Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 08:08 WIB
Surabaya
--°C

Bocor Alus, Jokowi Terjungkal

KEMPALAN: Bocor Alus adalah program siniar atau podcast yang ditayangkan oleh pawa wartawan Tempo. Siniar ini menjadi lebih terkenal dari Tempo sendiri, karena pola konsumsi informasi yang berubah di kalangan publik. Bocor alus biasanya berisi rumor dan desas-desus politik yang tengah hangat, dan memunculkan sumber-sumber yang selalu disebut sebagai layak dipercaya.

Bocor alus kemudian menjadi kosa kata baru yang direspons gencar oleh netizen. Ada yang membuat ‘’tandingan’’ dengan membuat istilah ‘’bocor kasar’’. Salah satunya ialah Said Didu, manta birokrat yang kemudian menjadi oposisi non-parlementer dari rezim Joko Widodo.

Bocor alus biasanya dipakai untuk menggambarkan ban mobil yang bocor halus sehingga pengemudi tidak merasakannya, tapi tiba-tiba roda menjadi kempes dan bisa membahayakan keselamatan penumpang mobil ketika melaju kencang.

Presiden Joko Widodo dikenal sebagai maestro dalam menyusun skenrio politik untuk kepentingan pribadi maupun dinasti keluarganya. Banyak contoh yang menunjukkan indikasi bahwa Jokowi berada di balik peristiwa politik besar, kendati tidak bisa dibuktikan secara faktual.

Terbaru yang paling bikin gempar adalah pengunduran diri Airlangga Hartarto sebagai ketua umum Partai Golkar. Sepanjang umur Partai Golkar belum pernah terjadi seorang ketua umum mengundurkan diri dengan suka rela sebagaimana yang dilakukan Airlangga. Tidak ada alasan politik apapun yang bisa menjelaskan pengunduran diri itu, sehingga yang muncul adalah spekulasi-spekulasi.

Capaian Partai Golkar dalam pemilu legislatif ini sangat impresif sehingga masuk dalam tiga besar peroleh kursi tertinggi DPR RI. Golkar juga menjadi bagian dari Koalisi Indonesia Maju yang berhasil mengantarkan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran.

Capaian ini seharusnya menjadi modal bagi Airlangga Hartarto untuk bertahan di Golkar. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Airlangga mundur tanpa menunggu munas Goilkar yang sesuai jadwal akan dilangsungkan Desember 2024. Airlangga mundur secara misterius dan munas Golkar dimajukan menjadi Agustus ini.

Sebagai pengganti Airlangga muncul calon tunggal Bahlil Lahadalia yang dikenal sebagai pendukung Jokowi. Munculnya Bahlil semakin memperkuat spekulasi bahwa Jokowi berada di balik pendongkenal Airlangga. Tetapi spekulasi itu hanya tinggal spekulasi yang tidak bisa dibuktikan secara faktual. Spekulasi yang berkembang mengatakan bahwa Jokowi akan menjadi ketua dewan pembina Golkar, posisi yang sangat powerful di masa Orde Baru. Posisi yang sekarang ditempati Agus Gumiwang hanya transisi.

Jokowi juga disebut sebagai mastermind dari kemenangan Prabowo-Gibran. Jokowi juga yang disebut mendesai Gibran supaya bisa menjadi wakil presiden. Dimulai dari dugaan rekayasa keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengubah batas usia cawapres, sampai dengan penolakan gugatan sengketa hasil pilpres oleh pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud, tangan Jokowi disebut-sebut berada di balik semua skenario itu.

Mulus dan rapi. Jokowi juga disebut-sebut berada di balik skenario calon tunggal di berbagai pilkada 2024. Skenario calon tunggal dengan membentuk KIM (Koalisi Indonesia Maju) ternyata terlihat begitu mulus. Contoh kasus yang paling nyata adalah pemilu gubernur Jakarta yang disebut-sebut akan menjadi ajang revans Anies Baswedan vs Jokowi dan kroninya.

Mulanya terlihat hampir pasti koalisi perubahan Nasdem, PKB, dan PKS akan mendukung Anies dalam pilgub Jakarta. Elektabilitas Anies yang sangat moncer menjadi magnet besar untuk menarik dukungan partai-partai politik. PDIP yang seara ideologis berseberangan dengan Anies pun memberikan dukungan kepada Anies. Trio partai perubahan juga menyatakan dukungan kepada Anies.

Jalan Anies terlihat mulus. Tetapi, tiba-tiba jalan itu bergelombang dan membuat Anies terpelanting. Diawali oleh PKS yang dengan berbagai alasan akhirnya meninggalkan Anies. PKB lebih mudah meninggalkan Anies karena memang tidak punya hubungan historis dan psikologis dengan Anies. Partai Nasdem pun ikut lari dari Anies dan banyak yang bisa memaklumi karena DNA Nasdem memang tidak punya kemistri dengan Anies.

Langkah kuda PKS mengejutkan karena berani meninggalkan Anies. Tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali bahwa PKS sudah masuk angina besar sehingga mau bergabung dengan KIM Plus, dan mengambil risiko menghadapi serangan gencar dari pendukung fanatik Anies. PKS keukeuh dan yakin akan bisa mengatasi semua risiko.

Koalisi besar KIM Plus tampaknya sukses menjalankan politik pengucilan, “politics of exclusion” terhadap Anies dan PDIP. Sebanyak 12 partai bergabung menjadi satu dan meninggalkan PDIP sendirian tanpa partner koalisi. Tamatlah nasib Anies dan PDIP.

Skenario Jokowi berjalan mulus untuk mengaleniasi Anies dan PDIP, dan dengan demikian mengeliminias potensi oposisi secara total. Koalisi raksasa KIM Plus tampaknya akan mulus membagi-bagi kue kekuasaan selama 5 tahun ke depan.

Tetapi, seperti kata pepatah, sepandai-pandai Jokowi melompat akhirnya jatuh juga. Politik bajing loncat Jokowi bisa berantakan karena Jokowi terpeleset. Skenario yang disusun rapi ternyata bocor alus, dan bisa menghancurkan bangunan koalisi besar yang terlihat kokoh dan tidak tertandingi seperti jargon produk semen.

Bocor alus ini tidak main-main. Bocor alus ini ibarat bocoran sebesar ujung jarum dalam sebuah dam raksasa yang menahan jutaan ton kubik air. Bocor alus ini akan dengan cepat menjadi bocor kasar yang bisa merusak dan menjebol dam dan akan menghancurkan dam dan menyebabkan banjir bah yang tidak bisa dikendalikan.

Bocor alus itu datang dari Mahkamah Konstitusi (MK). Lembaga tertinggi pengawal konstitusi ini seolah-oleh sudah dikuasai dengan mulus oleh skenario Jokowi. Penempatan Anwar Usman sebagai ketua MK dan pernikahan Anwar Usman dengan adik Jokowi dianggap sebagai skenario hebat oleh seorang sutradara politik kelas wahid.

Hal itu terbukti dari keputusan MK yang meloloskan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden. Amarah publik yang besar tidak bisa mengubah keputusan itu. Anwar Usman dikorbankan sebentar, seperti seorang pemain sepak bola yang terkena kartu kuning, Anwar Usman diparkir sebentar.

Jokowi bergerak all out untuk memenangkan anaknya menjadi wakil presiden. Segala macam resource dan kekuasaan ia kerahkan untuk memenangkan anaknya, dan menjamin keberlangsungan politik dinasti anak dan menantunya.

Gugatan terhadap kecurangan pemilu yang disebut TSM (terstruktur, sistematis, masif) dimentahkan oleh MK. Banyak yang menyebut MK telah terkooptasi oleh kekuasaan Jokowi sehingga dengan mudah dijadikan alat stempel untuk menjustifikasi skenario politik Jokowi.

Mahkamah Agung (MA) juga tidak luput dari kooptasi Jokowi. Keputusan MA yang memperbolehkan calon kepala daerah berusia di bawah 30 tahun disebut-sebut sebagai skenario Jokowi untuk memuluskan jalan Kaesang Pangarep menjadi kepala daerah. Kaesang disiapkan dua tempat, Jakarta atau Jawa Tengah. Skenario ini terlihat mulus, karena sangat mungkin akan muncul calon tunggal di poilkada Jawa Tengah.

Tetapi, skenario Jokowi ternyata bocor alus. MK memutuskan ambang batas dukungan pilkada bukan 20 persen, tetapi 7,5 persen. MK juga menganulir keputusan MA dengan tetap memberlakukan batas minimal usia kepala daerah 30 tahun.

Bocor alus MK ini berpotensi merusak seluruh skenario Jokowi. Anies dan PDIP yang semula teralienasi mendadak hidup kembali dan memunculkan ancaman yang bisa merusak skenario Jokowi secara total. Sangat mungkin PDIP akan mencalonkan Anies berpasangan dengan kandidat dari PDIP.

Bocor alus itu bisa menjadi gelombang tsunami yang bisa membuat skenario politik Jokowi hancur berantakan, dan dia ikut terjungkal. ()

Dhimam Abror Djuraid

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.