SIDOARJO—KEMPALAN : Teater Ambigu SMAN 1 Sidoarjo (Smanisda) merayakan perjalanan 20 tahunnya dengan mementaskan drama kolosal bertajuk “Bidas” di aula sekolah, Jumat (22/5/2026).
Sebanyak 412 siswa kelas XI memadati ruangan dan menjadi saksi pertunjukan yang sarat pesan tentang manusia dan alam.
Riuh suasana aula perlahan berubah senyap saat lampu panggung mulai redup dan para pemain memasuki adegan pembuka.
Tepuk tangan penonton langsung bergemuruh, menandai dimulainya pementasan berdurasi satu jam yang berhasil membawa penonton yang semua siswa kelas XI larut tenggelam dalam alur cerita penuh simbol dan emosi.
Drama “Bidas” terinspirasi dari legenda Rawa Pening yang dikemas dengan sudut pandang antroposena.
Kisahnya menggambarkan keserakahan manusia yang mengabaikan keseimbangan alam hingga akhirnya bencana datang sebagai bentuk peringatan.
“Ketika peringatan diabaikan dan keseimbangan dilupakan, maka alam tidak lagi datang sebagai pelindung, melainkan sebagai peringatan,” ucap salah satu aktor dalam adegan pembuka.
Tak hanya menyuguhkan cerita, pementasan itu juga menghadirkan tata artistik yang kuat. Permainan cahaya, musik pengiring, kostum, hingga penghayatan para pemain membuat suasana panggung terasa hidup dan dramatis.
Pertunjukan teater sekolah itu menjadi bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi “Mementaskan Drama dan Menonton Drama”. Namun, metode belajarnya dikemas melalui pertunjukan langsung membuat siswa lebih antusias dibanding sekadar menerima teori di dalam kelas.
Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Sidoarjo, Amir Ali SPd, mengatakan pengalaman menonton drama secara langsung membantu siswa memahami unsur dramatik secara lebih nyata.
“Melalui pertunjukan ini siswa bisa melihat langsung bagaimana karakter dibangun, dialog dimainkan, hingga pesan dalam cerita disampaikan kepada penonton,” ujarnya.
Amir yang juga menjadi pembina Teater Ambigu sejak 2002 menambahkan, seluruh siswa mendapat 15 pertanyaan terkait pementasan sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran. Mereka juga diminta melakukan swafoto di dalam gedung sebagai bukti kehadiran mata pelajaran.
Sementara, pelatih tunggal Teater Ambigu, Fathur Rohman, menyebut pementasan “Bidas” menjadi simbol perjalanan panjang komunitas teater sekolah yang terus bertahan selama dua dekade.
Menurutnya, Teater Ambigu bukan sekadar wadah seni pertunjukan, melainkan ruang bagi siswa untuk belajar berekspresi dan menyampaikan gagasan melalui panggung.
“Di tangan generasi muda, teater bukan hanya hiburan, tetapi juga media menyampaikan kritik sosial dan pesan tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam,” katanya.
Selama 20 tahun berdiri, Teater Ambigu juga menorehkan sejumlah prestasi. Di antaranya Juara Harapan 2 Festival Teater Pelajar Nasional di Unesa pada 2018 serta Juara Umum Festival Teater Pelajar Jawa Timur tahun 2019. (ntok)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi