Rabu, 24 Juni 2026, pukul : 12:40 WIB
Surabaya
--°C

Eksklusif! : Tak Bisa Melihat Dunia, Veranica Ingin Dunia Mendengarnya: Kisah Heroik di UTBK UNESA 2026

SURABAYA-KEMPALAN : Dunia bagi Veranica Imanuella Kalameha mungkin tak berwarna, namun ambisinya melukis masa depan jauh lebih terang dari siapa pun. Di tengah riuh rendah perjuangan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026, sebuah narasi ketangguhan tertulis di lantai 4 Gedung Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Kamis (23/4).Vera, begitu ia akrab disapa, bukan sekadar peserta. Gadis berusia 19 tahun ini adalah manifestasi hidup dari perlawanan terhadap stigma. Saat ribuan peserta lain sibuk menatap layar monitor, Veranica “menatap” masa depannya melalui telinga dan jari-jarinya.

Menembus Sunyi Melalui Layar DigitalEnam bulan terakhir adalah saksi bisu kedisiplinan Vera. Setiap hari, minimal tiga jam ia habiskan untuk beradu argumen dengan ribuan baris soal melalui bantuan screen reader. Baginya, Ilmu Komunikasi UNESA bukan sekadar pilihan prodi, melainkan panggung yang ia dambakan untuk membuktikan satu hal: bahwa suara tidak butuh mata untuk bisa didengar.“Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menguasai komunikasi massa. Saya mencintai menulis, saya mencintai public speaking, dan saya ingin dunia mendengar apa yang saya pikirkan,” ucap alumnus SMAN 10 Surabaya ini dengan nada bicara yang tenang namun penuh wibawa.

BACA JUGA  Polsek Gedangan Jadikan Tanaman Jagung, Unggulan Swasembada Pangan Desa Punggul

Keluar dari Zona Nyaman: Pilihan Radikal Sang MusisiKetangguhan mental Vera tidak lahir di ruang hampa. Setelah menuntaskan pendidikan di SLB Harmoni, ia mengambil langkah berani yang mungkin dihindari banyak orang: pindah ke sekolah inklusi saat SMA. Ia sengaja menceburkan diri ke lingkungan non-disabilitas untuk membentuk mental baja.Di balik kemampuannya menganalisis soal, Vera adalah seorang seniman. Jemarinya lincah memetik gitar dan menari di atas tuts keyboard. Baginya, komunikasi dan musik memiliki satu kesamaan: keduanya adalah bahasa rasa yang melampaui keterbatasan fisik.UNESA: Rumah Tanpa Sekat bagi Talenta InklusifPerjuangan Vera di hari ujian berjalan tanpa celah. Hal ini sekaligus menjadi pembuktian bagi UNESA sebagai garda terdepan kampus ramah disabilitas di Indonesia. Didampingi ibundanya yang setia, Vera mengakui bahwa teknologi dan pendampingan di Training Center UNESA membuatnya merasa benar-benar setara.“Pelayanannya luar biasa. Panitia sangat responsif, dan teknologi pendukungnya membuat saya merasa sedang berkompetisi di atas lapangan yang sama dengan peserta lainnya,” ungkap Vera.

BACA JUGA  Pemkot Surabaya Tertibkan 39 Bangli di Asemrowo

UNESA terus mengukuhkan marwahnya melalui tiga pilar keunggulan: Seni Budaya, Olahraga, dan Disabilitas. Kehadiran Veranica di seleksi Ilmu Komunikasi tahun ini bukan sekadar statistik pendaftar, melainkan bukti bahwa UNESA adalah “kawah candradimuka” yang memanusiakan manusia.Bagi Veranica, UTBK hari ini adalah satu langkah kecil. Namun bagi dunia inklusi, tekadnya adalah lompatan besar yang menegaskan bahwa meski ia tak bisa melihat dunia, dunia-lah yang kini harus bersiap mendengar suaranya.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.