Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 07:27 WIB
Surabaya
--°C

Cawe-Cawe dalam Pilpres

KEMPALAN: Isu cawe-cawe dalam pemilihan presiden sedang ramai menjadi perbincangan di Indonesia. Cawe-cawe– dari Bahasa Jawa, berarti intervensi terhadap sebuah urusan—diduga dilakukan oleh pihak yang mempunyai kekuasaan dan ingin mempertahankan kekuasaannya. Dalam kasus Indonesia, Presiden Joko Widodo sebagai petahana diduga melakukan cawe-cawe dengan mengendorse salah satu—atau salah dua—calon presiden pilihannya.

Cawe-cawe dalam pilpres tidak hanya terjadi di Indonesia. Isu yang sama terjadi di Turki yang pekan lalu (15/5) menyelenggarakan pemilihan presiden. Dua kandidat bersaing ketat, yaitu Tayyep Recep Erdogan sebagai petahana, dan Kemal Kilicdaroglu. Keduanya bersaing ketat neck to neck, leher melawan leher, sampai akhir masa penghitungan suara.

Erdogan akhirnya memenangkan persaingan dengan perolehan suara 49,86 persen, sementara Kilicdaroglu mengumpulkan 44,38 persen. Calon ketiga Sinan Ogan mengumpulkan 5,17 persen. Kendati Erdogan menang tetapi pilpres akan digelar dua putaran, karena tidak ada kandidat yang melewati ambang batas 50 persen seperti ketentuan undang-undang.

Putaran kedua akan diselenggarakan pada 28 Mei. Erdogan sebagai petahana justru menjadi underdog karena selisihnya yang tipis dari pesaing terdekatnya. Dengan margin yang tipis itu limpahan suara dari kandidat ketiga yang tesisih akan sangat menentukan. Banyak yang memprediksi bahwa suara kandidat ketiga akan jatuh kepada Kilicdaoglu, karena selama ini mereka semua berada pada barisan yang anti-Erdogan.

Tetapi, Erdogan menegaskan keyakinannya bahwa rakyat Turki tetap akan memberinya mandat untuk kali ketiga. Erdogan sudah menjadi presiden selama 10 tahun dan sekarang berusaha mendapatkan masa jabatan ketiga. Erdogan mewakili kubu muslim melalui Partai Keadilan dan Persatuan (AKP), sedangkan lawan-lawannya berasal dari kubu sekuler dan liberal.

Erdogan mengingatkan berkali-kali kepada pemilih bahwa pilpres Turki kali ini penuh dengan intervensi. Tidak tanggung-tanggung, Erdogan menuding bahwa Amerika Serikat dan sekutunya berada di balik kekuatan yang melakukan konspirasi dan cawe-cawe untuk menggusur Erdogan.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden memang secara terbuka menyatakan ketidaksukaann terhadap Erdogan yang dituduhnya sebagai despot. Sebaliknya, Biden menyatakan dukungannya secara terbuka terhadap lawan-lawan politik Erdogan.

Erdogan dan Kilcdaroglu mempunyai program politik yang berseberangan. Erdogan selama ini menghidupkan politik Islam dan membangkitkan kekuatan pemilih Islam yang tergusur sejak kekhalifahan Utsmaniah tumbang pada 1924. Kilicdaroglu mewakili sayap nasionalis yang ingin mengembalikan Turki sebagai negara sekuler sebagaimana yang dilakukan oleh Mustafa Attaturk.

Erdogan sudah 10 tahun menjadi presiden dan sebelumnya pernah menjadi perdana menteri selama 10 tahun. Selama berada di bawah pemerintahan Erdogan Turki menjadi kekuatan ekonomi dan politik baru yang membuat Amerika khawatir. Turki bangkit secara ekonomi dan politik menjadi kekuatan regional yang mengancam status quo. Turki membina hubungan yang erat dengan Rusia dan mempunyai hubungan mesra dengan Iran. Koalisi tiga kekuatan ini cukup membuat Amerika dan sekutu Eropa dan Timur Tengan tidak nyenyak tidur.

Karena itu Amerika secara terang-terangan tidak menghendaki Erdogan untuk terus berkuasa. Kubu Erdogan menuduh Amerika melakukan intervensi dengan menggerakkan agen-agen menyusup ke Turki dan memengaruhi pemilih. Sebaliknya, kubu lawan Erdogan menuduhnya mendapat dukungan politik dan logistik dari Rusia.

Pemilih Turki dipastikan akan terpolarisasi menjadi dua dalam pilpres putaran kedua. Dalam kampanye terakhir dua tokoh itu melakukan kampanye yang berseberangan. Erdogan melakukan doa bersama di Masjid Haga Sophia, sedangkan Kilicdaroglu nyekar ke makam Mustafa Kemal Attaturk, pendiri republik Turki sekuler.

Erdogan menempatkan diri sebagai pelindung negara-negara Islam di Timur Tengah, sementara Kilicdaroglu lebih condong kepada Amerika dan NATO (Organisasi Pertahanan Atlantik Utara). Salah satu program utama Kilidaroglu adalah mengusir pengungsi Suriah di Turki yang jumlahnya mencapai 4 juta orang. Jika program ini terlaksana diperkirakan akan memicu krisis kemanusiaan internasional.

Amerika dan Eropa memandang Erdogan sebagai pemimpin polulis yang ororiter. Erdogan dianggap mengeksploitasi pemilih muslim untuk memperpanjang kekuasaannya secara tidak terbatas. Amerika memotret Erdogan sebagai pemimpin yang menindas dan ingin memperpanjang kekuasaannya seumur hidup.

Citra itulah yang digambarkan oleh media-media Barat dan Amerika terhadap Turki. Pandangan ini dianggap subyektif dan sarat dengan framing. Amerika Serikat selalu mendiskreditkan pemimpin dunia ketiga yang dianggapnya sebagai pembangkang dan menyebutnya sebagai tiran. Sementara di sisi lain Amerika berhubungan baik dengan pemimpin yang otoriter, tetapi taat terhadap kepentingan Amerika.

Erdogan memang sedang menghadapi persoalan ekonomi yang cukup pelik di Turki. Dalam beberapa waktu terakhir inflasi membumbung tinggi dan daya beli melemah. Cara Erdogan dalam mengatasi bencana gempa bumi di perbatasan Turki dengan Suriah Februari yang lalu juga dianggap kurang efektif sehingga jatuh korban tewas sampai 45 ribu jiwa. Gempa skala 7,7 ini masuk dalam 10 gempa terburuk di dunia selama 100 tahun terakhir.

Isu ekonomi dan penanganan bencana itu seharusnya yang menjadi pokok perdebatan dalam pilpres Turki. Tetapi, yang terjadi adalah pembunuhan karakter terhadap Erdogan secara masif oleh media Amerika dan Eropa yang mewakili kepentingan oligarki dunia.

Rakyat Turki sudah menunjukkan perlawanan yang gagah perkasa. Kemenangan Erdogan pada putaran pertama menunjukkan bahwa Erdogan masih dicintai lebih banyak pemilih ketimbang lawan-lawannya. Sebelum pemilihan presiden diadakan tidak ada satu pun lembaga survey yang mengunggulkan Erdogan. Semua lembaga survey meramal Erdogan akan tumbang satu putaran. Tapi, realitas politik ternyata berbalik 180 derajat dari prediksi lembaga survey dan media yang bias itu.

Cawe-cawe dalam pilpres juga menjadi isu yang santer di Indonesia. Bedanya, kalau di Turki cawe-cawe dilakukan oleh kekuatan asing, di Indonesia cawe-cawe diduga dilakukan oleh presiden Indonesia. lawan-lawan politik Presiden Jokowi menuduhnya telah melakukan intervensi terhadap proses pemilihan presiden.

Penangkapan Menkominfo Johny G. Plate dianggap sebagai shock therapy untuk memaksa Partai Nasdem yang beroposisi untuk menarik dukungan terhadap Anies Baswedan. Lembaga-lembaga survey terkemuka juga mengumumkan hasil survey yang konsisten menempatkan Anies Baswedan pada urutan ketiga, di bawah Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Pemilihan presiden Turki tidak sama dengan pemilihan presiden Indoneia. Tetapi, fenomena cawe-cawe kekuatan besar terhadap calon yang tidak dikehendati tampaknya terjadi di Turki maupun di Indonesia. Aktornya beda dan skalanya beda, tetapi tujuannya sama, yaitu menyingkirkan lawan melalui berbagai cara yang tidak demokratis.

Erdogan di Turki bisa meyakinkan pemilihnya untuk tetap konsisten di tengah berbagai tekanan. Di Indonesia kita akan melihat bagaimana Anies Baswedan melakukan konsolidasi terhadap pendukungnya untuk mengatasi dugaan intervensi itu. ()

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.