Biden, Gus Dur, dan Prabowo

waktu baca 4 menit
Biden, Gus Dur, dan Prabowo (*)

KEMPALAN: Pemilu presiden Amerika Serikat November mendatang diwarnai dengan partai revans, partai balas dendam, antara petahana dari Partai Demokrat Joe Biden melawan penantang utama Donald Trump dari Partai Republik. Meskipun pemilu masih lima bulan lagi, tetapi aroma pertempuran keras sudah tercium sekarang. Donald Trump sebagai penantang sangat optimistis bisa melengserkan Biden. Sementara Biden sebagai juara bertahan mati-matian mempertahankan diri dari serangan Trump.

Debat pertama antar kandidat sudah dilaksanakan di Georgia (27/6). Biasanya debat pertama dianggap sebagai warming up, pemanasan, saling menjajaki kemampuan dan kelemahan lawan. Siapa yang dijagokan menang pada pemilihan November masih jauh panggang dari api. Tapi, pilpres kali ini beda. Dari debat pertama itu Donald Trump dianggap unggul mutlak, sementara Biden hanya bisa bertahan total.

Salah satu isu utama yang membuat Biden terdesak hebat adalah masalah kondisi kesehatan. Selama empat tahun memerintah Biden berkali-kali mengalami insiden karena kondisi fisiknya yang bermasalah. Dalam banyak kesempatan Biden terlihat blank ketika sedang berpidato dan sering salah sebut nama dan data.

Biden pernah terjatuh di podium saat berpidato. Biden juga pernah terjatuh saat bersepeda. Dalam beberapa kali pidato kenegaraan Biden salah omong. Ketika diwawancarai jurnalis beberapa kali Biden tidak fokus dan tidak konsen.

Di usianya yang ke-81 Biden sering terlihat ringkih dan setengah pikun. Trump yang hanya berselisih 3 tahun lebih muda, terlihat lebih segar, kokoh, dan agresif. Dalam setiap kesempatan Trump menyerang Biden dan menyebutnya not fit to govern, tidak layak memimpin.

Puncaknya terjadi pada debat pertama minggu lalu, setelah dua calon itu mendapat rekom dari masing-masing partai. Dalam debat itu Biden beberapa kali kehilangan konsentrasi dan bahkan blank, kosong tidak tahu haru berkata apa. Sementara Trump dengan penuh percaya diri terus menyerang dan memojokkan Biden dengan menyebutnya presiden terburuk sepanjang sejarah Amerika.

Pendukung Biden dan para ahli strategi Partai Demokrat panik karena melihat Biden sangat rentan terhadap serangan agresif Trump. Sebenarnya kondisi Trump juga sangat rentan karena ia terbukti bersalah dalam kasus suap bintang porno Stormy Daniels, yang mengaku pernah berhubungan seksual dengan Trump dan kemudian diberi uang tutup mulut supaya tidak membocorkan rahasia. Trump juga menghadapi 34 tuduhan felony, kejahatan serius, yang bisa membuatnya masuk penjara puluhan tahun.

Tapi Trump tetap percaya diri dan seolah tidak bersalah sama sekali. Biden malah sering gagap kalau diserang mengenai kasus Hunter Biden, anak laki-lakinya yang suka mabuk, main perempuan, dan memakai narkoba. Hunter sekarang diadili karena memakai pengaruh bapaknya untuk kepentingan bisnis pribadi.

Karena kondisi ini maka serangan Biden terhadap rekor moral Trump menjadi seperti peluru kosong yang tidak mempan terhadap Trump. Serangan Biden yang menyebut Trump seperti kucing liar karena doyan main perempuan seolah angin lalu. Bagi pemilih Amerika, kondisi kesehatan Biden yang buruk jauh lebih mengkhawatirkan ketimbang akhlak Trump yang bobrok.

Seruan dan tuntutan agar Biden mengurungkan niatnya untuk maju lagi bermunculan dengan sangat keras. Koran berpengaruh ‘’The New York Times’’ secara khusus mengadakan rapat redaksi dan menulis dalam tajuk rencananya seruan agar Biden mundur dari pencalonan dan Partai Demokrat mencari pengganti capres baru.

Di Indonesia isu kesehatan seorang presiden menjadi persoalan serius yang berujung pada pemakzulan atau impeachment terhadap Presiden Gus Dur. Masa kepresidenan Gus Dur hanya berlangsung dua tahun sampai 2001. Tetapi, masa yang pendek itu penuh dengan turbulensi politik yang memunculkan perseteruan terbuka antara presiden dengan DPR dan MPR.

Isu kesehatan Gus Dur menjadi masalah serius. Ia mengalami stroke berat dan mengalami kebutaan. Kondisi ini dianggap memengaruhi keputusan-keputusan politiknya yang kontroversial. Presiden Gus Dur kemudian disangka terlibat dalam skandal korupsi yang menyangkut dana Bulog dan bantuan dana dari Sultan Brunei. Akhirnya parlemen memutuskan untuk memakzulkan Presiden Gus Dur.

Pada pilpres 2024 isu kesehatan capres juga menjadi komoditi debat yang panas. Capres Prabowo Subianto diisukan punya problem kesehatan yang serius. Dalam beberapa video yang beredar di media sosial digambarkan Prabowo berjalan pincang, gontai, dan pandangan matanya kosong.

Isu kesehatan Prabowo digoreng habis-habisan oleh lawan-lawan politiknya. Disebutkan bahwa usia Prabowo yang sudah 72 tahun akan menjadi faktor pergantian presiden di tengah jalan. Prabowo akan diundurkan di tengah jalan dan digantikan oleh Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Dibanding dengan Trump yang usianya 79 tahun—atau Mahathir Muhammad di Malaysia yang dua tahun lagi berumur satu abad—Prabowo masuk kategori ABG. Tapi, isu kesehatan itu tetap saja tidak mereda. Sekarang isu itu muncul lagi setelah ada berita mengenai Prabowo yang menjalani operasi besar untuk memulihkan lututnya.

Dalam sebuah rilis resmi Presiden Joko Widodo mengucapkan selamat atas keberhasilan operasi Prabowo dan mendoakan agar Prabowo makin siap mengemban tugas melayani masyarakat Indonesia. Seperti biasanya, netizen berkomentar lucu dan tajam. Salah satunya mengatakan bahwa omongan Jokowi biasanya berarti kebalikannya. Berarti doa Jokowi juga bermakna sebaliknya.

Namanya juga netizen, sering tajam dan nyinyir, tapi sering juga benar. Gegara doa Jokowi itu isu kesehatan Prabowo yang sempat reda sekarang muncul lagi menjadi perbincangan publik.

oleh: Dhimam Abror Djuraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *