Indonesia Saraswati, Indonesia yang Bijak dan Berpengetahuan

waktu baca 3 menit
M. Rohanudin ketika membacakan puisinya 'Indonesia Adalah Saraswati' (*)

KEMPALAN: Orang sering mendengar nama ‘saraswati’, tapi banyak yang tidak paham arti nama itu. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut semacam nama yang beredar di kalangan etnis Jawa atau Bali.

Atau mungkin mereka banyak yang berasumsi bahwa tentu hal itu punya makna, tetapi mereka tidak (benar-benar) berusaha untuk mencari lebih tahu apa sesungguhnya terminologi ‘saraswati’ itu.

Seperti halnya saya, dalam pengertian “sumir” nama ‘saraswati’ sekadar saya pahami sebagai seseorang (wanita) yang sehat secara jasmani. Karena arti ‘saras’ saya maksudkan sebagai ‘sehat’, sedangkan ‘wati’ adalah sesuatu yang dimiliki oleh wanita.

Padahal sangat jauh beda dengan pengertian sesungguhnya.

Tentu saja, sebagaimana biasanya –saat otak saya tak bisa menemukan kosakata lain, termasuk ‘saraswati’ dalam lipatan-lipatan memori– maka Meta AI-lah yang menjadi rujukan. Siapa tahu ada rahasia yang saya temukan disitu.

Maka, ketika saya konfirmasikan apa arti nama ‘saraswati’, inilah jawaban Meta AI :

  1. Dewi Pengetahuan: Melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang luas.
  2. Sumber Inspirasi: Melambangkan kreativitas dan inspirasi dalam seni dan musik.
  3. Kecerdasan: Melambangkan kecerdasan dan kemampuan berpikir yang tajam.

Ketika saya membaca puisi berjudul ‘Indonesia Adalah Saraswati’ pada buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik karya M. Rohanudin pada halaman 22-23, jelas sudah maksud dari puisi yang cukup panjang ini. Ada sesuatu yang agung yang tercermin dari puisi tersebut.

Kalau kita terminologikan, boleh jadi : Indonesia yang mencerminkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang luas.

Dan Rohan mendiskripsikannya ke dalam baris-baris puisi yang termaktup dalam 4 bait yang begitu holistik dan indah.

Pada bait ke-2 misalnya, pilihan kata yang dihadirkan M. Rohanudin tidak hanya naratif mengartikulasikan maksud, tetapi juga menghadirkan kata demi kata yang sarat sublimasi, mencuatkan kristalisasi.

Mari kita cermati baris-barisnya :

Indonesia adalah saraswati
tempat ibu menanak ilmu,
membentang dari sabang hingga merauke
Indonesia adalah ‘saraswati,
tempat padi tumbuh subur dan berbulir penuh
tempat anak sungai mengalir deras berair sebening kaca
tempat anak-anak bertanam dan menjaring akar-akar budaya
lantas menetaskannya dalam tempayan-tempayan kebermaknaan.

Pada baris ke-2 bait ke-4 ini, Rohan menuliskannya dengan cerdas sekaligus bijak : tempat ibu menanak ilmu, membentang dari sabang hingga merauke

Tentu saja M. Rohanudin tidak mengabaikan unsur bunyi yang memiliki peranan penting dalam menghasilkan irama : tempat ibu menanak ilmu.

Perhatikan huruf ‘u’ dalam baris puisi ini, unsur yang menghadirkan bunyi sekaligus irama yang begitu sakral.

Saya tidak tahu apa ini sudah direncanakan Rohan, atau lahir begitu saja secara intuitif.

Buat saya, ini hanya bisa dihasilkan dari sosok yang sudah pada tahap empu, yang lama bergerak dalam jagad olah kata.

Kalau ucapan saya ini diragukan, coba perhatikan pilihan kalimat pada baris 6-7 bait ke-4 puisi ini :

tempat anak-anak bertanam dan menjaring akar-akar budaya/lantas menetaskannya dalam tempayan-tempayan kebermaknaan

Wow… Dahsyat !

Saya rasa benar apa yang dinyatakan Dr. Shafwan Hadi Umry, M.Hum. dosen Pascasarjana UMN Al Washliyah dan Unimed, pada testimoni buku ini (halaman 17) bahwa mitos telah mengubah baik manusia maupun kosmos, disebabkan kita bercita-cita untuk menghubungkan yang beraroma sakral dengan aktual.

Hal ini diindikasikan M. Rohanudin pada bait ke-3 tentang Sumpah Palapa Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara ke dalam perspektif masa kini.

Boleh jadi, ini adalah semacam obsesi Rohan mewakili sebagian besar obsesi bangsa Indonesia, sebagaimana baris 13-15 pada bait terakhir (bait ke-4) puisi ‘Indonesia Adalah Saraswati’ :

Indonesia yang tanpa darah dan airmata
Indonesia yang mengibarkan merah-putih di dadanya
Indonesia yang ber-Ibu bernama pertiwi

Dan tatkala puisi ini di-audio-visualkan Rohan pada channel YouTube ‘M Rohanudin’ dan dibacakannya, makin jelaslah makna puisi tersebut.

Didukung tata cahaya dan soundtrack mumpuni, Rohan membawakan puisi ‘Indonesia Adalah Saraswati’ sepanjang 9 menit 50 detik, didukung penari Lena Guslina, sungguh memukau.

Tiba-tiba saya teringat Rendra ketika membacakan ‘Nyanyian Angsa’.

Wahai, Rohan ! Amboi, Rendra ! (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *