Ternyata Seorang Pelukis

waktu baca 4 menit
Virgorina "Hence" Hendrianti melukis on the spot di Balai Pemuda Surabaya (*)

KEMPALAN: Beberapa kali saya jumpa dengan sesosok beraura aristokrat, berkulit kuning, modis, dan bertubuh semampai — pada pembukaan sekian pameran lukisan di kota Surabaya.

Selain aura aristokratis dan wajah netral karismatik –dalam 3 tahun terakhir– acapkali menggiring saya menuju sesuatu yang menyita perhatian. Mungkin karena faktor: ramah.

Ilustrasi di atas lantas melahirkan imajinasi tentang siapa sosok sosialita ini? Mengapa sering saya jumpai di sejumlah ‘event’ pameran lukisan, terutama pada saat ‘opening’.

Dari sekira 3-4 kali perjumpaan tanpa perkenalan, dan dari 2-3 orang pelukis sahabat saya, barulah saya tahu bahwa sosok yang rasanya ‘untouchable’ ini ternyata juga seorang seniman, tepatnya : pelukis.

Semula saya menduga, jangan-jangan sosok ini istri pejabat atau nyonya pengusaha. (Bisa jadi betul, kan saya belum menanyakan hal itu).


Sekira 1,5 tahun lalu, saya minta tolong rekan Muit Arza salah satu pelukis yang penggiat ‘event’ seni rupa untuk menghubungi sosok ini –o iya, saya baru tahu nama lengkapnya: Virgorina Hendrianti biasa dipanggil Henny atau Hence– agar bisa melakukan liputan untuk channel YouTube saya. Tapi saat itu, sosok ini belum bisa memenuhi karena sedang sakit. Giliran bisa, ganti saya yang jauh dari sehat. (Sekedar catatan, tahun 2023 saya diopname 3 kali).

Saat saya diminta tolong Mas Hamid Nabhan pelukis yang belakangan rajin menulis artikel seni rupa untuk membuka pameran lukisan cat air karya Nio Nova Christiana di Galeri Merah Putih 15 Juni 2024, saya jumpa lagi dengan sosok ini. Saat itu Hence sedang melukis ‘on the spot’. Setengah jam sebelum acara dimulai, saya gunakan untuk ngobrol dengannya.

Sarjana psikologi ini ternyata memang berjiwa seni sejak taman kanak-kanak dimana ia suka menari hingga menjadi penari profesional sampai jelang menikah.

Selain menari, juga bisa memainkan piano, karena orang-tuanya Ir. H.R. Henry Soekirno & R.A. Titik Lintang Trenggonowati, SH. mewajibkan Hence untuk kursus piano dengan menghadirkan guru piano ke rumah.

Sebagai ilustrasi, sebagaimana diceritakan Hence, orangtua dan adik-adiknya bisa berolah vocal dan memainkan peralatan musik seperti biola, piano, gitar, dan drum.

Dari keluarga besar garis keturunan ibu, sebagian banyak menggeluti seni teater, melukis, dan musik. Sedangkan eyang putri yang meski ibu rumah-tangga, dikenal sebagai sosok yang sehari-hari melukis.

Lantas kapan Mbak Hence memutuskan untuk menjadi seorang pelukis? “Sejak tahun 2011,” ujarnya kalem namun menyiratkan sikap tegas.

Apa penyebabnya? “Ndak tahu, tiba-tiba saya pingin beli cat minyak…,” ujarnya di sela aktivitas ‘on the spot’ itu.

Pada perkembangannya, akhirnya Hence menyadari bahwa lingkungan yang disiplin, perfeksionis — butuh penyeimbang. Dan itu didapatkannya dari melukis serta lingkungan seniman yang senantiasa rileks sarat kekeluargaan.

Ia mengaku belajar melukis secara mandiri, dimulai ‘basic drawing’, lantas berlatih menggambar dan melukis realis untuk mematangkan anatomi mahluk hidup, melatih mata untuk menangkap detil objek, juga mengenal komposisi dan lain-lain, dengan menggunakan pensil atau cat. Secara lebih detil, media ‘favourite’ yang sering digunakannya ialah cat minyak, cat air, dan sesekali cat akrilik.

Tahun 2011 – 2015 dikatakannya sebagai periode orientasi, masa belajar. Dan sejak tahun 2016 ia memutuskan total berkarya dalam seni lukis.


Pada awalnya sosok ini condong ke aliran realis. Lantaran persoalan “rasa”, Virgorina Hendrianti lebih cocok dengan aliran impresionisme. “Mungkin karena karakter saya yang menghentak-hentak,” ujarnya sedikit tersipu, disusul senyumnya.

Obyek yang dilukisnya paling banyak adalah ‘city space’ dan ‘human interest’. Dan sejak ia mulai melukis pada tahun 2011, sudah puluhan pameran lukisan yang diikutinya.Tahun lalu Hence berpameran tunggal di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya, dengan tajuk : Dua Sisi. Penjudulan ini sebagai gambaran sisi spritual sekaligus sisi perjalanan karya.

Berapa Mbak karya lukisan yang sudah dihasilkan? “Sekitar 350 “.


Sang surya makin condong ke ujung barat, panitia pameran tunggal Nova Christiana terlihat makin sibuk, tanda-tanda ‘event’ ini ‘opening’-nya akan segera dimulai. Saya pun segera berdiri dengan sebelumnya memberi ucapan terima kasih karena sudah bersedia saya wawancarai.

O iya, apakah sosok yang penampilannya mengesankan berusia 40-an tahun kendati realitasnya sudah 53 tahun adalah istri pejabat atau nyonya pengusaha, sebagaimana saya singgung pada alinea ke-5 di atas? Nah, ini yang saya tidak tahu. Soalnya lupa menanyakan. Maaf.

Amang Mawardi, penulis, tinggal di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *