewek cantik. Ia suka bunga, suka cokelat, suka traveling, suka kuliner, suka shoping. Tapi, di antara semua kesukaan itu hanya ada satu yang paling dia suka, yaitu kepastian.
Oleh: Dhimam Abror Djuraid
KEMPALAN: Anda mungkin pernah melihat meme di media sosial, bunyinya, ‘’Prabowo pidato, kiamat maju sehari’’. Atau ada bemper sticker, bunyinya, ‘’Tips hidup sehat: Jangan dengarkan pidato Prabowo’’.
Meme terbaru, ‘’Prabowo No Mics’’. Ada foto Prabowo. Ada tulisan ‘’No’’. Ada gambar mike atau mikrofon. Lucu. Tapi menyengat. Kreatif. Sekaligus menohok.
Prabowo No Mics adalah plesetan dari ‘’Prabowonomics’’, kebijakan ekonomi ala Prabowo Subianto. Istiah ini mengadopsi kebijakan ekonomi Indonesia yang telah lebih dulu popular.
Pada zaman Orde Baru ada ‘’Widjojonomics’’, mengacu pada kebijakan ekonomi pertumbuhan yang digagas oleh arsitek ekonomi Orde Baru Widjojo Nitisastro.
Ada juga Haibienomics, model Pembangunan ekonomi ala B.J Habibie yang fokus pada pembangunan ekonomi berbasis teknologi tinggi, seperti pembuatan pesawat terbang.
Prabowonimics adalah kebijakan ekonomi ala Prabowo yang – katanya – berfokus pada ekonomi kerakyatan. Program andalannya MBG dan Koperasi Merah Putih. Lalu, ada Sekolah Rakyat, ada Sekolah Garuda, dan beberapa program populis lainnya.
Masih ada lagi pogram ekonomi Prabowonimics, yaitu Indonesia Inc, menyatukan seluruh perusahaan negara dalam sebuah wadah korporasi raksasa bernama yang Danantara.
Terbaru, Prabowonomics memperkenalkan ‘’one gate system’’, sistem satu pintu. Semua ekspor komoditi harus lewat satu pintu yang dikelola BUMN.
Ada yang bilang – misalnya Said Didu – bahwa Prabowonomics bagus. Tapi saat pelaksanaannya jelek. Makanya Said Didu berkampanye supaya Prabowo tidak dijatuhkan di tengah jalan.
Mungkin Said Didu punya agenda sendiri. Siapa tahu. Tetapi reaksi paling jujur –tentu saja – adalah reaksi pasar. Atau – kadang-kadang – dari netizen. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi patokan paling sahih terhadap kebijakan ekonomi Prabowo.
Ketika Prabowo pidato kenegaraan di DPR 16 Agustus 2026, indeks melorot. Ketika Prabowo berpidato di depan Munas HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di Lampung, pasar yang sebelumnya relatif anteng menjadi bergejolak lagi.
Netizen tidak pernah puas. Meme bermunculan lagi karena Prabowo salah hitung: 10 + 6 = 17. Prabowo bingung. Pasar bingung. Netizen terbahak-bahak. Ditambah lagi dengan kenaikan harga Pertamax. Publik makin riuh. Pasar bingung mencari kepastian. Indeks pun lemot.
Yang terjadi bukan hanya soal kebijakan ekonomi. Tetapi, soal komunikasi politik. Kritik terbesar terhadap Prabowo bukan semata-mata soal Prabowonomics. Yang paling banyak dipertanyakan adalah ketidakpastian implementasi, besarnya untuk kebutuhan anggaran, kekhawatiran tata kelola, dan juga komunikasi yang bisa menimbulkan interpretasi berbeda-beda di pasar.
Karena itu muncul meme seperti “Prabowo No Mics“. Bahwa IHSG turun setiap kali Prabowo berpidato. Meme itu mencerminkan sentimen netizen dan pelaku pasar. Tapi tidak otomatis membuktikan hubungan kausalitas langsung antara pidato Prabowo dan pergerakan pasar saham.
Pergerakan pasar dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, suku bunga AS, harga komoditas, arus modal asing, kondisi fiskal Indonesia, dan sentimen geopolitik.
Kendati begitu, bahwa persepsi investor memang penting. Jika pidato dianggap menimbulkan ketidakpastian, pasar dapat bereaksi negatif meskipun faktor lain juga berperan.
Kritik muncul karena dalam beberapa pidato Presiden Prabowo terlalu banyak menonjolkan program baru, kurang menjelaskan sumber pembiayaan, kurang memberikan detail implementasi, dan menimbulkan kekhawatiran mengenai disiplin fiskal.
Karena itu kemudian muncul lagi isu reshuffle. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dianggap ugal-ugalan dan tidak punya disiplin fiskal. Katanya pasar rindu akan kebijakan ekonomi yang pelit ala emak-emak seperti yang selama ini diterapkan oleh Sri Mulyani.
Maka nama Chatib Basri pun diisukan muncul sebagai kandidat. Chatib sendiri membantah. Tapi spekulasi tidak berhenti. Sekarang muncul nama Budi Gunadi Sadikin. Basisnya dia banker. Tapi dianggap sukses menjadi Menteri Kesehatan. Sekarang diisukan akan menjadi Menteri Keuangan.
Tapi Purbaya kelihatannya masih kuat. Setidaknya dia masih senyum-senyum, meskipun sudah agak berkurang. Purbaya tidak popular di mata pasar. Tetapi, popular di mata publik.
Namanya sudah masuk ke bursa calon Wakil Presiden. Prabowo mungkin menghitung faktor itu kalau hendak melakukan kocok ulang lagi. Alih-alih menghasilkan ketenangan malah muncul gejolak dan ketidakpastian baru.
Ada joke di kalangan pelaku pasar. Investor itu laksana cewek cantik. Ia suka bunga, suka cokelat, suka traveling, suka kuliner, suka shoping. Tapi, di antara semua kesukaan itu hanya ada satu yang paling dia suka, yaitu kepastian.
Meskipun tiap hari dimanja dengan berbagai hal yang menjadi kesukaannya, tapi kalau tidak diberi kepastian, si cewek akan lari. (Kempalan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi