Hadiri Ijazah Kubro Pagar Nusa, Presiden Jokowi: Saya Titip Jaga Pemilu Serentak 2024

waktu baca 6 menit
Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum PP Pagar Nusa M.Nabil Haroen menghadiri acara Ijazah Kubro dan Pelantikan Pimpinan Pusat Pagar Nusa Masa Khidmat 2023-2028, Minggu (22/10).

SURABAYA-KEMPALAN: Puluhan ribu peserta yang terdiri dari para pendekar Pagar Nusa hadir di acara Ijazah Kubro dan Pelantikan Pimpinan Pusat Pagar Nusa Masa Khidmat 2023-2028 yang digelar di Lapangan Bumimoro Krembangan, Minggu (22/10) pagi.

Mereka datang dari berbagai daerah di Jatim. Bahkan ada yang dari luar Jatim, seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, dan luar pulau, seperti Kalimantan Utara. Rata-rata mereka sudah tiba dan memadati area Lapangan Bumimoro sejak Sabtu (21/10) malam, karena ingin mendapat barokah dari para kiai.

Pasalnya, dalam Ijazah Kubro ini, para kiai khos akan membagikan air asma yang diambil dari 9 sumber mata air kepada para peserta setelah didoakan. Air asma inilah salah satunya yang ditunggu oleh para pendekar yang hadir. Termasuk Mustafa, pendekar Pagar Nusa yang mengaku dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

“Saya bersama rombongan 57 orang berangkat dari Kabupaten Bantul pada hari Sabtu, 21 Oktober 2023, setelah shalat Dhuhur dengan menggunakan bus. Tiba di Lapangan Bumimoro, Surabaya, malam hari dan bermalam di masjid dekat lapangan,” aku Mustafa yang ditemui usai acara.

Sebenarnya, anggota Pagar Nusa di Bantul jumlahnya ratusan. Tapi karena acaranya mendadak, maka tidak semuanya bisa ikut. “Mudah-mudahan ke depan bisa ikut semua,” ujar Mustafa yang mengaku ditarik iuran Rp 100 ribu per orang untuk bisa ikut ke acara Ijazah Kubro.

Dia bersyukur bisa ikut. Selain mendapat barokah dari para kiai khos, ia bisa melihat langsung wajah Presiden Jokowi dan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju. “Selain itu, saya bisa bersilaturahmi dengan para pendekar Pagar Nusa dari daerah lain,” tuturnya.

Mustafa, pendekar Pagar Nusa dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Acara ini memang dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Yang istimewa, Jokowi hadir dengan mengenakan pakaian kebesaran Pagar Nusa berupa jas warna putih, dengan sarung dan selendang warna hijau, serta peci hitam di kepalanya.

Di jas warna putih tersebut terdapat logo lambang Pencak Silat Pagar Nusa di dada kanan. Lambang itu berupa bola dunia yang di dalamnya terdapat garis lintang, garis bujur, garis khatulistiwa, serta trisula di tengahnya.

Selain itu, terdapat sembilan bintang yang melingkari bagian atas bola dunia dengan bintang di bagian tengah atas lebih besar. Sementara di atas sembilan bintang terdapat  tulisan Pencak Silat Nahdlatul Ulama berbentuk setengah lingkaran.
Sedang di bawahnya terdapat tulisan Pagar Nusa.

Sebelumnya, seragam yang sama juga dikenakan Presiden RI Ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat menghadiri acara Munas Pagar Nusa di Pondok Gede, Bekasi.

Tak pelak pakaian seragam yang dikenakan Presiden Jokowi ini mendapat sorotan dari Ketua Umum PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen.

“Sebelumnya presiden yang pertama kali memakai atribut kebesaran Pagar Nusa adalah Presiden Gus Dur. Ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan untuk kami. Semoga Pak Jokowi juga seperti Gus Dur, tetap harum namanya,” kata pria yang akrab disapa Gus Nabil ini  usai acara Ijazah Kubro dan Pelantikan Pimpinan Pusat Pagar Nusa Masa Khidmat 2023-2028 di Lapangan Bumimoro.

“Memang faktanya dulu saat Munas Pagar Nusa di Pondok Gede, itu Gus Dur hadir menggunakan jas kebesaran Pagar Nusa. Itu ada fotonya dan bisa kita tunjukkan. Alhamdulillah hari ini Pak Jokowi hadir menggunakan uniform (seragam) yang sama,” jelas  Gus Nabil.

Biasanya, lanjut Gus Nabil, kalau langkah ulama yang diikuti, itu menimbulkan berkah yang luar biasa. “Kita berdoa saja semoga berkah itu mengalir ke Pak Jokowi,” harapnya.

Selain dihadiri Presiden Jokowi acara ini juga dihadiri
menteri Kabinet Indonesia Maju, antara lain Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum PB Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto, Menteri BUM yang juga Ketum PSSI Erick Thobir, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, dan Menteri PANRB Abdullah Azwar Anas. Sedang dari kalangan Nahdalatul Ulama (NU), hadirKetua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU Syaifullah Yusuf, Ketua Umum PP Pagar Nusa Nabil Haroen, serta Gubernur Jatim yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Selain itu, tampak pula
Panglima TNI Laksamana TNI H. Yudo Margono, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, serta Kepala Staf Angkatan Laut, Angkatan Darat,  dan Angkatan Udara. Mereka berkumpul di Lapangan Bumimor bersama para pendekar Pagar Nusa serta para santri dan santriwati yang datang dari berbagai daerah.

Pendekar Pagar Nusa dari Kabupaten Kendal juga hadir memadati Lapangan Bumimoro.

Dalam sambutannya, pertama Presiden Jokowi menyampaikan selamat atas penyelenggaraan Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa masa Khidmat 2023-2028 yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Santri.

“Ini kita maknai sebagai mewariskan semangat Hari Santri kepada keluarga besar Pagar Nusa,” kata Presiden Jokowi.

Pasalnya, pada 22 Oktober 1945 terjadi penggalan sejarah yang penting. Kala itu  pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasjim Ashari menyampaikan seruhan jihat untuk mempertahankan kemerdekaan.

“Beliau (KH Hasjim Ashari) menyampaikan bahwa melawan penjajah itu adalah fardhu ain. Dan meninggal, gugur, tewas saat berperang melawan musuh itu hukumnya adalah mati syahid,” ujar Jokowi.

Fatwa ini luar biasa. Meskipun hanya bersenjata bambu runcing, para santri mampu mengalahkan tentara sekutu dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, meskipun bersenjata lengkap. Bahkan, perwira tinggi Inggris Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran di Surabaya ini. Karena itu, seruan jihat pada 22 Oktober tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Santri.

Tujuan Hari Santri ini dinilai sangat mulia, yaitu mengingat, mengenang, dan meneladani perjuangan para santri dalam menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi berharap kepengurusan Pagar Nusa yang baru harus mengembangkan program-program yang membentengi nusantara. Menjaga nusantara dari berbagai ancaman perpecahan.

“Karena kita semua adalah satu saudara. Kita semua ini sedulur. Semua adalah saudara sebangsa dan setanah air. Sehingga persatuan yang kuat harus terus kita jaga. Agar kita semakin kuat dan tangguh melewati berbagai rintangan perubahan dunia yang sekarang ini sangat cepat,”  terang Jokowi.

Titip Jaga Pemilu 2024

Jokowi juga titip agar Pemilu Serentak 2024 kita jaga bersama-sama dan kita pastikan berjalan dengan lancar dan baik. Dan memastikan keberlanjutan pembangunan yang telah kita lakukan. Untuk itu, kita harus menolak fitnah, hoax, saling merendahkan dan saling menjelekkan. Kita juga harus melawan upaya-upaya yang mau memecah belah bangsa.

“Kita ini boleh berbeda pilihan. Beda pilihan itu biasa. Beda pilihan itu wajar, tapi jangan sampai mengoyak persatuan
kita. Pemilu adalah ajang kontestasi gagasan dan ide. Menawarkan ide, inovasi, dan solusi sebagai modal untuk melakukan lompatan-lompatan kemajuan. Bukan saling memfitnah,” tegasnya.

“Karena itu, tolong kalau ada yang saling fitnah atau saling menjelekkan di bawah, tugasnya Pagar Nusa untuk mendamaikan. Tugasnya Pagar Nusa untuk menyejukkan. Setuju?” pinta Jokowi yang disambut tepuk tangan dan jawaban “setuju” oleh para pendekar Pagar Nusa yang hadir.

Dua Pertanyaan Berhadiah Sepeda

Di acara ini Presiden Jokowi juga sempat mengajukan dua pertanyaan kepada para pendekar, para santri, dan santriwati yang hadir. “Yang bisa menjawab akan saya kasih hadiah sepeda,” tantang Jokowi.

Untuk pertanyaan pertama, Jokowi menanyakan “Jauh di mata dekat di hati, artinya apa? Pertanyaan ini bisa dijawab oleh Zainal Arifin, santri asal Madura.

Sedang pertanyaan kedua, Jokowi melontarkan, “Apa nama ibu kota Indonesia baru?” Pertanyaan ini pun bisa dijawab dengan tepat oleh Devina, santriwati asal Sidoarjo. Keduanya langsung menerima hadiah sepeda dari Jokowi.

“Terima kasih Pak Jokowi,” kata Devina dengan penuh suka cita usai menerima hadiah sepeda dari Presiden Jokowi. (Dwi Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *